Penulis: Triani Retno A. & Rassa Shienta A.
Penerbit: Elex Media Komputindo
Tebal: 195 halaman
Rating: ★★★★
---
Tuhan memiliki begitu banyak rahasia. Manusia hanya diberi
sedikit ilmu untuk mempelajari dan mengungkapkan rahasia-rahasia itu, terutama tentang
alam gaib. (hal. 146)
Hari itu, kelas XI IPS kedatangan murid baru bernama Zhafira Massawa. Siswi pindahan yang
merupakan keturunan Arab-Palembang-Sunda ini terpaksa pindah mengikuti Abi-nya
yang mendapat tugas baru di Kota Bandung. Bukan hal yang mudah bagi Zha—begitu panggilannya—untuk
beradaptasi dari SMAN 16 Palembang ke SMAN 215 Bandung dengan berbagai hal yang
berlawanan dengan kebiasaannya.
Namun, semua hal itu berubah ketika Zha berkenalan dengan Keira Luvena, makhluk paling bawel dan
si tukang ngayal tingkat tinggi. Hari-hari Zha terasa lebih menyenangkan, dan
ia tidak pernah sungkan lagi untuk berbagi cerita yang belum diketahui
teman-temannya dulu kepada Keira.
Suatu saat, Keira merasa curiga terhadap perlakuan Zha, ia
merasa ada yang aneh dengan temannya itu. Dibantu Aldiano Dewanto, teman laki-laki sekelasnya itu, akhirnya Keira
tahu kalau Zha ternyata seorang indigo. Indigo intradimensional.
“Itu, kan, karunia, Zha. Pemberian Tuhan. Tidak seorang pun
bisa menahan rahmat yang dianugerahkan Tuhan kepada manusia. Begitu juga, tidak
seorang pun dapat melepaskan apa saja yang ditahan oleh Allah,” (hal. 99)
Beberapa kali Zha harus merasakan berpindah dari satu
dimensi ke dimensi lain. Ketika untuk pertama kalinya Keira dan Aldi mengetahui
bahwa Zha pingsan, mereka merasa terkejut bahwa ternyata Zha pingsan karena ia
sedang berintradimensi.
“... Hidup itu sederhana, Zha, tapi dengan bersyukur hidup
akan jadi luar biasa. Dengan bersyukur kamu akan lebih bahagia dan hatimu akan
jauh lebih tenang. Nggak semua orang bisa mendapatkan anugerah istimewa
sepertimu,” — “... Jangan mengeluh. Keluhan itu bisa mengganda di otakmu dan
akan membuat mentalmu semakin lemah. ...” (hal. 101)
Masa lalu, masa depan.
Bukan hal yang aneh bagi seorang Zha jika ia harus pingsan dan melewati labirin
waktu serta dibawa ke banyak tempat yang terkadang tidak ia ketahui. Dari
sekian banyaknya tempat, sekolahnya sendiri-lah yang akhirnya membawanya pada
sebuah misteri yang harus ia pecahkan. Dibantu Keira dan Aldi, Zha harus
membantu seorang putri ningrat dari masa lalu, bagaimanakah perjalanan
intradimensi Zha dan pertemuannya dengan Sekar Ayu? Apa yang harus Keira dan
Aldi lakukan? Baca selengkapnya di DIMENSI.
***
Menyenangkan sekali, karena untuk pertama kalinya (lagi)
bisa menuntaskan sebuah buku bacaan hanya dalam beberapa jam saja—dua jam
sampai adzan Dzuhur hari Jumat berkumandang. Setelah sebelumnya berjuang
mendapatkan buku ini dari penulisnya langsung, dan berjanji akan segera
meresensinya dalam blog, akhirnya tunai sudah janji itu. Yeeee ^^v
Baiklah, kesan pertama yang aku tangkap dari cover buku, mungkin ini tentang cerita romance anak metropolitan. Namun,
setelah membaca sedikit Thanks To dan hampir lupa
membaca Sinopsis, ternyata buku ini bercerita tentang kisah anak
indigo, Zha si indigo intradimensional.
Wah, kayaknya lama nih belum baca buku yang bahas kayak gini, apalagi aku juga
punya adik kelas yang (entah sekarang masih atau tidak) indigo juga, namanya
Amira, kalau mau tahu :P
Kisah sebenarnya diawali dari cerita keseharian Keira dan
adiknya, Keanu. Menceritakan juga tentang Maminya yang adalah seorang dosen di
banyak universitas. Aku pikir, pada awalnya, mungkin si Keanu yang jadi anak
indigo, tapi nggak ada tanda-tanda kalau dia yang bakal memerankan peran ini.
Ah, tebakan Asyifa meleset jauh :(
Cerita kebanyakkan berlatar di sekolah, SMAN 215 Bandung.
Hm, angka 215 udah kejauhan ya buat sekolah SMA di Bandung. Setauku untuk
sekolah dengan label SMAN baru ada 20 apa 30 ya? Maaf kalau salah, bukan AKB, Anak Kota Bandung, hehe. Kalau dibaca
dari latarnya, gedung sekolahnya, koridor, toilet, dan bahkan cat sekolah, aku
pikir SMAN 215 ini wujud lain dari SMAN 5 Bandung. Iya nggak sih Mbak? *kalau
salah, selain digebuk penulis, juga dihajar se-Belitung Timur, ealah*.
Ceritanya? Mengalir aja, benar-benar berjalan sebagaimana
adanya. Kita juga bisa aja diajak jalan-jalan ke masa lalu dan masa depan yang
mungkin di luar nalar, agak susah sih membayangkannya, apalagi cerita saat si
Zha dibawa ke Kerajaan Pajajaran, duh x_x Akan tetapi..., masih ada beberapa
hal yang mungkin bisa dijadikan saran, beberapa kali aku menemukan kata
berbahasa lokal, selain atuh atau Neng, mungkin bisa dipastikan banyak
orang tahu. Tapi, bagaimana ceritanya dengan ‘ngebanjur’ (hal. 18), aku sendiri kaget, ada kata nge-banjur yang mungkin saja pembaca buku
Dimensi masih belum paham, kalau tidak pakai footnote ya ganti saja dengan kalimat Indonesia, disiram atau
diguyur misalnya.
“Lagian apa asyiknya, sih, nonton bola? Bola cuma satu
direbutin sama dua puluh dua orang gitu. Biasa kan ngantre, dong. Nunggu
giliran, jangan rebutan gitu.” — “Tiru dong pemain bola bekel. Sabar mengantre
sampai dapat giliran. Nggak main rebut dari lawan. Gimana kalau orang yang
bolanya direbut ngerasa nggak rela? Wah, repot tuh urusannya, Nu. Dia bisa
merasa teraniaya. Padahal, dosa orang teraniaya itu pasti dikabulkan oleh
Allah. Bisa aja, kan, dia berdoa supaya lawan yang merebut bolanya itu kalah...”
(hal. 2)
Tapi, tidak menutup kemungkinan selama membaca buku ini,
kamu bisa tersenyum sendiri—saat membaca buku ya! Kelakuan-kelakuan aneh dari
tiap tokohnya, terutama antara Aldi-Keira kadang bisa bikin ngakak, sekaligus
iri, ah... harus dibaca deh. Anyway,
entah kenapa ya banyak di antara keterangan dari tokoh-tokohnya dekat dengan
kehidupan aku sendiri. Misal, nama ‘Luvena’ yang adalah juga nama belakang dari
Kakak sepupu, beda dikit, sepupu aku nama belakangnya Luverina, doi nggak bawel
kayak Keira kok. Terus nama belakang Aldi yang mengingatkan salah satu teman di
Kota Bandung, Salman Dewanto, haha. Dan ya... terimakasih untuk ide penulis,
baik Mbak Retno maupun Mbak Shienta yang telah berpikir memilihkan kelas untuk
Sam, XI IPA 3, bangganya nama kelasku disebut, XI MIIA 3, karena MIIA adalah
program IPA, sama saja. Terimakasih ya, kapan-kapan, bawa nama aku juga buat
dijadikan nama tokoh *ngarep*.
by.asysyifaahs(◕‿◕✿)