“Kamu harus bisa menyatakan cintamu tanpa berharap apa-apa.
Kenapa? Karena ITU yang dilakukan oleh Tuhan SETIAP saat.” (hal. 132)
Penulis: Oka Aurora
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tebal: 187 halaman
My Rating: ★★★★
---
Annisa, remaja SMA yang tomboi dan senang main basket itu
mendadak ingin berhijab dan bergabung dalam ekskul ROHIS. Bukan benar-benar
diniatkan dari hati sih, tapi karena ia ingin lebih dekat dengan seorang kakak
kelas bernama Ananda yang juga Ketua ROHIS.
“Hijab memang seharusnya menutupi kecantikan. Agar bisa melindungi wanita.” (hal. 16)
“Tapi, alasan kamu pakai hijab seharusnya sebagai bentuk penghambaanmu kepada Allah. Dengan berhijab kamu berusaha membuktikan kepada Allah bahwa kecantikanmu hanya untuk Allah dan laki-laki yang diridai Allah.” (hal. 17)
Annisa dan Jelita adalah sepasang sahabat yang memiliki
kepribadian berlawanan. Annisa yang terkesan terbuka dan tomboi, jauh berbeda
dengan Jelita yang lebih halus, pendiam, dan lemah lembut. Walaupun begitu,
mereka merasa saling melengkapi satu sama lainnya.
Tujuan berteman atau bergaul seharusnya bukan untuk memiliki orang lain yang melengkapi kita, tapi untuk memiliki orang lain demi kita lengkapi. Saat melengkapi orang lain inilah kita tahu siapa sebenarnya kita dan seberapa jauh kita bisa mencintai tanpa berharap apa-apa. (hal. 133)Jika persahabatan tak dibangun di atas cinta, egolah yang akan berdiri menjadi juara. Bersahabat adalah berdiri bersama. Jika salah satu ngotot, mungkin menertawakannya saat ia terjatuh, tapi akan membantunya kembali berdiri. (hal. 143)
Dengan terang-terangan, Annisa menaruh begitu banyak
perhatiannya untuk Ananda. Mulai dari memperhatikan saat mereka berada di kelas
musik, sampai hal-hal lainnya yang tidak dapat Annisa lewatkan begitu saja.
Sayangnya, Ananda begitu menjaga sikap terhadap banyak orang, terutama
perempuan. Tapi, pemuda itu malah bersikap lebih terbuka dan ramah pada Jelita.
Ibunya juga pernah bilang bahwa tak ada orang yang berhenti mencintai seseorang. Kalau kamu pernah mencintai seseorang, kamu akan selalu mencintainya. Kalau kamu berhenti mencintanya, berarti kamu memang tak pernah mencintainya. Carilah yang memang kamu cintai, bukan yang kamu pikir kamu cintai. (hal. 129)
Annisa merasa bingung sendiri, bingung terhadap sikap
Ananda, gelagat Jelita, dan bingung terhadap perasaannya saat itu. Ia mulai
resah jika mengingat-ingat bahwa perempuan yang berhijab dianggap kurang baik
bila berpacaran. Hingga suatu hari, ia menemukan bahwa ternyata Jelita sama-sama
menyukai Ananda. Ia merasa dilema, kesal, dan marah pada Jelita. Dan, bagaimana
ya jadinya hubungan persahabatan mereka?
Lantas siapakah yang akan Ananda pilih menurut rasa hatinya? Baca selengkapnya
dalam Hijabers in Love.
***
Alhamdulillah, akhirnya bisa kembali ke dalam rutinitas yang
beberapa minggu ini ditinggalkan, baca novel. Bingung harus memulai (alias
melanjutkan) buku yang mana dulu, karena sebelum UAS aku banyak menyelingkuhi
buku-buku yang baru aku terima, huhu.
Karena bingung, terpautlah hati memilih buku dengan tebal
kurang dari 200 halaman ini. Dan ternyata dibikin cinta sama ceritanya!!
Sebelumnya, aku menebak-nebak siapa ya yang bakal dipilih Nanda menurut
perasaan hatinya, atau jangan-jangan baik Annisa maupun Jelita nggak ada yang
dipilih mengingat bahwa mereka-adalah-anak-anak-yang-begitu-islami?
Karakter Annisa yang tomboi dan pintar sepadan kalau
dipasangkan dengan Jelita yang alim dan sopan. Apalagi lawan mainnya, Ananda
yang bijaksana dan ramah, greget ya. Dan begitupun ceritanya, disadari atau
nggak dekat banget dengan kehidupan aku yang mantan-anak-KDA :D
Konflik nggak hanya terjadi di antara ketiganya ini,
keluarga Annisa dan Jelita juga dilibatkan. Memandang cinta anak remaja dari
segi orangtua tentu saja, bagaimana mereka mengingat-ingat kembali terhadap
peristiwa jatuh-bangunnya cinta dan menceritakannya untuk anak-anaknya.
Yang lebih menarik menurutku adalah, saat Annisa diceritakan
mengikuti kegiatan pertukaran pelajar AFS (American Field Service). Duuuh,
Annisa ini hebat ya bikin orang iri dan nyesek lagi, iya.... karena awalnya aku
juga minat ikutan acara itu, sayangnya dibatas berdasar umur :(
Ceritanya menarik, kehidupan remaja SMA banget, cinta yang
dibatasi karena adanya sekat tak terlihat bernama ‘aturan agama’. Bukan
menyulitkan atau malah melarang kita untuh jatuh cinta, tapi aturan agama
memberikan jalan terbaik bagaimana kita seharusnya mencintai sesuai ridho-Nya.
Boleh dicoba untuk kamu yang masih muda atau merasa berjiwa muda, dan mereka
yang ingin tahu bagaimana Islam memandang cinta.
Tak ada orang yang senang digurui. Menggurui dan mengajarkan merupakan dua hal yang berbeda. (hal. 45)“Kadang, Allah nggak menjodohkan kita dengan seseorang karena orang itu kurang baik buat kita. Atau, sebaliknya, mungkin kita yang kurang baik buat orang itu.” (hal. 104)“Ya, nggak salah dong. Jatuh cinta dan jatuh hati, itu semuanya rahmat. Artinya kamu masih punya hati.” (hal. 132)Sering kali kita mencari cinta dengan berusaha mencintai orang lain, tapi lupa mencintai diri sendiri. Kita berusaha menjadi orang lain, lalu kita kehilangan diri sendiri. Dan saat itulah kita mencintai tapi tak bahagia. Karena kita berharap mendapatkan balasan atas cinta. (hal. 133)Cintakah namanya jika semengganggu ini? Cinta seharusnya menjadi pengalaman yang melegakan dan meringankan. Tapi, jika memberatkan seperti ini, mungkin cara mencintanya yang salah, atau ia mengharapkan sesuatu yang tidak dimaksudkan Allah untuknya. Benarkan begitu? Ia juga tak yakin. Yang ia yakini, Allah pasti ingin ia belajar sesuatu saat menghadiahkan rasa ini padanya, yaitu: bersabar mengelola hati. (hal. 164)
by.asysyifaahs(◕‿◕✿)






