Showing posts with label Elex Media. Show all posts
Showing posts with label Elex Media. Show all posts

[GIVEAWAY WINNER] You Had Me at "Hello" - Indah Hanaco

Sunday, September 20, 2015

Selamat pagi, di Minggu yang cerah ini aku yang baru merasakan kembali hari libur 'seutuhnya', akan membawa kejutan untuk salah satu di antara kalian yang sudah ikut blog tour (dan giveaway!) You Had Me at "Hello" di blogku beberapa hari yang lalu. Siapa yang nungguin? *krik krik* Nggak ada! Cukup tau, BHAY! *eh


Terima kasih untuk Mbak Indah Hanaco sebagai penulisnya, untuk Mbak Kiki yang banyak berperan aktif dalam mengomando blog tour #YouHadMeAtHello ini, untuk Kak Mei yang mengajak aku sebelumnya, dan untuk kalian semua yang selalu buat aku senang karena sudah memeriahkan giveaway dan blog tour di blogku ini. As always, you're rock, Guys! \m/

[REVIEW + GIVEAWAY] You Had Me at "Hello" - Indah Hanaco

Tuesday, September 15, 2015

“Papa ingin membuat kalian mengerti kalau tiap perbuatan itu ada konsekuensinya, entah itu perbuatan baik atau buruk.” (hal. 23)

Judul: You Had Me at “Hello”
Penulis: Indah Hanaco
Penerbit: Elex Media Komputindo
Editor: Afrianty P. Pardede
Tebal: 354 halaman
Rating: ★★★

---

Inanna dan Zora adalah sepasang kembar yang lahir dari keluarga berada. Sayangnya, hal tersebut membuat keduanya lebih banyak berfoya-foya dan sukses membuat sang ayah limbung akibat perbuatannya. Bagaimana tidak, dua orang anak melakukan keributan sekaligus yang akhirnya membuat Navid—ayah mereka—melakukan perjodohan untuk keduanya.

Ina yang masih kuliah saat itu, merasa bahwa hukuman yang diberikan ayahnya terlalu primitif. Ia tidak suka dijodoh-jodohkan, apalagi kalau harus bersama dengan Martin—anak dari teman ayahnya—yang memiliki kriteria yang tidak Ina sukai sama sekali. Yah, lagi pula siapa sih di zaman sekarang ini yang masih berpikir seperti cerita Siti Nurbaya?

Seminim-minimnya pengalaman Ina soal asmara, boleh kan kalau dia punya harapan? Bahwa suaminya kelak adalah, kalau bisa, orang yang dicintainya dengan sungguh-sungguh. Bukan "hadiah" yang disodorkan ayahnya meski dalam bungkus kado paling menyita perhatian. Pasangan itu semestinya hadiah yang berasal dari Tuhan, bukan dari manusia lain. (hal. 27)

Kekesalannya soal perjodohan membuatnya masuk ke dalam masalah yang lebih serius. Melalui kecelakaan, ia berkenalan dengan Alistair, korban yang ditabraknya sekaligus orang yang menyedot perhatian Inanna saat mereka pertama kali bertemu karena mata biru es itu. Tak disangkanya, bayaran yang harus ia balas bukanlah sejumlah uang (yang bisa saja dimintanya dari sang ayah), tapi kesepakatan dengan orang tua Alistair bahwa Ina harus bersedia menikah dengan putra mereka. Kejadian kecil memang selalu berdampak besar, kan?

[REVIEW] Bintang dan Cahayanya - Pretty Angelia

Sunday, April 19, 2015

Suatu saat takdir hitam ini akan mengabu-abu. Setelahnya ia akan memutih sempurna di satu waktu yang bahagia. Because everybody deserves to be happy. (hal. 204)

Judul: Bintang dan Cahayanya
Penulis: Pretty Angelia Wuisan
Penerbit: Elex Media Komputindo
Editor: Pradita Seti Rahayu
Tebal: 334 halaman
Harga: Rp59.800,-
Rating: ★★☆

Alin punya seorang adik yang mengalami cacat autis-hiperaktif. Kondisi Aster tersebut nggak hanya menyedihkan bagi dirinya seorang, tapi juga berimbas pada kehidupan masa remaja kakaknya. Alin yang seharusnya bisa bergaul dengan lebih banyak orang dan punya seorang pacar, tiba-tiba saja diputuskan Yovie hanya karena tahu bahwa Alin punya seorang adik yang cacat.

“Berbeda itu menurut gue asyik, Lin. Jadinya kita nggak pernah merasa bosan. Bukankah Tuhan menciptakan kita berbeda-beda dengan alasan agar kita bisa saling mengerti? Konflik sendiri kan ada karena manusianya yang enggan menerima dan terlampau sombong dengan apa yang mereka miliki.” (hal. 255)

Meski begitu, ia tetap merasa sayang pada adiknya. Walau sering jengkel pada Aster yang lebih aktif dibanding anak-anak sebayanya, Alin selalu bersedia memikul beban tersebut dengan Bunda. Hingga rasa marah itu mulai memuncak di satu waktu, Alin merasa Bunda terlalu perhatian pada Aster dan ia seperti dianaktirikan dalam keluarganya sendiri. Ia nekat kabur demi memberontak pada perlakuan tidak adil Bunda yang dilakukan padanya.

[REVIEW] Dimensi by Triani Retno A & Rassa Shienta A

Friday, August 15, 2014

Judul: Dimensi
Penulis: Triani Retno A. & Rassa Shienta A.
Penerbit: Elex Media Komputindo
Tebal: 195 halaman
Rating: ★★★★

---

Tuhan memiliki begitu banyak rahasia. Manusia hanya diberi sedikit ilmu untuk mempelajari dan mengungkapkan rahasia-rahasia itu, terutama tentang alam gaib. (hal. 146)

Hari itu, kelas XI IPS kedatangan murid baru bernama Zhafira Massawa. Siswi pindahan yang merupakan keturunan Arab-Palembang-Sunda ini terpaksa pindah mengikuti Abi-nya yang mendapat tugas baru di Kota Bandung. Bukan hal yang mudah bagi Zha—begitu panggilannya—untuk beradaptasi dari SMAN 16 Palembang ke SMAN 215 Bandung dengan berbagai hal yang berlawanan dengan kebiasaannya.

Namun, semua hal itu berubah ketika Zha berkenalan dengan Keira Luvena, makhluk paling bawel dan si tukang ngayal tingkat tinggi. Hari-hari Zha terasa lebih menyenangkan, dan ia tidak pernah sungkan lagi untuk berbagi cerita yang belum diketahui teman-temannya dulu kepada Keira.

Suatu saat, Keira merasa curiga terhadap perlakuan Zha, ia merasa ada yang aneh dengan temannya itu. Dibantu Aldiano Dewanto, teman laki-laki sekelasnya itu, akhirnya Keira tahu kalau Zha ternyata seorang indigo. Indigo intradimensional.

“Itu, kan, karunia, Zha. Pemberian Tuhan. Tidak seorang pun bisa menahan rahmat yang dianugerahkan Tuhan kepada manusia. Begitu juga, tidak seorang pun dapat melepaskan apa saja yang ditahan oleh Allah,” (hal. 99)
Beberapa kali Zha harus merasakan berpindah dari satu dimensi ke dimensi lain. Ketika untuk pertama kalinya Keira dan Aldi mengetahui bahwa Zha pingsan, mereka merasa terkejut bahwa ternyata Zha pingsan karena ia sedang berintradimensi.

“... Hidup itu sederhana, Zha, tapi dengan bersyukur hidup akan jadi luar biasa. Dengan bersyukur kamu akan lebih bahagia dan hatimu akan jauh lebih tenang. Nggak semua orang bisa mendapatkan anugerah istimewa sepertimu,” — “... Jangan mengeluh. Keluhan itu bisa mengganda di otakmu dan akan membuat mentalmu semakin lemah. ...” (hal. 101)
Masa lalu, masa depan. Bukan hal yang aneh bagi seorang Zha jika ia harus pingsan dan melewati labirin waktu serta dibawa ke banyak tempat yang terkadang tidak ia ketahui. Dari sekian banyaknya tempat, sekolahnya sendiri-lah yang akhirnya membawanya pada sebuah misteri yang harus ia pecahkan. Dibantu Keira dan Aldi, Zha harus membantu seorang putri ningrat dari masa lalu, bagaimanakah perjalanan intradimensi Zha dan pertemuannya dengan Sekar Ayu? Apa yang harus Keira dan Aldi lakukan? Baca selengkapnya di DIMENSI.

***

Menyenangkan sekali, karena untuk pertama kalinya (lagi) bisa menuntaskan sebuah buku bacaan hanya dalam beberapa jam saja—dua jam sampai adzan Dzuhur hari Jumat berkumandang. Setelah sebelumnya berjuang mendapatkan buku ini dari penulisnya langsung, dan berjanji akan segera meresensinya dalam blog, akhirnya tunai sudah janji itu. Yeeee ^^v


Baiklah, kesan pertama yang aku tangkap dari cover buku, mungkin ini tentang cerita romance anak metropolitan. Namun, setelah membaca sedikit Thanks To dan hampir lupa membaca Sinopsis, ternyata buku ini bercerita tentang kisah anak indigo, Zha si indigo intradimensional. Wah, kayaknya lama nih belum baca buku yang bahas kayak gini, apalagi aku juga punya adik kelas yang (entah sekarang masih atau tidak) indigo juga, namanya Amira, kalau mau tahu :P

Kisah sebenarnya diawali dari cerita keseharian Keira dan adiknya, Keanu. Menceritakan juga tentang Maminya yang adalah seorang dosen di banyak universitas. Aku pikir, pada awalnya, mungkin si Keanu yang jadi anak indigo, tapi nggak ada tanda-tanda kalau dia yang bakal memerankan peran ini. Ah, tebakan Asyifa meleset jauh :(

Cerita kebanyakkan berlatar di sekolah, SMAN 215 Bandung. Hm, angka 215 udah kejauhan ya buat sekolah SMA di Bandung. Setauku untuk sekolah dengan label SMAN baru ada 20 apa 30 ya? Maaf kalau salah, bukan AKB, Anak Kota Bandung, hehe. Kalau dibaca dari latarnya, gedung sekolahnya, koridor, toilet, dan bahkan cat sekolah, aku pikir SMAN 215 ini wujud lain dari SMAN 5 Bandung. Iya nggak sih Mbak? *kalau salah, selain digebuk penulis, juga dihajar se-Belitung Timur, ealah*.

Ceritanya? Mengalir aja, benar-benar berjalan sebagaimana adanya. Kita juga bisa aja diajak jalan-jalan ke masa lalu dan masa depan yang mungkin di luar nalar, agak susah sih membayangkannya, apalagi cerita saat si Zha dibawa ke Kerajaan Pajajaran, duh x_x Akan tetapi..., masih ada beberapa hal yang mungkin bisa dijadikan saran, beberapa kali aku menemukan kata berbahasa lokal, selain atuh atau Neng, mungkin bisa dipastikan banyak orang tahu. Tapi, bagaimana ceritanya dengan ‘ngebanjur’ (hal. 18), aku sendiri kaget, ada kata nge-banjur yang mungkin saja pembaca buku Dimensi masih belum paham, kalau tidak pakai footnote ya ganti saja dengan kalimat Indonesia, disiram atau diguyur misalnya.

“Lagian apa asyiknya, sih, nonton bola? Bola cuma satu direbutin sama dua puluh dua orang gitu. Biasa kan ngantre, dong. Nunggu giliran, jangan rebutan gitu.” — “Tiru dong pemain bola bekel. Sabar mengantre sampai dapat giliran. Nggak main rebut dari lawan. Gimana kalau orang yang bolanya direbut ngerasa nggak rela? Wah, repot tuh urusannya, Nu. Dia bisa merasa teraniaya. Padahal, dosa orang teraniaya itu pasti dikabulkan oleh Allah. Bisa aja, kan, dia berdoa supaya lawan yang merebut bolanya itu kalah...” (hal. 2)
Tapi, tidak menutup kemungkinan selama membaca buku ini, kamu bisa tersenyum sendiri—saat membaca buku ya! Kelakuan-kelakuan aneh dari tiap tokohnya, terutama antara Aldi-Keira kadang bisa bikin ngakak, sekaligus iri, ah... harus dibaca deh. Anyway, entah kenapa ya banyak di antara keterangan dari tokoh-tokohnya dekat dengan kehidupan aku sendiri. Misal, nama ‘Luvena’ yang adalah juga nama belakang dari Kakak sepupu, beda dikit, sepupu aku nama belakangnya Luverina, doi nggak bawel kayak Keira kok. Terus nama belakang Aldi yang mengingatkan salah satu teman di Kota Bandung, Salman Dewanto, haha. Dan ya... terimakasih untuk ide penulis, baik Mbak Retno maupun Mbak Shienta yang telah berpikir memilihkan kelas untuk Sam, XI IPA 3, bangganya nama kelasku disebut, XI MIIA 3, karena MIIA adalah program IPA, sama saja. Terimakasih ya, kapan-kapan, bawa nama aku juga buat dijadikan nama tokoh *ngarep*.

by.asysyifaahs(◕‿◕✿)

[Book Review] Dialog Sakti

Thursday, May 1, 2014

Aku adalah bagian dari ada. (hal. 11)

Judul: Dialog Sakti
Penulis: Khamasasyiah
Penerbit: Elex Media Komputindo
Tebal: 144 halaman
ISBN: 978-602-022-732-0
Harga: Rp. 29.800,-

Hidup adalah kompromi.

Dengan orang lain, diri sendiri, dan kehidupan itu sendiri. Utarakan emosimu. Kebahagiaan, kesedihan, amarah, cinta, harapan. Berdialoglah dengan caramu sendiri, dan sadarilah bahwa ada banyak cara untuk memandang kehidupan dengan lebih bijak.

Sebuah antologi remaja tentang sisi lain kehidupan remaja yang dianggap melulu adalah hura-hura dan berfoya. Menguak emosi orang muda yang berada di tengah idealisme dan realita. Dengan gaya bahasa yang matang namun tetap ringan. Dikemas dengan karya-karya fotografi yang fresh dan khas orang muda.

Menurutmu, emosi itu apa? Kalau menurut aku sih, emosi adalah perasaan. Cukup? Tentu saja tidak. Kamu bisa mendeskripsikan emosi lebih dari itu. Sama seperti Dialog Sakti, emosi yang diciptakan tidak hanya tersirat satu atau dua kali, tapi setiap kalimat yang tertulis adalah emosi.
“Kopi itu pahit, makanya dia butuh gula,” (hal. 12)

Dialog Sakti terbagi menjadi 6 cerita, dan cerita ketiga punya judul yang sama dengan buku ini. Masing-masing cerita punya ceritanya tersendiri *iyalah*, singkatnya... keenam cerita ini punya satu benang merah yang sama, tentang emosi, cinta, harapan, dan Tuhan.
Bahwa manis tak harus selalu terwujud dalam gula. Bahwa manis dan pahitnya kopi mengajarkan sesuatu. (hal. 21)

Kak Asya, aku kenal dia, tapi dia nggak kenal aku. Ini tulisan pertamanya yang aku baca, setelah kemudian mengecek epaper untuk membaca cerpennya yang dimuat di koran Pikiran Rakyat. Novel pertamanya ini disusun dengan kalimat non-konotasi. Bisa jadi, kamu perlu membacanya ulang kalau saja kurang paham apa maksudnya.
Memang, kenangan tak berfungsi apa pun selain sebagai sebuah pengingat. (hal. 21)

Kalau boleh jujur, sebenarnya suka dengan keenam cerita yang dituang disini. Tapi, selalu ada yang spesial tentu saja, maka aku memilih judul ‘Tembus Pandang Tembus Harapan’. Selain menceritakan tentangnya indahnya harapan dan cerita ‘di balik jendela’, nama tokohnya juga nggak jauh-jauh sama nama penulis dan fotografernya—Dinda dan Radithya. Manis sekali.
Tuhan tidak pernah salah. Memang seharusnya kami berpisah. Karena dari perpisahan, kami mengerti arti pertemuan dan perjalanan. (hal. 36)

Novelnya beda menurutku, nggak hanya berupa tulisan, tapi disertai ilustrasi foto yang diambil sendiri sama penulis dan fotografernya. Terlebih, layout-nya juga anti-mainstream sih. Walaupun cuma hitam dan putih.


Tapi seharusnya aku bersyukur karena masih diberi rasa lelah dan kantuk seperti ini oleh Tuhan. Seram sekali kalau sampai harus tidak bisa tidur hingga pagi. Bukan karena kau kuat, tapi karena tubuhmu tidak paham lagi arti beristirahat. (hal. 87)

Nggak ada salahnya untuk meluangkan membaca buku ini di sela-sela aktivitas, kadang kita nggak sadar apa yang ada di sekeliling kita. Kita cuma butuh lebih peka. Dan mengatur emosi biar nggak kekurangan apalagi kelebihan :D
The silent taught me everything. Including taking you care with no sound. (hal. 103)

Bintang? Kalau subjektif sih bisa 5/5, tapi ★★★★ cukup untuk buku yang satu ini. Semoga September bisa cepat datang, dan aku mengikuti jejak Kak Asya dalam #EmotionalSeptemberProject.
“Seperti pelangi. Aku air, kamu cahaya. Aku akan jadi alasanmu untuk tetap hidup. Jangan pernah kehilangan harapan, ia tidak dicari, tapi dibuat. Jangan pernah berpikir untuk menjadi sama apalagi lebih buruk, bagaimanapun kehidupannya. Rad, berjanjilah untuk terus menciptakan kehidupan.” (hal. 133)

Ada yang aku sadari darimu, periku. Kau mengajarkan aku cara berharap, cara meyakini sesuatu. Dan aku berhasil. Kita berhasil melewati kematian yang dijadwal itu. Aku yakin, harapan adalah penyambung hidup. Dan bagaimanapun keadaannya, kita harus tetap mampu menciptakan harapan. Apa pun yang menghalangimu, bahkan meski itu berada tepat di depan matamu, tidak boleh jadi penyebab kau tidak berubah, atau mundur. (hal. 137)
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
 
a book blog by @asysyifaahs