Showing posts with label PlotPoint. Show all posts
Showing posts with label PlotPoint. Show all posts

[REVIEW] Cherish Cheri - Nita Trismaya

Tuesday, September 22, 2015

Apakah masih ada yang berani bilang bahwa jarak bukan masalah? (hal. 108)

Judul: Cherish Cheri
Penulis: Nita Trismaya
Penerbit: PlotPoint
Ilustrasi sampul: Diela Maharanie
Pemeriksa aksara: Dias Rifanza
Penata aksara: Kuswanto
Desain: Teguh Pandirian
Ilustrasi: Ochidyati
Tebal: 233 halaman
Terbit: April 2013 (Cetakan Pertama)
Rating: ★★★

---

Cheri adalah siswa kelas 3 SMA di Jakarta yang sedang menjalani hubungan jarak jauh (red, LDR—Long Distance Relationship) bersama Mikka yang kuliah di Melbourne. Sama seperti pasangan LDR kebanyakan, cara mereka berkomunikasi hanya bermodalkan Skype meski sering kali terhambat dengan perbedaan waktu dan koneksi internet. Kalau Cheri lagi bangun, bisa jadi Mikka malah sedang tidur, makanya kadang kala keduanya mencuri-curi waktu hanya untuk sekadar menggugurkan perasaan rindu yang terbentang jarak ribuan kilometer itu.

Padahal untuk membuktikan cinta adalah dari tindakan, bukan serbuan kata-kata semata. (hal. 107)

Meski Mikka berada di negeri kanguru, Cheri akan selalu setia dengannya, nggak heran deh kalau sampai dia sudah punya tempat tersendiri di hati keluarga Mikka yang berada di Bandung. Contohnya saja tentang undangan dari mama Mikka yang sedang berulang tahun membuat Cheri sudah dianggap jadi bagian keluarga pacarnya itu.

[REVIEW] Stasiun - Cynthia Febrina

Monday, September 21, 2015

“Kamu harus ingat hidup adalah pertemuan dan perpisahan. Jika suatu saat kita berpisah akankah kamu mengatakan kalimat itu walau pada bayangan?” (hal. 74)

Judul: Stasiun
Penulis: Cynthia Febrina
Penerbit: PlotPoint
Penyunting: Gina S Noer, Ninus D Andarnuswari
Ilustrasi sampul: Diani Apsari
Pemeriksa aksara: Ridho Wijaya
Penata aksara: Kuswanto
Desain: Teguh Pandirian
Ilustrasi: Matahari Indonesia
Tebal: 170 halaman
Terbit: Mei 2013 (Cetakan Pertama)
Rating: ★★★

---

Adinda baru saja diputuskan Rangga yang kini telah menjadi mantan kekasihnya. Ia yang dulu akan selalu bersama Rangga tiba-tiba saja harus menghadapi kebiasaan baru dalam hal pulang-pergi dari dan ke kantor tempatnya bekerja. Dulu, Ranggalah yang senantiasa menjemput Adinda, setia dari Bogor menuju Jakarta. Namun, setelah kenyataan pahit itu, mau tidak mau Adinda harus terpaksa menaiki kereta api.

Ryan adalah seorang lelaki pekerja yang bertitel “anak kereta sejati”. Ada banyak hal yang berkaitan dengan stasiun yang sudah dikenalnya, tak luput pertemanan dengan orang-orang yang tak pernah absen menjadi penghuni di sekitar stasiun.

“Semakin disembunyikan, perasaan jatuh cinta itu semakin terlihat.” — “Oooh, saat jatuh cinta semua hal yang nggak mungkin jadi mungkin, yang nggak nyambung jadi nyambung.” (hal. 112)

[REVIEW] Sesuatu Yang Tertunda - Sky Nakayama

Sunday, September 20, 2015

“Itulah cinta, Ya. Kamu nggak akan pernah tahu kapan atau bagaimana ia bisa menghampiri kamu.” (hal. 156)

Judul: Sesuatu Yang Tertunda
Penulis: Sky Nakayama
Penerbit: PlotPoint
Penyunting: Arief Ash Sidiq
Perancang sampul: Lidia Puspita, Teguh Pandirian
Pemeriksa aksara: Rika Amelina, Dias Rifansa
Penata aksara: Kuswanto
Desain: Teguh Pandirian
Ilustrasi: Diani Apsari
Tebal: 191 halaman
Terbit: April 2013 (Cetakan Pertama)
Rating: ★★☆

---

Aria dan Arian adalah sepasang kakak-beradik yang memiliki sifat berlainan. Kakaknya, Arian, punya sikap yang lebih ramah dan supel kepada setiap orang. Sebaliknya, Aria sang adik lebih terasa cuek dan dingin, terkecuali kepada ibunya. Cerita dimulai saat mereka tak sengaja bertemu Alina yang kini menjadi tetangga baru, yang sempat Aria abaikan saat mereka berpapasan lewat kaca jendela kamarnya.

Alina adalah seorang gadis perempuan yang sudah ditinggal pergi orang-orang tersayangnya, salah satunya adalah Agung—kakaknya. Kepindahan Alina ke kompleks yang sama dengan si dua bersaudara menambah kisah dalam keseharian mereka.

...bukan dunia yang harus berubah mengikutinya, tetapi dirinyalah yang harus berubah, melebur dengan ritme waktu, tanpa harus kehilangan warna hidup yang telah membentuk dirinya. (hal. 190)

[REVIEW] U-Turn - Nadya Prayudhi

Thursday, September 17, 2015

Karin, jika cinta membuatmu gila. Itu bukan cinta namanya. (hal. 159)

Judul: U-Turn
Penulis: Nadya Prayudhi
Penerbit: PlotPoint
Penyunting: Arief Ash Shiddiq
Perancang sampul: Diela Maharani
Pemeriksa aksara: Ridho Wijaya, Ining Isaiyas
Penata aksara: Kuswanto
Desain: Teguh Pandirian
Tebal: 228 halaman
Rating: ★★☆

---

Ini adalah cerita Karin yang baru saja diputuskan oleh Bre, yang belum lama ini pernah menjadi pacarnya. Rasa marah, kecewa, dan kesal menyergapnya hingga membuat ia memutar balik kisah hidupnya—saat pertama kali mereka berkenalan.

Seandainya patah hati itu menyenangkan, tentunya semua judul dan lirik lagu di seluruh dunia harus diubah jadi macam “Thank you for leaving me”, “Happy without you”, atau “Glad we’re not together again”. (hal. 5)

Berpisah dengan Bre, membuatnya merasa tidak nyaman karena tiba-tiba saja Bre mengatakan bahwa mereka akan menikah di hadapan teman-temannya. Tidak ada yang salah, hanya saja bagi Karin ia belum siap akan pernyataan yang terlalu mendadak ini. Lagi pula, Karinlah yang merasa berhak untuk marah atas kejadian tersebut, bukan sebaliknya.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
 
a book blog by @asysyifaahs