Showing posts with label Rating 5. Show all posts
Showing posts with label Rating 5. Show all posts

#88LoveLife Vol. 2: Your Daily Essential for Spread Good Vibes

Sunday, August 28, 2016

Sudah dari lama aku punya buku #88LoveLife, baik versi dari Vol. 01 sampai Vol. 02 yang hadir dengan kemasan fuchsia dan silver glitter-nya. Beberapa waktu lalu aku juga sempat membuat book review dari #88LoveLife Vol. 01, kali ini meski bukan sebuah review buku sebagaimana harusnya, aku mau cerita bagaimana buku yang ditulis Diana Rikasari dan diilustrasikan oleh Dinda Puspitasari ini memiliki pengaruh yang baik dalam hidupku setelah membacanya.


Aku menyukai warna pink, magenta, fuchsia, dan kawan sepermainannya, begitu melihat Vol. 02 akan terbit waktu itu, buku ini langsung nangkring jadi posisi pertama dalam wishlist-ku, dan ya... sampai saat ini aku nggak ingat sudah berapa kali aku membacanya—kadang bisa satu buku penuh dalam sekali duduk atau baca random dengan membuka halaman suka-suka.

Bagiku, #88LoveLife jadi semacam “kitab”, daily essential for always doing positive and good vibes. Aku nggak akan menolak kalau seandainya di tengah banyaknya tugas *padahal baru masuk kuliah, LOL*, disuguhkan buku ini untuk melepas penat sejenak. Bagiku, #88LoveLife jadi bacaan yang menguatkan, bahwa bukan hanya aku satu-satunya orang di dunia ini yang punya masalah sedemikian rupa, Mbak Diana, Mbak Dinda juga, dan banyak pembaca buku ini pasti memiliki permasalahan yang nggak jauh berbeda satu sama lain. Makanya, dari buku ini, aku percaya semua orang yang membacanya bisa saling memberi inspirasi.

[REVIEW] Rahasia Gadis - R.

Thursday, March 24, 2016

Rahasia Gadis
Penulis: - R -
Penerbit: Rafikatama (Print on Demand)
Ilustrasi dan Layout: @carla_han
Tebal: 104 halaman
Terbit: Januari 2016 (Cetakan Pertama)
Rating: 5/5

---
Setiap gadis pasti punya rahasia. Setiap gadis ingin hidup bahagia. Hanya, tidak semua gadis tahu caranya. Rahasia Gadis adalah catatan kisah perjalanan, pelajaran berharga, dan kumpulan rahasia kecil yang akan menjadi semangat dalam setiap harimu. Siapa pun dan bagaimana pun keadaanmu saat ini, kalau kamu masih ingin berjuang demi impianmu dan meraih kebahagiaan dalam hidup, maka buku ini untukmu.

Rahasia Gadis adalah catatan kisah perjalananku, pelajaran berhargaku, dan rahasia hidupku. Tidak masalah kalau kamu adalah seorang pelajar, karyawan, guru, dokter, fashion designer, blogger, make up artist, atau pengacara (beneran atau pengangguran banyak acara) sekalipun. Rahasia Gadis akan menemanimu dalam perjalanan kehidupanmu dan menjadi semangat dalam setiap harimu. Kalau kamu masih berjuang demi impianmu, mendapatkan kesempatan yang lebih baik, dan meraih kebahagiaan dalam hidup, maka buku ini untukmu. A good friend knows your secret, but a best friend will live with your secrets.

[REVIEW] Pulang - Tere Liye

Sunday, December 20, 2015

"Hidup ini adalah perjalanan panjang dan tidak selalu mulus. Pada hari ke berapa dan pada jam ke berapa kita tidak pernah tahu, rasa sakit apa yang harus kita lalui. Kita tidak tahu kapan hidup akan membanting kita dalam sekali, membuat terduduk, untuk kemudian memaksa kita mengambil keputusan. Satu-dua keputusan itu membuat kita bangga, sedangkan sisanya lebih banyak menghasilkan penyesalan." (hal. 262)

Pulang
Penulis: Tere Liye
Penerbit: Republika
Editor: Triana Rahmawati
Cover: Resoluzy
Layout: Alfian
Tebal: 400 halaman
Terbit: Oktober 2015 (Cetakan Ketiga)
Rating: ★★★★★

---

“Ingat, Bujang. Jika kau tidak membunuh mereka lebih dulu, maka mereka akan membunuhmu lebih awal. Pertempuran adalah pertempuran. Tidak ada ampun. Jangan ragu walau sehelai benang.” (hal. 153)

Tokoh utama kita bernama Bujang, remaja kusam tanpa alas kaki dari pedalaman rimba Sumatra yang bertranformasi menjadi “Si Babi Hutan”, tukang jagal nomor satu yang pandai menyelesaikan konflik tingkat tinggi. Berawal dari perburuan babi hutan di sebuah talang di Bukit Barisan, ia berhasil membunuh raja babi hutan demi menyelamatkan Tauke Muda, orang bermata sipit yang bertamu pada bapaknya. Tindakan superiornya tersebut tak ragu lagi membuat Tauke Muda mengajak Bujang pergi ke Kota Provinsi, meninggalkan bapaknya yang lumpuh di kaki dan mamak yang sulit mengikhlaskan kepergiannya.

[REVIEW] Jurus Kuliah ke Luar Negeri - Tim Penulis JKLN

Tuesday, November 10, 2015

There is a place in history waiting for you! (pg. 57)

Jurus Kuliah ke Luar Negeri: Baca Ini Kamu Pasti Kuliah ke Luar Negeri Dijamin 100%
Writer(s): Tim Penulis JKLN (Miftachudin Arjuna, Zulkhan Indra Putra, Stevan Chondra, Muhammad Izdiyan Muttaqin, Adi Atiasa)
Publisher: Inspira Book
Layouter: Gumilang Fachrizal
Cover designer: Zahrina Fanny Aditya
Pages: 302 pages
Published: August 2015 (Fifth edition)
Rating: ★★★★★

---

In my previous post, I wrote book review in English, and so now I’ll write the book review in English again. Because I think, I love to do it and it’s make me more often to use English so well—even sometime I open the translator, LMAO. Hmm, maybe not so good writing, but I’ll try, let’s get started!

Jurus Kuliah ke Luar Negeri is a book that you may know about how to school in abroad, it contain two format, hardcover book and electronic book. What’s the different are how much the content that written in each format.

[REVIEW] #88LoveLife - Diana Rikasari & Dinda Puspitasari

LOVE exists not to takeover your life and make you dependent on it. It exists to free you and make you feel better about LIFE. (#16)

#88LoveLife: 88 Thoughts on Love and Life
Writer: Diana Rikasari
Illustrator: Dinda Puspitasari
Publisher: POP (imprint of Kepustakaan Populer Gramedia)
Editor: Anida Nurrahmi
Pages: 128 pages
Published: January 2015 (Fourth printing)
Rating: ★★★★★

---

#88LoveLife that has written by the famous Indonesian fashion blogger is a compilation of Diana’ thoughts about love and life. There is contain motivation quotes with the cute and colorful illustrations by Dinda Puspitasari. Like Diana’ said, whenever you feel lonely, or need a friend to talk to, this book can be a spark of motivation, or inspiration, or even become your friend.

You can simply one sit reading when read the eighty eight good vibes in this book that written in English—full of English, but you know... there’s deep meaning for each quotes and I feel uplifting and motivating when I understand some quotes. LOL.

[REVIEW] Love With a Witch - Hyun Go Wun

Saturday, April 4, 2015

Keserakahan menjadi salah satu alasan utama di dunia ini seseorang berniat melakukan tindak kejahatan seperti pembunuhan. (hal. 91)

Judul: Love With a Witch
Penulis: Hyun Go Wun
Penerjemah: Ratna Sitta Hapsari
Penerbit: Penerbit Haru
Penyunting: Novianita
Proofreader: Yuli Yono
Cover design: Bambang ‘Bambi’ Gunawan
Ilustrasi isi: @teguhra
Tebal: 320 halaman
Harga: Rp65.000,-
Rating: ★★★★★

---

Apa yang terlintas di pikiranmu ketika memikirkan penyihir — wanita dengan rambut panjang yang sering membawa tongkat sihir dan sapu terbang kemana-mana? Hmm, tapi bagaimana jadinya kalau penyihir yang akan kita ceritakan adalah perempuan baik hati yang penuh keberanian?

Lee Eun Yoo hampir saja mengalami kecelakaan di jalan raya jalur delapan sebelum seseorang menyelamatkannya dari tragedi yang mungkin memilukan. Wanita tersebut, meski tidak yakin akan apa yang dilakukannya, ternyata ia berhasil menyelamatkan anak lelaki berumur enam tahun itu. Wanita pemberani yang bernama Yoon Soo An, si Perempuan Penyihir.

[REVIEW] Orang Jujur Tidak Sekolah - Andri Rizki Putra

Friday, January 30, 2015

Apa yang kita tanam, itulah yang kita tuai. Kadang kita kehilangan karakter diri, integritas, dan kejujuran hanya karena mengikuti tren yang berlaku di masyarakat. Bagaimanapun hasil akhirya, setidaknya hiduplah sesuai dengan nilai-nilai yang kita yakini. (hal. 46)

Judul: Orang Jujur Tidak Sekolah
Penulis: Andri Rizki Putra
Penerbit: Bentang Pustaka
Tebal: xii + 264 halaman
Penyunting: Pratiwi Utami
Desain sampul: Bara Umar Birru
Pemeriksa aksara: Chalida N.A. & Septi Ws
Penata aksara: Adfina Fahd
Rating: ★★★★★

---

“Ki, kalau kamu nggak bisa mengikuti apa yang berlaku di masyarakat (mainstream) maka kamu akan selalu tertinggal.” (hal. vii)

Andri Rizki Putra atau yang akrab disapa Rizki pernah putus sekolah semasa SMA. Keputusan besar dalam hidupnya itu diakibatkan dari rasa marahnya terhadap institusi pendidikan bernama sekolah yang dengan terang-terangan melakukan perbuatan tidak terpuji.

Masa SD, Rizki dikenal sebagai anak yang nakal, ia benar-benar tidak terlalu suka bagaimana cara guru mengajarnya dan tindakan diskriminatif yang ia rasakan. Seperti halnya pada masa SMP, ia juga merasa berang terhadap perlakuan dari orang-orang di sekitarnya yang menyepelekan prinsip yang ia pegang selama ini. Bagaimana bisa, sekolah unggulan yang ia pilih dulu melakukan aksi menyontek massal pada saat Ujian Nasional berlangsung.

Rizki merasa kalah, kalah dengan pendirian orang-orang yang sudah terlalu mengakar kuat karena dilakukan secara bersamaan. Maka, daripada merasa terkunkung dengan sistem sekolah yang tidak ia sukai, di awal semester menginjak SMA, ia memutuskan untuk keluar sekolah.

Suatu keputusan yang sangat besar untuk Rizki saat itu. Namun ia percaya, ia akan bisa menghadapinya. Menunjukkan pada orang-orang bahwa dengan keteguhan prinsipnya itu ia akan bisa lebih baik dari mereka.

Sayangnya, hidup tak selalu seperti apa yang kita inginkan, seringkali saat Rizki mencoba belajar, rasa stres, pesimis, takut, dan khawatir menghantuinya. Takut kalau ia benar-benar tak sanggup menghadapi konsekuensi dari keputusannya sendiri. Takut jika makin banyak orang yang akan mencibirnya jika ia gagal dalam menjalani resiko yang ia pilih. Namun, benarkah hal itu akan terjadi? Lalu akan seperti apa jadinya kisah Andri Rizki Putra ini? Baca selengkapnya di Orang Jujur Tidak Sekolah.

Sejenak aku berpikir, tidak mungkin Tuhan salah menempatkan hamba-Nya. Jika memang akhirnya aku berada di sini, tentu Tuhan tahu bahwa aku mampu bersaing dengan mereka semua. (hal. 93)
Memang benar rupanya, tidak ada hal apa pun atau siapa pun yang dapat mencegah pemberian Tuhan. Jika Ia sudah berkehendak, semua akan terjadi begitu saja meski seberat apa pun hambatan yang harus ditempuh. (hal. 103)

***

It would be a shame if we didn’t finish what we had started, right? (hal. 69)

Belakangan ini, aku mulai mengenal Kak Rizki sebagai seorang sosok yang penuh inspirasi dan motivasi. Dalam projek di blog pribadiku, aku juga pernah menceritakannya disini. Mulanya memang sekadar mengetahui informasinya belaka, tapi makin lama prinsipnya aku teladani pula.

Sekolah adalah institusi pendidikan di mana setiap orang punya kesempatan, hak, dan juga kewajiban mengikutinya. Indonesia sendiri telah menetapkan standar Wajib Belajar 9 Tahun (bahkan dimungkinkan 12 Tahun) bagi siapa saja anak bangsanya, dengan tidak terkecuali. Namun, itu hanyalah sekadar peraturan semata, faktanya tidak demikian.

Seperti banyak kasus yang Kak Rizki jelaskan, sekolahnya sendiri contohnya, masih banyak praktek-praktek yang tidak sesuai dengan peraturan yang diberikan pemerintah. Masih banyak sekolah-sekolah yang banyak menuntut ini-itu pada muridnya, bahkan bisa jadi terdapat diskriminasi. Sayangnya, bukankah sekolah adalah salah satu tempat yang sangat berpengaruh besar dalam pembentukkan karakter diri seseorang?

Lupakan sejenak masalah pendidikan di Indonesia, kadangkala aku merasa geram. Malam tadi saja, kami—teman-teman sekolahku ramai memperbincangkan soal rencana di banyak aspek ala Kurikulum 2013. Katanya, bakal ada Uji Kompetensi di akhir semester 4, dan Ujian Nasional akan dimajukan menjadi Januari 2016. Bagaimana bisa? Tapi baiklah, kesampingkan hal itu sejenak.

Buku ini, banyak membuka hal yang mungkin belum banyak kita tahu. Pernah mendengar UN Kesetaraan? Bagaimana kondisinya? Banyak di antara masyarakat yang menganggap bahwa UN Kesetaraan hanya ditujukan bagi mereka yang putus sekolah, tidak lulus UN sekolah, anak jalanan, dan banyak persfektif masyarakat yang nyatanya keliru. UN Kesetaraan diakui di Indonesia, sama halnya dengan Ujian Nasional seperti yang sering digadang-gadang tiap tahunnya (saking banyaknya masalah).

Namun, yang mengherankan adalah, bagaimana bisa anak yang putus sekolah di SMA, menciptakan kurikulum sendiri, belajar sendiri, mengikuti UN Kesetaraan, bisa lolos masuk Fakultas Hukum UI yang mayoritas diisi dengan anak-anak berotak super? Tentu bisa, Kak Rizki membuktikannya. Di buku ini.

Cerita tentang bagaimana dia mendirikan Masjidschooling dan YPAB (Yayasan Pemimpin Anak Bangsa) juga dituliskannya di buku ini. Kurasa, selain mengenalkan pada pembaca tentang keberadaan sekolah seperti ini, kita juga diajak untuk membuka mata lebih lebar dan lebih peka terhadap apa yang terjadi di sekitar kita.

Jika uang menjadi modal utama untuk bersekolah, maka pendidikan itu sendiri telah mengkhianati ruhnya. (hal. xi)
Namun, uang tetap tidak bisa membeli kemampuan. Kemampuan hanya dapat diraih dengan kerja keras, konsistensi, dan doa. (hal. 31)
Tapi, aku meyakini bahwa kejujuran adalah yang paling tepat. Pad saat yang lain menyontek, aku bertahan untuk tidak mengikuti jejak mereka. (hal. 40)
Negeri ini sudah menderita keterpurukan akibat korupsi, apa harus ditambah lagi dengan generasi muda yang mentalnya bobrok? (hal. 41)
Apa gunanya memiliki nama baik yang dibangun atas kebohongan belaka? (hal. 43)
Namun, aku melihat: belajar merupakan proses pendewasaan diri. Proses bagaimana kita dituntut bersikap dewasa dengan berusaha ikhlas menerima setiap hasil usaha kita. (hal. 109)
Kunciku untuk dapat berteman dengan siapa pun adalah dengan menghindari prasangka yang prematur terhadap seseorang. First impression is not always correct. (hal. 122)
Selama ini kegagalan memulai sesuatu terjadi karena selalu menunda aksi yang telah direncanakan. (hal. 171)
Pede aja dulu! Gagal atau sukses urusan belakangan. Jangan sampai kehilangan momen. Keburu “basi”! Keburu orangnya pergi! (hal. 207)
Kita diberikan Tuhan dua telinga dan satu mulut untuk lebih banyak mendengar ketimbang berbicara. (hal. 218)

***

Siapa Santaku? Kamukah Santaku?

Hello, aku kembali setelah sekian lama aku menunggu sedikit menghilang dari blog buku. Tiba-tiba datang dengan review dan tebakan siapa Santa-ku di Secret Santa BBI 2014 yang lalu?


Jadi, kalau yang kemarin sudah menebak siapa Santa-ku, menurutmu siapa? Dari lambang infinite yang diberikan Santa, awalnya aku bingung harus menebak siapa. Belum banyak member BBI yang aku kenal sepenuhnya, kalaupun kenal ya mungkin baru sebatas teman-teman di sosial media, belum sampai tahu lebih jauh *ditimpuk.


Sempat merasa kewalahan karena hampir saja menyerah, namun setelah mencoba posting foto riddle SS di instagram, akhirnya ada juga yang memberi clue. Aku bingung sih kenapa salah satu member BBI menyebutkan beberapa #TerdugaSanta, kok bisa? Darimana dia tahu ya? Dari sekian banyak peserta SS, kenapa coba harus memilih nama-nama berikut:

Kak Nina, Kak Angela (phie), Mas Tezar, Teh Peni, Kak Alvina, Mbak Ren, Kak Bzee, Kak Hanivah M., Kak Hanum, Mbak Desty, Mbak Lila, Kak Melisa, Kak Oky, Kak Ferina, Kak Atria, dan Kak Ally

Kenapa? Akhirnya setelah diselidiki, SS tahun ini punya circle khusus. Di mana peserta dibagi menjadi beberapa kelompok dan punya satu orang sebagai pembagi antara target dan santa yang dituju.

Hm, dari situ aku mulai menelaah *tsaah mana-mana saja yang terduga santaku lebih kuat.

Kak Nina, Kak Angela (phie), Mas Tezar, Teh Peni, Kak Alvina, Mbak Ren, Kak Bzee, Kak Hanivah M., Kak Hanum, Mbak Desty, Mbak Lila, Kak Melisa, Kak Oky, Kak Ferina, Kak Atria, dan Kak Ally

Yang nggak dicoret, itu yang paling banyak aku kenal. Dan salah satu targetku juga ada di situ, jadi nggak mungkin dong Santa ngasih ke target, dan target ngasih ke Santa? Haha...

Namun, Kak Alvina itu nggak termasuk, karena dia sudah mengakui sendiri kalau dia bukan Santa-ku. Jadi, siapa ya?

Ah ya, sebagai pengingat ini simbol infinite yang Santa kasih:


Petunjuk lainnya adalah bahwa infinite menunjukkan lambang tidak terbatas atau tak terhingga. Maksudnya apa? Nggak tau!

Terus, Santa nyuruh aku melihatnya dari sudut pandang lain. Yang kutemukan adalah angka 8 atau bisa jadi kacamata? Mungkin!

Kalau dari satu circle, yang menghubungkan kami selain BBI adalah nomor member, reading challenge, atau meme. Bener nggak? Bisa jadi!

Dan terakhir, aku ingat Santa kirimnya pakai Tiki. Eh, ini mah nggak penting ya.

Cuma, aku ingat siapa yang banyak kaitannya dengan ini. Beberapa waktu lalu, aku pernah jadi pemenang Giveaway Hop: Rainbow for August, Agustus bulan kedelapan kan ya, tepatnya yang punya nomor member 1301008 dan dia berkacamata nggak sih?

Walaupun nggak masuk akal, atau deduksiku yang kurang, nggak papa deh. At least, aku punya dugaan besar kalau Santaku

Mbak Ren Puspita

Kenapa harus nebak dia? Ya karena kriteria dan petunjuknya sebagian besar mengarah ke Mbak Ren. Kalau benar, syukurlah, anyway terimakasih hadiahnya. Kalau boleh jujur, Syifa baru baca ini karena sibuk. Hehe..., maaf ya ^^v Kalaupun salah, maafkan juga, karena telah menuduh *haha*. Pokoknya, siapapun Santaku yang tepat, thanks a bunch :*

by.asysyifaahs(◕‿◕✿)

[REVIEW] Cheeky Romance - Kim Eun Jeong

Thursday, December 25, 2014

Karena ketika pikiran rasional mengambil alih, maka itu bukan cinta. Cinta bukanlah sesuatu yang bisa sepenuhnya diatur oleh pikiran manusia. (hal. 320)

Judul: Cheeky Romance
Penulis: Kim Eun Jeong
Penerjemah: Putu Pramania
Penerbit: Penerbit Haru
Tebal: 447 halaman
My Rating: ★★★★★

---

Yoo Chae baru saja mengetahui bahwa kekasihnya, Kang Hee Jae telah berselingkuh dengan atasan kerjanya di kantor. Sontak, ia hanya bisa memaki-maki mantannya itu melalui jejaring sosial kantornya. Namun, bukannya meluapkan emosi terhadap masalah itu, ia malah mendapat masalah baru di kantornya. Belum lagi, ketika menjadi reporter di acara “Berburu Informasi, LIVE”, Yoo Chae yang sedang mencoba berbagai makanan tiba-tiba saja dimarahi oleh seorang lelaki yang melarangnya makan makanan tersebut karena katanya makanan tersebut tidak baik untuk kesehatan kehamilannya.
“Kacang merah itu tidak hanya bisa memperlambat perkembangan janin, tapi juga menimbulkan kontraksi di uterus. Bisa juga meningkatkan produksi hormon yang dapat menimbulkan kelainan pada bayi.” (hal. 42)

Yoo Chae disangka sebagai ibu hamil, hal itulah yang menjadikannya mendapat julukan “Ibu Hamil Nasional”.

Dokter So Yoon Pyo, lelaki yang menuduh Yoo Chae itu malah mendapat dampak yang baik bagi dirinya. Karena dianggap peduli terhadap pasien-pasiennya, ia kemudian dijuluki sebagai “Dokter Nasional”. Walaupun memiliki sifat tidak sabaran, Yoon Pyo adalah orang yang profesional dan perhatian dengan kondisi ibu yang sedang hamil.

“Sepertinya kau ini harus belajar untuk bersabar. Meskipun kau tidak sabar dan ingin cepat-cepat melakukan sesuatu, toh dunia ini tetap berputar dengan kecepatan yang sama di mana pun itu.” (hal. 154)
Berkat kejadian tersebut, citra seorang Yoo Chae mendapat tanggapan yang buruk dari masyarakat. Kantor tempatnya bekerja merasa kurang puas dengan tingkah laku Yoo Chae. Hal itulah yang membuatnya dipindahkan ke kantor cabang daerah di Wonju. Namun, karena masih dirasa ia memiliki kesempatan, PD Nam akhirnya menawarinya untuk menjadi reporter tetap dalam acara dokumenter kedokteran.

“Masih banyak jalan yang harus kulewati di hidupku ini. Fokusku adalah apa yang ada di hadapanku saat ini, sementara hal-hal yang lainnya rasanya ingin kubuang jauh-jauh saja ke luar angkasa. Fiuh...” (hal. 57)
Sial bagi Yoo Chae, ia bertemu lagi dengan lelaki yang menuduhnya sebagai ibu hamil itu. Malah, televisi penyiaran mereka akan bekerja sama dengan dokter spesialis bagian kandungan di Rumah Sakit Taejo. Kini, Yoo Chae dan Yoon Pyo akan saling bertemu setiap hari.

Hanya ada satu cara bagi mutiara untuk menjadi mutiara sejati, yaitu dengan memecahkan cangkangnya dan keluar untuk menunjukkan dirinya sendiri. Ia harus bersinar agar orang lain dapat mengenali ‘nilai’nya, yaitu dengan kerja keras. (hal. 109)
Kesialan belum berhenti sampai di situ, lagi-lagi Yoon Pyo menganggap bahwa Yoo Chae adalah ibu hamil setelah mendengar suara yang aneh dari rental house milik Yoo Chae. Kesalahpahaman itulah yang membuat Yoo Chae semakin benci dengan dokter kandungan itu.

Hari demi hari mereka lewati untuk melakukan syuting acara dokumenter tersebut. Meskipun antara reporter dan dokter kandungan tersebut seringkali tidak akur, kadang ada satu waktu dimana mereka akan saling memahami satu sama lain. Kejadian mulai dari seorang ibu yang akan melakukan persalinan induksi, ibu yang dipaksa melahirkan pada hari tertentu karena kemauan sang mertua, hingga tragedi kelahiran bayi ichthyosis semakin mendekatkan antara Yoo Chae dan Yoon Pyo.

“Pada dasarnya, hadirnya sebuah kehidupan baru memiliki makna yang sangat penting.” (hal. 11)
Namun, ada banyak masalah yang menjadi rintangan kedekatan mereka. Mulai dari perkiraan pendonor So Yeong-eonnie, kedekatan dengan Dokter Hye Rong, hingga masalah pelik yang terjadi antara Yoon Pyo dengan ibu kandungnya sendiri. Akankah Yoo Chae sanggup menghadapi semuanya itu? Bagaimana dengan sekelumit kejadian yang ditakutinya? Baca selengkapnya di Cheeky Romance.

***

Lucu! Seperti yang dikatakan admin @penerbitharu di instagramku, “Admin suka bgt lho novel ini. Jatuh cinta sama dokter Yoon Pyo *emot kiss*”. Aku juga jatuh cinta sama Dokter Yoon Pyo. Walaupun karakternya nggak sabaran dan mudah mengatakan sesuatu tanpa memikirkan akibatnya, ternyata dokter yang satu ini juga romantis, lho.

Karakter Yoo Chae yang diceritakan dalam novel ini juga punya kesan yang menarik. Reporter yang punya banyak ide namun terhalang hanya karena masalah yang menderanya ini ternyata usil juga. Suka deh!

“Kesempatan hanya datang kepada mereka yang sudah siap.” (hal. 108)

Masalah sebenarnya berawal gegara Yoo Chae berteriak-teriak “tidak akan menghapusnya” saat berada di rumah sakit untuk mengantar So Yeong-eonnie, teman yang sekaligus kakaknya yang sedang memeriksakan kehamilannya di RS Taejo. Sontak saja, Dokter Yoon Pyo yang mendengar hal tersebut mengira bahwa Yoo Chae adalah ibu hamil yang ditinggalkan pasangannya karena tidak mau bertanggungjawab. Ckckck, iyalah... Yoo Chae teriak gitu karena dia nggak mau menghapus makiannya buat Hee Jae di jejaring sosial kantornya itu.

Terlebih, saat bertemu lagi di restoran, Yoo Chae yang lagi nyobain makanannya—sup kacang merah, ikan fugu, dan alkohol—tiba-tiba aja dimarahin sama Yoon Pyo. Duuh, apalagi itu kan acaranya disiarkan langsung. Mau taruh dimana muka Yoo Chae ya? Haghaghag.

Jadi, berawal dari kesalahpahaman ini ternyata punya dampak yang besar ya bagi banyak orang. Yang satu sih boleh jadi untung, tapi kan yang lain malah ngerasain ruginya.

“Kau jangan semudah itu mengabaikan masalah orang, atau omongan orang. Kalau semua orang di dunia ini seperti itu, mungkin tidak ada yang mempunyai kemauan untuk peduli terhadap orang lain.” (hal. 134)
Nggak hanya itu, cerita juga nggak sekadar tentang Yoo Chae-Yoon Pyo. Tapi juga soal masalah keluarga Yoo Chae; adiknya Yoo Gyu yang nakal namun tetiba berniat menikahi Eun Yi yang lagi hamil, bibinya yang nggak mau menikah, sampai neneknya yang sering menghilang gara-gara mencari ‘si manis’. Begitupula dengan Yoon Pyo, yang punya masalah sama ibunya sampai rasanya nggak mau lagi berhubungan dengan beliau.

Cerita So Yeong-eonnie yang mendapat donor sperma juga ambil bagian, bahkan cukup menentukan ending ceritanya. Diceritakan nih, kalau So Yeong ini nggak mau menikah karena menganggap laki-laki tuh sama aja, nggak ada bedanya kayak binatang. Meskipun demikian, ia tetap mau punya anak dengan cara mendapatkan donor sperma yang nggak tau asalnya dari siapa. Terus, ada juga Dokter Hye Rong yang sebenarnya nggak bisa disebut mantan kekasih Yoon Pyo sih, cuma.. karena mereka pernah saling dekat dan direncanakan untuk segera mengikat janji, ternyata punya andil yang menarik dalam menciptakan konflik cerita.

“Tapi, mau laki-laki sehebat apa pun, tetap saja mereka tidak bisa membuang sikap mereka yang kadang berubah seperti anjing, kadang seperti manusia.” (hal. 112)

Waah, pokoknya kompleks deh. Selain kisah fiksinya, di sini kita juga bisa mendapatkan secuil ilmu baru soal spesialis kandungan. Contohnya, seperti yang disebutkan di awal, bahwa kacang merah dan ikan fugu itu nggak baik buat ibu-ibu yang lagi hamil, apalagi kalau sampai minum alkohol. Bahaya banget buat kesehatan janin yang dikandungnya kan? Terus, soal kelahiran bayi sungsang yang posisinya cukup mengkhawatirkan kalau dilahirkan secara normal. Ada juga ilmu baru tentang bayi ichthyosis, yakni kondisi bayi dimana kulit mereka seperti sisik ikan. Nggak hanya itu, umumnya bayi dengan kelainan seperti ini juga punya kehidupan yang nggak akan lama. Waah, pokoknya menarik deh, walaupun hanya sedikit tapi kita jadi tahu hal-hal seperti ini kan?

Alur yang maju-mundur-cantik ini nggak akan bikin kita pusing—kecuali aku sendiri sih yang kadang bingung menentukan antara Yoo dan Yoon, nyaris. Latar yang diambil juga mudah untuk dibayangkan, seolah-olah kayak nonton drama Korea. Hihi, mungkin kalau Cheeky Romance jadi cerita dalam K-drama, pasti bakal lebih menarik membayangkannya. Oh iya, di awal bab juga kita disuguhkan dengan kutipan-kutipan yang keren. At least, ini buku yang recommended banget buat para dewasa muda :D

Orang-orang menyebutnya takdir, yang sebenarnya merupakan gabungan dari kesalahan tiap individu. –Oliver Hervord- (Bab 1)

Kemarahan yang memuncak terkadang membuat keajaiban. –Stanislaw Jercy Lac- (Bab 2)

Takdir dapat mengetuk pintu dengan kuat atau dengan lembut. Tergantung dari terbuat dari apakah pintu itu. –Mary von Ebner- (Bab 3)

Segala hal yang kejam adalah sebuah balas dendam –Otto Weininger- (Bab 4)

Balas dendam itu sebenarnya hanyalah bentuk kekanakan dari hati yang masih kekanakan. –Liberal- (Bab 5)

Orang yang jatuh cinta seperti orang yang berjalan dalam tidur. Tidak hanya melihat dengan matanya, tetapi juga dengan seluruh tubuhnya. –D’Aurevilly- (Bab 6)

Ciuman adalah maling yang mencuri hati. –Socrates- (Bab 7)

Rasa cemburu selalu hadir bersama rasa cinta. Tetapi, ia belum tentu pergi dengan rasa cinta itu. –La Rochefoucauld- (Bab 8)

Cinta tidak mengenal aturan. –Montaigne (Bab 9)

Mau diteliti sebanyak apa pun, wanita seperti makhluk yang ‘baru’. –Leo Tolstoy- (Bab 10)

Mengapa orang terjatuh? Supaya ia belajar untuk berdiri lagi. –Batman Begins- (Bab 12)

Tidak ada rahasia. Yang ada hanya sesuatu yang tidak kau ketahui. –Anonim- (Bab 13)

Pacaran itu seperti setan, api, surga, dan neraka. Lalu seperti kesenangan dan penderitaan, kesedihan dan kebahagiaan. Semua ada di dalamnya. –Benfield- (Bab 14)

Gunung tidak akan pernah bertemu gunung. Namun manusia akan selalu bertemu manusia lagi. –Peribahasa Amerika- (Bab 15)

Kekuatan sebuah hubungan percintaan hanya bisa dirasakan oleh mereka yang pernah mengalaminya. –Prevost- (Bab 16)

by.asysyifaahs(◕‿◕✿)

[REVIEW] Priceless Moment - Prisca Primasari

Thursday, October 30, 2014

Bukankah seperti itulah hidup...? Bertemu, membuat kenangan, berpisah, lalu melepaskan? (hal. 293)

Judul: Priceless Moment
Penulis: Prisca Primasari
Penerbit: GagasMedia
Tebal: 296 halaman
Rating: ★★★★★

---

Ditinggal pergi oleh pasangan yang dicintai tentu sangatlah menyakitkan, belum lagi kalau ditiggal pergi untuk selamanya dan ia tak akan pernah kembali. Begitupun halnya yang dirasakan Yanuar Adhyaksa, seorang suami yang ditinggalkan Esther Ariana—istrinya—untuk selama-lamanya. Ia bersama dua buah hatinya, Hafsha dan Feru harus berjuang melalui hidup tanpa seorang istri dan ibu bagi kedua anaknya di sampingnya.

Ada hal yang disesalkan Yanuar ketika ditinggal pergi Esther, ia menyesal karena dulu waktunya lebih banyak untuk mengurusi pekerjaannya sebagai seorang manajer di Ebony & Ivory. Kini, setelah Esther tiada, ia baru menyadari akan keberadaan anak-anaknya yang ternyata lebih membutuhkannya.

Mengapa selalu harus ada yang dikorbankan, atau berkorban, agar seseorang menyadari betapa berharga hal-hal yang mereka miliki...? (hal. 151)
Pekerjaan menuntut Yanuar untuk selalu siap kapan saja, tak jarang harus mengorbankan waktunya bersama Hafsha dan Feru. Namun, sepeninggal Esther, lambat-laun Yanuar mulai mengurangi aktivitas kerjanya dan berusaha untuk pulang dengan tepat waktu. Tak jarang, Wira—adik Yanuar—untuk terus mengingatkannya bahwa ia tetaplah seorang ayah.

“Makin lama kita makin tua, Yan. Makin merasa kesepian. Anak-anakmu akan dewasa dan suatu saat akan ninggalin kamu. Jadi, habiskan waktu sebanyak mungkin dengan mereka selagi bisa.” (hal. 91)
Dari E&I, Yanuar bertemu dengan Lieselotte Larasati, seseorang yang baru saja direkrut CEO E&I untuk mendesain karya baru yang akan ditampilkan dalam pameran mendatang di perusahaannya itu. Lotte punya kepribadian yang selfish dan lebih suka melakukannya semuanya sendiri, tentu ini tidak terjadi dengan begitu saja, ada alasan mengapa Lotte bisa berubah demikian.

“... Kamu punya wibawa, ketegasan, kemampuan. Tapi, tanpa komunikasi, semua itu tidak ada artinya.” (hal. 85)
Walaupun cenderung bersikap egois terhadap rekan kerjanya, dengan mudahnya Lotte akrab dengan kedua anak Yanuar. Beberapa kali, Yanuar merasakan hal aneh ketika bertemu dengan Lotte. Benarkah ia merasa jatuh cinta lagi terhadap perempuan? Bagaimana kenangannya bersama Esther setelah ia tiada? Akankah sosok Lotte menggantikan posisi Esther sebagai Mama dari Hafsha dan Feru? Baca selengkapnya di Priceless Moment.

Orang-orang toh datang dan pergi, sering kali akibat kejenuhan atau mempunyai mimpi yang tidak bisa mereka capai hanya dengan duduk di kubikel setiap hari. (hal. 181)
***

Priceless. Benar-benar priceless dan menakjubkan. Bukan saja tentang kisah cinta antar tokoh, kehadiran suasana kasih sayang dari ayah ke anak membuat buku ini menjadi benar-benar manis dan sweet. Once again, Kak Prisca bisa membuat aku hanyut dalam ceritanya.

Aku memang tidak pernah bisa menjadi seorang suami ataupun ayah, dan tidak akan pernah bisa. Tapi aku tahu bagaimana rasanya menjadi seorang anak. Ya, kisah Yanuar ini betapa mengingatkan kita bahwa ternyata kita tidak bisa menganggap remeh perjuangan seorang ayah. Walaupun perjuangan ibu tentu lebih besar, tapi kalau tanpa ayah, kita tak akan berada di sini bukan?

Setelah kematian Esther karena kecelakaan, Yanuar seolah ditampar dan baru sadar akan siapa dirinya sebenarnya. Kadang, kita memang butuh orang lain dan sedikit mengorbankan sesuatu untuk menyadari siapa kita sebenarnya. Dan begitulah, ia baru memahami semuanya setelah Esther tiada. Bagaimana jadinya kalau bukan seperti ini, tentu buku ini juga nggak pernah ada.

Pilihan pasti selalu ada, bagaimana menentukannya kembali pada prinsip masing-masing. Yanuar yang masih menyayangi istrinya pun tidak begitu saja luluh pada cinta yang lewat begitu saja. Kadang, ia masih tidak yakin akan perasaannya.

Jangan selalu bergantung kepada orang lain. Manusia begitu rapuh. Tak selalu ada yang bersedia membantumu. (hal. 23)

“Benar. Jangan remehkan kemungkinan, sekalipun perbandingannya satu berbanding seribu.” (hal. 103)

Pintu hati manusia bagaikan piñata, yang begitu diketuk dan terbuka lebar-lebar, darinya muncul pernak-pernik manis layaknya permen beraneka rasa. (hal. 157)

“Selama masih mempunyai kenangan, saya tidak akan kesepian,” (hal. 239)

“Banyak orang yang merasa cukup memiliki kenangan. Menurut saya, itu bodoh. Kenangan cuma flesh and blood, nggak bisa diapa-apain. Manusia butuh berwujud lagi.” (hal. 239)

by.asysyifaahs(◕‿◕✿)

[REVIEW] The Power In You - Ollie

Wednesday, October 29, 2014

Love yourself, share the love for others, and that’s how we can be powerful against the world! (hal. 285)

Judul: The Power in You
Penulis: Ollie (Aulia Halimatussadiah)
Penerbit: GagasMedia
Tebal: 288 halaman
Rating: ★★★★★

---

Power itu kemampuan kita dalam mengetahui potensi diri, tahu apa yang ingin kita lakukan, dan berpegang teguh untuk make things happen. Apa sih kekuatan alias power kita dalam hidup ini?

Dalam buku ke-27-nya, Kak Ollie—aku baru sadar ada kesamaan nama setelah membaca profilnya di cover belakang—mengajak kita untuk mengenal lebih jauh terhadap potensi dan kekuatan yang ada pada diri kita sendiri. Mungkin, sebagian di antara kita sudah mengenalnya, tapi kebayang nggak sih sebenarnya masih ada banyak potensi yang belum kita gali dan kita sadari itu?

Jadi, mengetahui apa yang kita inginkan dan paling baik untuk kita, akan memudahkan kita untuk mengambil keputusan yang sesuai dengan fokus hidup kita. (hal. 189)
Nah, melalui What Is Power, kita diajak berkenalan dahulu terhadap hal terpenting apa yang ada pada diri kita ini. Kenapa harus power, kenapa harus memulainya dengan ‘kenapa’, bagaimana kekuatan visi kita, dan bagaimana menantang diri sendiri untuk change your life. Pembuka yang owsom banget!

“You don’t know why you do something, that’s why you’ve never finished anything.” (hal. 7)

Selanjutnya, dalam bab Barriers You Might Face, Kak Ollie memotivasi kita untuk mengendalikan perasaan dan emosional yang kita miliki. Kita nggak mau dong emosi kita nggak terkendali hanya karena kita bingung bagaimana mengatasinya. Nah, disinilah kita bakal tahu bagaimana seharusnya menjadi tuan dari emosi kita sendiri. Dan yang paling penting, jangan jadi generasi ngomel!

Banyak hal yang bisa diselesaikan tanpa memaki. Kata-kata makian tersebut lebih banyak menunjukkan karakter kita daripada orang yang kita maki. (hal. 59)
Bab ketiga adalah Know Our Self, kenali dulu siapa diri kita sendiri. Siapa tahu, kita punya sejuta orang yang kita kenal baik, tapi sendirinya masih bingung dengan who I am. Dalam bagian ini, kita belajar menganalisis hidup kita, passion kita, kekuatan dan kelemahan, potensi, dan prinsip... yang tentunya dari sudut pandang objektif. Yah, kalau kita berkaca secara subjektif sih, apa yang dinilai pasti selalu lebih baik dan nggak ada kurangnya. Agree?

Cintai diri kamu sendiri dulu, sebelum kamu bisa membagi cintamu kepada orang lain. In fact, kamu adalah orang terpenting yang perlu kamu cinta sebelum orang lain. (hal. 110)
Selain itu ada juga bab Principle dan On Track yang masing-masing memberdayakan kita bagaimana tahapan untuk mendapatkan tujuan apa yang kita inginkan. Dalam Work Smart dan Enthusiasm, Kak Ollie juga membocorkan rahasia sukses bin keren nan ajaibnya untuk terus melangkah demi kesuksesan. Dan, yes, di bab Reliance (to self), saatnya kita beristirahat sejenak untuk menilai kembali terhadap apa yang telah kita lakukan sebelumnya. Adakah perubahan, atau masih jalan di tempat aja? Aku pikir, di bab terakhir ini, bisa dikatakan sebagai pendinginan dari step-by-step bab-bab sebelumnya. Disini, Kak Ollie seolah mengajak kita untuk terus menyayangi diri kita sendiri, berusaha menjadi orang yang berpikir positif, selalu gembira, berhenti menyiksa diri sendiri, keep calm, dan yaps, always love yourself.


Walaupun seperti buku nonfiksi-pengembangan diri kebanyakkan—aku ingat dengan buku Dream Catcher Kak Alanda—The Power in You dari Kak Ollie ini tentu punya cita rasa lain yang jadi khas dari buku self-help. Apakah itu? Satu hal yang aku rasakan adalah... Kak Ollie benar-benar menceritakan tentang hobi, passion, dan bukti dari kesuksesannya selama ini.

“Tapi kan memang biasanya gitu!” Jelas yang satu ini beda, seolah aku benar-benar yakin kalau Kak Ollie semacam role model yang—I don’t know why—dia benar-benar mempresentasikan aku ingin kayak dia! Yah, selain hobinya yang membaca, menulis, berbisnis, dan traveling itu—which is yang kedua pertama itu aku banget—aku rasa dia bisa jadi mentor aku. Karena aku percaya, orang yang sevisi dengan kita itu selalu mengerti. Aku tahu Kak Ollie bisa paham walau sebenarnya ini pertama kalinya aku kenal dia (FYI, aku pernah dengar dia sebagai salah satu pencetus kutukutubuku.com dan nulisbuku.com, pernah baca di suatu majalah, tapi nggak inget kalau namanya ‘Ollie’).

Keistimewaan lainnya adalah, di dalam buku ini juga ada semacam ‘lahan kosong’ untuk kita menuliskan apa-apa saja yang ingin kita ceritakan. Dinamakan Practice artinya sebagai latihan, sudahkah kita memahami apa mau kita, dan memahami apa yang disampaikan Kak Ollie sebelumnya.

Intinya, dalam buku ini aku nggak lagi merasa ‘sayang’ untuk mencorat-coret demi menuliskan dan mengisi Practice yang ada—yah walau belum semuanya sih, dan nggak sayang melipat bukunya hanya karena banyak kutipan menarik dan tentunya inspiratif itu.


Ada yang bilang, orang yang mencintaimu akan menerimamu apa adanya, orang yang membencimu akan tetap membencimu, apa pun yang kamu lakukan. Maka, berhenti menjelaskan siapa dirimu dan mulailah banyak berubat. (hal. 3)

Untuk menebar kekuatan, memotivasi orang lain, dan memberi manfaat lebih banyak pada lingkungan sekitar, hal utama yang harus kita lakukan adalah membuat diri sendiri kuat dahulu, baik fisik maupun mental. (hal. 19)

Maka, saat kamu menemukan masalah, bergembiralah karena ini saatnya kamu bisa berkontribusi, mencurahkan tenaga, pikiran, dan perasaan kamu untuk kepentingan diri sendiri dan juga orang banyak. Semangat! (hal. 24)

Setiap orang akan punya opini masing-masing tentang bagaimana kita harus bertindak. Namun, hanya kita yang paling mengerti arah yang ditunjukkan lentera hati kita. (hal. 27)

Life is short, maka gunakanlah sebaik-baiknya. Di usia muda, energi dan ide kita masih berlimpah untuk digunakan. Jadi, manfaatkan kesempatan ini semaksimal mungkin. (hal. 34)

Kalau tahu apa yang kita inginkan, kita akan tetap fokus dan membuktikan baha apa yang kita perjuangkan benar-benar berharga dan layak untuk diteruskan. (hal. 42)

Sukses yang sesungguhnya adalah sukses harian yang kita dapatkan dari hasil memperhatikan hal-hal kecil dalam hidup. (hal. 68)

Setiap orang harus berani bermimpi. Bermimpilah yang BESAR sampai kita “takut” mendengar mimpi kita sendiri. (hal. 136)

Hidup terlalu singkat untuk dijalani sambil menggeret beban begitu banyak dari hal-hal yang nggak kita perlukan, dan nggak menambah manfaat untuk hidup kita. (hal. 151)

When you feel something’s not right in your relationship, it probably is toxic relationship. Talk to your trusted friend/person, mature & more experienced friends to understand the situation. Remember: you are magnificent and you deserve true love in a true healthy relationship. (hal. 164)

Jangan berharap orang lain akan menganggap kamu bisa diandalkan kalau kamu bekerja asal-asalan dan nggak tepat waktu. Always be helpful and useful for someone else. (hal. 168)

You got the idea. Don’t let sadness occupy your mind. Get busy! Life is exciting! (hal. 202)

I’ve learned that enthusiasme is contagious. Surround yourself with enthusiastic people. Always try to pull yourself out of your comfortable sulking cave and shine, like total shine with some thunderlike noises. Be like awakening storm in sunny day. Be disruptive. That’s how you should be. (hal. 218)

Apa yang kita anggap sebuah kegagalan saat ini bisa jadi akan menjadi pelajaran penting yang mengubah hidup kita dan menjadi kenangan lucu di masa depan. (hal. 226)

Keberanianmu untuk berbagi pemikiran dan pengalaman, dapat mengubah hidup orang lain ke arah yang lebih baik. Perkuat diri kamu agar bisa menyampaikan pesan dengan lebih baik. (hal. 237)

Berhentilah menyiksa diri. Jangan jadikan diri kamu sebagai korban. Jadikan diri kamu pemimpin bagi setiap keputusan yang kamu ambil dalam hidup. (hal. 261)

Sesuatu yang terlihat keren itu bukan kebetulan, melainkan hasil dari perencanaan yang matang dan kerja cerdas. (hal. 268)
by.asysyifaahs(◕‿◕✿)

[REVIEW] Fantasy by Novellina A.

Sunday, July 13, 2014

Judul: Fantasy
Penulis: Novellina A.
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tebal: 310 halaman
ISBN: 978-602-030-355-0
Rating: ★★★★★

---

Kisah dimulai dari keinginan Awang untuk mengenal Armitha melalui Davina. Bagi Awang, akan lebih mudah mengenal sosok perempuan judes itu dari sahabatnya. Maka, dimulailah perkenalan seorang cowok SMA yang cukup populer itu dengan dua siswi SMA yang tergolong tidak istimewa, bahkan biasa saja.

“Aku hanya mengetahui perasaanku dan berusaha jujur pada diriku sendiri. Tak perlu menggali lebih dalam akar dimana perasaan itu tumbuh.” (hal. 48)
Perkenalan itu malah membuat Davina dengan Awang lebih dekat daripada tujuan awal keduanya. Lambat laun, ada perasaan berbeda dari Davina, terlebih ketika ia mendengar lantunan komposisi yang Awang mainkan di perpustakaan menggunakan piano yang kabarnya sudah ada sejak zaman Belanda itu. Davina merasa jatuh hati ketika Awang sedang bermain piano saja. Namun, suatu kejadian pada akhirnya membuat mereka bisa saling jatuh hati dan kemudian berpacaran. Di sisi lain, Armitha yang awalnya sasaran kenalan Awang malah setuju saja dan mendukung hubungan antara Davina dan Awang itu, walau di lain hatinya ia merasa cemburu juga.

“Because by playing piano along with his pupils, he wanted to recall himself how to enjoy music purely.” (hal. 83)
Tidak hanya itu, persahabatan mereka kemudian diwarnai dengan kisah bahwa Armitha mulai tertarik untuk bermain piano. Walaupun ia adalah anak dari seorang musisi, tapi kecintaannya terhadap bermusik tidak serta merta membuatnya berlatih serius. Dan karena Awang-lah yang menjadi motivasi Armitha untuk bermain, berlatih, dan menunjukkan permainannya dalam sebuah kompetisi suatu saat nanti.

“Kamu akan lebih mengetahui bagaimana perbedaannya mendengar musik dengan hati atau hanya sekadar dengan telingamu. Telinga hanyalah penerima, namun organ yang sesungguhnya bekerja adalah otak dan tentu hatimu.” (hal. 84)
Armitha dan Awang punya mimpi yang sama, sama-sama ingin melanjutkan kuliah musik di Prancis. Namun, nasib nampaknya jauh lebih berpihak pada Awang karena sebelum lulus SMA pun, ia sudah ditawari beasiswa melanjutkan studinya di Tokyo.

“... Bagiku, sebuah mimpi bukanlah sesuatu yang tidak penting. Mimpi adalah inti dari kehidupan manusia. Aku memulai hidupku dari sebuah mimpi.” (hal. 171)

“Ketika seseorang memiliki banyak mimpi namun terlalu lama berada di comfort zone, harus ada seseorang yang membantu untuk menariknya keluar bukan?” (hal. 271)
Harapan itu pada akhirnya membuat Awang harus rela meninggalkan kedua sahabatnya, Davina dan Armitha. Begitupun dengan kisah cinta yang dijalani bersama Davina, Vina merasa ia tidak sanggup jika harus LDR.

“... Seperti itulah cinta. Kepercayaan total meskipun dia tidak pernah tahu apakah bisa bersamamu lagi. Pengorbanan bukan hanya tentang tindakanmu tapi juga perasaanmu. Saat kamu memutuskan pergi maka yang harus kamu lakukan hanyalah pergi selamanya.” (hal. 281)

Ya, tidak ada yang bisa mengalahkan kebahagiaan saat mengetahui orang yang kita cintai memberikan cinta sama besarnya dengan yang kita beri. (hal. 309)
Tujuh tahun kemudian, keberanian itu muncul lagi. Davina memberanikan dirinya untuk berangkat ke Tokyo dan menemui Awang, bertemu dengannya dan menceritakan mimpi Armitha yang sempat terhenti akibat satu kecelakaan yang hampir saja membuat Armitha tidak ingin lagi bermain musik, bahkan untuk menyentuh piano sekalipun.

Mungkin, jalan terbaik untuk tidak merasakan kesedihan adalah dengan tidak memikirkannya, menjauh dari kenangan, bahkan jika perlu meninggalkan semuanya untuk memulai hidup baru. (hal. 121)
Demi memenuhi keinginan dari mantan kekasihnya itu, maka Awang menyanggupinya walau ia tahu jalan yang harus ia tempuh memang tidaklah mudah. Sejak saat itulah, perasaan hatinya dikorbankan. Dari Surabaya, Tokyo, Singapura, Paris, Berlin, Salzburg, hingga Wina, mereka bertiga berlari menyambut mimpi, mencoba membuktikan bahwa mimpi tidak terlalu jauh untuk digapai selama mereka selalu melangkah untuk meraihnya. Baca kisah selengkapnya dalam Fantasy.

“Suatu hari aku akan bertemu dengannya lagi, entah hanya untuk mengucapkan selamat tinggal lagi atau bersama kembali. Hari itu akan datang. Hari di mana kita akan menjalin takdir kita dengan takdirnya lagi. Love doesn’t conquer all, faith does.” (hal. 127)
***

Aku percaya hati manusia bukanlah air susu yang akan mudah menghitam karena setetes tinta. Akan ada kemungkinan, walaupun sesaat, di dalam hati manusia, ruang singkat untuk kembali merindukan seseorang yang pernah hadir dalam hidupnya tidak peduli betapa pekatnya kebencian yang ia miliki. (hal. 216)
Seingatku, ini adalah Metropop pertama yang aku baca terbitan GPU. Seingatku juga, lini Metropop memang masih baru, atau mungkin aku yang terlalu telat pergaulan. Sejauh ini, karena memang baru membaca satu buku dari lini Metropop, maka bukan nggak mungkin kalau aku bilang buku ini keren.

Bagiku mencintai seseorang adalah memilikinya, berada di dekatnya, bukan melepaskannya hanya karena tidak ingin menjadi beban bagi orang itu. There is no burden in love, because love is always selfish. (hal. 126)
Cerita tentang bagaimana si tokoh berusaha menggapai mimpinya memang sudah banyak beredar di pasaran, tapi cerita tentang perjuangan yang kemudian dikaitkan dengan cerita musik klasik bahkan sampai ke negara asalnya—seperti Wina, Salzburg, Paris, dll—menurutku masih jarang ditemui.

Tidak ada yang lebih menyedihkan selain saat seseorang kehilangan harapan. Ketika seseorang bahkan tidak sanggup memimpikan sesuatu. Ketika tidak ada keyakinan dalam dirinya sendiri bahwa akan ada hari esok, yang jauh lebih baik daripada hari ini. (hal. 133)
Aku suka latar yang ditulis Kak Novellina, dimulai dari cerita SMA sekitar tahun 2005 yang menjelaskan bagaimana ‘kisah dahulu’ dari ketiga sahabat ini, sampai perjalanan mereka yang membawa kita di ‘masa sekarang’, tahun 2012 dan 2013. Walaupun masa SMA-nya bisa dibilang terlalu cepat, tapi menurutku sudah cukup baik untuk menunjukkan bagaimana permulaannya.

Aku sudah bilang belum kalau novel ini ditulis dari segi POV 1 dari 2 tokoh? Yap, perpindahan POV dari Davina ke Armitha juga menurutku cukup sukses dengan jelasnya karakter ‘aku’ yang dimainkan disini—selain karena di bab awal ditunjukkan siapa yang menjadi giliran ‘aku’. Sayangnya, kita nggak menemukan POV dari sudut pandang Awang, padahal kalau digali lebih lanjut lagi, mungkin kita juga bakal tahu bagaimana rasanya diperebutkan dua orang perempuan sekaligus, hehe.

Perjalanan mereka yang dimulai dari satu kota ke kota lain yang berbeda negara juga menarik, seolah-olah kita benar-benar dibawa secara langsung ke kota-kota lahirnya para musisi besar dunia tersebut. Eksekusi yang lagi-lagi berhasil. Hm, someday I’ll be there and know hot it feel to be Davina, Armitha, and Awang. Good luck for me, xoxo.

“You are my Fantasy in D minor, my ending from my search of happiness.” (hal. 308)
by.asysyifaahs(◕‿◕✿)

[Review] Kastil Es & Air Mancur yang Berdansa by Prisca Primasari

Saturday, July 5, 2014

“Apa itu penting? Bukankah definisi orang tentang cinta berbeda...? Aku merasa aku mencintaimu, dan itu menjelaskan mengapa aku tetap ingin berada di sini...” (hal. 161)

Judul: Kastil Es & Air Mancur yang Berdansa
Penulis: Prisca Primasari
Penerbit: GagasMedia
Tebal: 292 halaman
ISBN: 978-979-780-589-0
Rating: ★★★★★

---

Florence L’etoile Leroy melarikan diri dari rumahnya, ia menolak mentah-mentah niat kedua orangtuanya yang ingin menjodohkannya dengan seorang pria untuk melakukan kencan buta yang direncanakan Maman dan Papa-nya itu. Dalam perjalanan kaburnya menuju Honfleur, Florence mengalami masalah lagi, tas yang dibawanya tidak cukup baik untuk menampung barang-barangnya—dompet, agenda, pulpen, buku-buku, piringan hitam, ponsel, peralatan melukis. Ia pasrah, menerima kenyataan bahwa tasnya harus dibuang begitu saja, dan membawa barang-barang itu di dalam pangkuannya.

Hal yang tidak nyata tetap akan lebih menyedihkan daripada hal yang nyata, seindah apa pun itu. Karena ketidaknyataan itu hanya hidup di angan-angan, dalam dimensi dan ruang yang sama sekali berbeda. (hal. 175)
Namun, secara tak sengaja ia bertemu dengan seorang lelaki di dalam kereta yang ia tumpangi itu. Tampaknya, lelaki tersebut baru saja membeli sebuah tas baru—which is itu adalah tas merk Chanel keluaran terbaru saat itu. Yang paling mengejutkan adalah ketika lelaki itu dengan mudahnya memberikan tas mahal tersebut kepada Florence. Sejak saat itulah, Florence mengenal lelaki yang bernama Vinter Vernalae tersebut.

“Kereta seindah apapun tidaklah berguna bila tidak mempunyai kuda yang menariknya. Lama-lama akan terbengkalai dan terpendam salju. Sama halnya dengan manusia, yang tidak akan bertahan lama bila tidak ada yang mendukung atau mendampinginya; betapapun hebatnya, mereka pasti akan terlupakan.”
Saat itu juga, Vinter sedang bermasalah. Ia diminta oleh Monsieur Zima—temannya di Honfleur—untuk mendatangkan sekelompok seniman yang dapat menggelar berbagai penampilan dalam sebuah pertunjukan; mulai dari membaca puisi, menampilkan drama, melukis, bermain musik, dan semacamnya. Sayangnya, ketika Vinter sudah menyewa grup seni dari Montmartre, mereka membatalkan undangan tersebut. Hal yang mengejutkan adalah ketika tiba-tiba saja Florence menawarkan diri untuk menyanggupinya, ia memang memiliki kemampuan seni yang begitu baik sehingga dapat melakukan hal yang diminta Monsieur Zima tersebut hanya seorang diri. Terlebih, ia melakukan itu sebagai balasan untuk tas yang diberikan cuma-cuma oleh Vinter.

“Masa lalu memang mengubah kita dengan cara yang aneh, bukan?” (hal. 126)
Selama melakukan pertunjukan di rumah Monsieur Zima, sedikit banyak Florence mulai mengenal lelaki yang sudah berumur tersebut. Dulu, ia adalah seorang konduktor hebat, namun Zima adalah orang yang mempunyai kisah hidup yang kelam, sepi, dan menyedihkan. Dari Monsieur Zima, Florence pun semakin mengenal sosok Vinter yang mempunyai dunia yang penuh air mata karena kenangan-kenangan di masa lalunya. Perlahan, Florence dan Vinter saling mengetahui keadaan masing-masing yang ternyata mempunyai masa lalu penuh luka. Akan tetapi, kenyataan bahwa keduanya sama-sama memiliki ‘orang baru’ jauh lebih menyakitkan ketika pada akhirnya mereka tahu isi hati masing-masing. Lalu, siapakah lelaki yang dijodohkan dengan Florence dan perempuan pemilik tas hadiah dari Vinter itu? Apakah mereka orang yang dikenal keduanya? Baca selengkapnya di Kastil Es & Air Mancur yang Berdansa.


“Masa lalu tidaklah penting. Orang yang punya masa lalu buruk belum tentu akan menjadi pribadi yang buruk juga. Semua tergantung pilihan hidup. ...” (hal. 226)
***

Buku ketiga dari Kak Prisca Primasari yang aku baca. Baiklah, ini dia penulis kebanggaan GagasMedia yang kini juga menjadi penulis favorit aku. Hmm, Kak Prisca kapan menulis buku baru lagi ya? :D

Bukankah ketika kau ingin sekali bahagia, kau tidak akan pernah menyia-nyiakan setiap uluran yang datang...? (hal. 227)
“Kau takkan pernah bisa bahagia sebelum memaafkan, memberi kesempatan, dan menyayangi dirimu sendiri,” (hal. 277)
Nggak bisa berkata banyak untuk buku ini, karena KABAR GEMBIRA UNTUK KITA SEMUA. Oke, sudahlah, aku nggak akan bahas bagaimana cara mengesktrak kulit manggis. Yang pasti, aku suka buku ini dari berbagai segi, selain gaya penulisan Kak Prisca, juga setting-nya yang selalu mengambil latar di Eropa–khususnya Prancis dan Rusia, informasi baru disini juga bermanfaat, cerita Les Quatre Saisons tentang seri gubahan Antonio Vivaldi mengenai empat musim (Spring, Summer, Autumn, Winter) yang berhubungan juga sama nama lain dari Monsieur Zima. Terus, cerita tentang Snegurochka juga. Wah, aku belum tahu banyak sih, sedang dalam masa peng-googling-an nih!

“... Snegurochka, yang selalu merasa yakin tidak akan pernah merasa lemah, akhirnya meleleh dan menghilang karena kehangatan cinta yang dia rasakan.” (hal. 174)
Cover, entah untuk yang keberapa kalinya, sudah masuk kategori Gagas sekali. Unik dan manis, menyiratkan tentang kenangan masa lalu di Eropa djaman doeloe. Pantas sih, karena latar waktu ceritanya mengambil tahun 80-90-an.

“Lari tidak akan menyelesaikan masalah. Kau harus berani menghadapi segalanya.” (hal. 88)
Benar-benar buku yang aku rekomendasikan untuk para kamu semua yang (mungkin) baru mengenal GagasMedia atau sudah jadi #GagasAddict. Beberapa di antara koleksi GagasMedia lainnya yang juga aku ceritakan, bisa kamu baca di #11TanpaBatas: 11 Buku GagasMedia yang Wajib Baca ala ASYSYIFAAHSBOOK.

“Aku selalu berpendapat bahwa orang yang benar-benar baik adalah orang yang mengakui bahwa dia tidak sebaik itu. (hal. 282)
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
 
a book blog by @asysyifaahs