Showing posts with label Other Writers. Show all posts
Showing posts with label Other Writers. Show all posts

[BLOG TOUR] Sing-Py Single Happy - Dewi Rieka

Thursday, September 3, 2015

Menjadi anak kos bisa jadi tahapan yang pasti pernah dijalani banyak orang dalam hidupnya, apalagi bagi mereka anak rantau yang jauh dari orang tua. Ada banyak kesan suka duka yang pastinya dialami, saat tagihan bulanan, melaratnya akhir bulan, dan susahnya makan karena hanya bermodal mi instan.

Sayangnya, keseruan itu nggak berlaku buat kamu yang bukan anak kos. Senang sedih menjalani hari demi hari nggak akan seasyik itu. Apalagi kalau anak kosnya masih jomblo, beuuuhhh... label anak kos derita benar-benar harus disematkan nih! Iyalah, gimana nggak, kebanyakan anak kos tinggal sendiri di kamarnya, ditambah harus berjibaku dengan segenap aktivitas yang melelahkan, dan itu belum termasuk kalau malam Minggu ada yang ngapelin atau nggak :P Tapi, aku juga bukan anak kos sih *ditabok*, masih calon sampai nanti ganti status. Status mahasiswa, maksudnya, kalau jomblo sih... nggak usah ditanya kapan gantinya! 


Nah, kali ini ada Mbak Dewi Rieka yang menulis cerita berjudul Sing-Py, alias Single Happy. Bukunya bercerita tentang Iika-liku kehidupan para anak Kos Jomblo. Sedih ya namanya? Ah, nggak juga kok. Kenapa dinamakan Kos Jomblo, karena pemiliknya—Rania Prameswarie—menetapkan aturan untuk calon penghuni kos ini, syarat utamanya tentu saja mereka harus jomblo lahir batin. Dia beralasan karena cerita hidupnya yang menyakitkan sewaktu ditinggal pergi mantan suaminya, makanya dia nggak mau ada korban-korban lain yang mudah disakiti. Buat apa dobel tapi nyakitin, kalo bisa single tapi bahagia, setuju nggak?

[BLOG TOUR] Zodiac Date - Acha Salim

Friday, July 24, 2015

Dari dulu sekali, banyak orang sudah mengenal zodiak. Biasanya zodiak membahas seputar keuangan, keluarga, persahabatan, sampai nggak luput juga tentang kehidupan percintaan si empunyanya. Baik-buruknya ramalan bikin banyak orang yang percaya, namun nggak sedikit juga yang nggak percaya. Terlepas dari yakin atau nggak, mungkin kita bisa mengaminkan hal baik yang ditulis zodiak :D

Dan ternyata, zodiak bisa juga dimanfaatkan untuk mengenal kepribadian dan karakter dari tiap orang lho! Adalah Acha Salim, yang merupakan seorang penyiar Woman Radio 94.3 FM yang mengungkapkan analisisnya dari keduabelas zodiak yang ada. Pssst, dia pernah berkencan dengan banyak perempuan dari zodiak yang berbeda, lho!


Meski sampai saat ini usahanya masih berakhir dengan kegagalan, hal tersebut membuatnya bisa mengenal sifat-sifat dari si pemilik zodiak, ia juga jadi banyak tahu kepribadian apa saja yang cocok dan nggak cocok menurut analisis abal-abalnya ini. Hmm, mungkin nggak ya kamu sama pasanganmu adalah pasangan dengan zodiak yang klop?

[REVIEW] Penunggu Puncak Ancala - Indra Maulana, dkk

Sunday, May 3, 2015

Karena di dunia ini tidak ada yang benar-benar hidup, juga tidak ada yang benar-benar mati. (hal. 123)

Judul: Penunggu Puncak Ancala
Penulis: Indra Maulana, Sulung Hanum, Ageng Wuri, Acen Trisusanto, Dea Sihotang
Penerbit: Bukune
Editor: Astri Apriyani & Elly Afriani
Proofreader: Widyawati Oktavia
Penata letak: Irene Yunita
Desain sampul: Gita Mariana
Ilustrator: Nana Naung
Tebal: 208 halaman
Harga: Rp. 38.000,-
Rating: ★★★

Bagi mereka pendaki gunung, bisa kukatakan mereka adalah tipe orang yang setia. Coba aja lihat, gunung aja didaki, apalagi cintanya *tsaaah. Oke baik, lupakan kalimat tadi, karena toh buku yang akan kita bahas sekarang jauh dari hal yang nyeleneh dan sok gombal.

Penunggu Puncak Ancala adalah buku yang berisi kumpulan kisah nyata dari tiap penulis. Masing-masing menuliskan dua cerita yang berkaitan dengan pengalaman horor mereka ketika mendaki gunung. Ancala sendiri dalam bahasa Sanskerta berarti gunung. Itu kenapa sampai halaman terakhir, aku nggak menemukan 'Puncak Ancala', karena ya artinya sama saja dengan puncak gunung :D

Meski tidak semua cerita mengisahkan tentang pendakian gunung, ada beberapa cerita yang mengambil destinasi seperti Ujung Kulon, Goa Pindul, dan Danau Singkarak. Di bawah ini, akan kuceritakan salah satu dari cerita tiap penulis.

[REVIEW] 3 Sisi Susi - Fyra Fatima

Friday, May 1, 2015

"Saya orang yang full komitmen kalau mengerjakan sesuatu. Saya ingin eksistensi dan pengalaman saya membuahkan hasil." (hal. 150)

Judul: 3 Sisi Susi
Penulis: Fyra Fatima
Penerbit: Visimedia
Penyunting: Zulfa Simatur, Fitria Pratiwi, Lis Sutinah
Pendesain sampul & penata letak: EM. Giri
Ilustrasi sampul: Aminudin Hadinugroho
Tebal: 172 halaman
Harga: Rp. 45.000,-
Rating: ★★★

Siapa yang tidak kenal Susi Pudjiastuti? Perempuan yang kini menjabat sebagai Menteri Kelautan dan Perikanan ini sejak dinobatkan masuk menjadi orang-orang yang terpilih dalam Kabinet Kerja, telah tersohor ke berbagai kalangan, termasuk aku sendiri. Sejak Presiden Jokowi membacakan satu per satu nama-nama para menteri, ada satu yang membuatku salut sekaligus heran, di antara menteri perempuan, Bu Susi-lah yang paling nyentrik dan gawl—menurutku.

Meski sebelumnya belum mengetahui beliau dari latar belakangnya, aku adalah salah satu orang yang meyakini bahwa kehadiran beliau dapat menjadi pilihan terbaik untuk Indonesia, khususnya Kementerian Kelautan dan Perikanan (yang selanjutnya akan kusingkat dengan KKP). Dan, yap, sejauh + 7 bulan Kabinet Kerja berjalan, Bu Susi-lah yang paling keren dengan gebrakan-gebrakan beraninya. Pak Jokowi nggak salah pilih!

Di buku ini, kita akan mengenal lebih dekat siapa itu Susi Pudjiastuti. Santer terdengar banyak kabar ini-itu, yang mungkin sebagian orang masih belum mengetahuinya dengan benar. Di buku ini pula, kisah Bu Susi terangkum dalam tiga sisi.

[REVIEW] Smart Handbook Matematika SMA

Sunday, March 29, 2015

Judul: Smart Handbook Matematika SMA Kelas 10, 11, 12
Penulis: Wenda Ayu Mawarti, S.Pd dan Windi Ayu Mawarni, S.Pd
Penerbit: PT Tangga Pustaka
Editor: Rizky Maulana Ibrahim
Desain cover: Yulai Tse
Layout: Mawardi Noor
Tebal: 354 halaman
Harga: Rp49.000,-
Rating: ★★

---

Halo, apa kabar teman-teman pembaca buku? Waah, lama nggak blogging, kok rasanya sedikit berdebu ya. Mau sapuin nih, coba angkat kakinya, Syifa mau beres-beres dulu! Jadi, baru saja kemarin menyelesaikan masa-masa kritis alias UTS. Anak sekolah dong, masih zaman main-main di Ujian Tidak Serius Ujian Tengah Semester

Ngomongin UTS, teman-teman juga pasti pernah memerlukan buku-buku pelajaran kan dalam menunjang pemahaman materi? Nah kali ini, Syifa bakal membahas salah satu buku yang minggu kemarin dipakai buat buku penunjang. Jarang kan, aku bikin review buku pelajaran, hehe.

[REVIEW] Bonus Track - Koshigaya Osamu

Monday, December 22, 2014

“Iya. Kadang bonus track itu sendiri malah lebih baik dibandingkan keseluruhan album.” (hal. 332)

Judul: Bonus Track
Penulis: Koshigaya Osamu
Penerjemah: Andry Setiawan
Penerbit: Penerbit Haru
Tebal: 380 halaman
Rating: ★★★

---

Sepulang kerja dari kantornya, Kusano Tetsuya terus saja mengobrol tanpa arah. Baginya, obrolan monolog tersebut dilakukan untuk mengusir kantuk ketika ia sedang mengendarai mobil. Terlebih, di kawasan jalan yang gelap dan sepi seperti ini, bersahutan dengan suara radio dapat menghilangkan rasa takutnya yang kadang-kadang muncul.

Tiba-tiba saja, sebuah mobil sport berwarna hitam melaju dengan kecepatan di atas batas maksimal. Kusano yang marah, hanya bisa mengumpatnya dengan kata-kata sembarangan hingga tak sadar bahwa ia mengharapkan pengendara mobil tersebut kecelakaan. Nahasnya, doa Kusano tersebut dikabulkan, mobil sport hitam tersebut benar-benar kecelakaan. Ia pikir, pengendara ugal-ugalan seperti itu akan menunggunya dan melakukan hal-entah-apa. Tapi yang ada, mobil itu malah melarikan diri.

Kusano baru menyadari bahwa ada sesuatu yang tergeletak begitu saja di jalan saat hujan seperti ini. Dan yang ia temukan adalah sesosok manusia yang terkapar tak berdaya. Diusahakannya berbagai pertolongan, termasuk memberikan nafas buatan. Namun tetap saja, sekeras apapun ia berusaha, manusia itu tak merespons. Kini, ia telah menjadi mayat.

Tapi, sepertinya aku tidak perlu khawatir. Kalau ada yang sedang kesusahan sebaiknya ditolong, bukan? (hal. 18)
Bingung menghadapi hal tersebut, Kusano hanya bisa menelepon polisi, mengabarkan bahwa telah terjadi kecelakaan yang menimbulkan satu orang korban meninggal. Hanya saja, cerita tidak berakhir sampai di situ. Keesokannya, Kusano menemukan sesosok manusia yang berwujud mirip dengan korban kecelakaan mobil sport hitam. Awalnya, ia berpikir bahwa dia sedang berhalusinasi belaka.

Yokoi Ryota, si halusinasi yang menjadi korban itu terus meyakinkan bahwa dirinya bukanlah halusinasi. Tapi, ia bingung juga, apakah dirinya hantu, arwah, atau apa? Walau Kusano—satu-satunya orang yang bisa melihatnya—tidak yakin, Ryota terus saja mengikutinya kemanapun ia pergi.

Namun, pada kenyataannya aku dulu percaya kalau orang sudah mati, ya sudah sampai situ saja. Yang namanya itu tidak ada dan yang namanya perasaan itu tidak lebih dari sekadar kinerja otak. (hal. 56)

Kok ada sih hal seperti ini? Aku sudah mati, tapi aku masih punya kesadaran. Kupikir, setelah mati itu hanya ketiadaan. Mayat dibakar, jadi abu, tamat. Itulah yang kupercayain selama ini. Aku masih belum bisa percaya ternyata memang ada dunia setelah kematian. (hal. 57)
Dalam masa “bergentayangannya” itu, Ryota juga terus berusaha mencari siapa pelaku yang menyebabkan meninggal waktu itu. Bersama Kusano, dan orang-orang yang ternyata bisa melihatnya—yaitu Minami—ia melewati hari demi hari *apakah hantu merasakan perubahan waktu?* Tidak saja berpatroli mencari pelaku tersebut, ia juga menyaksikan sendiri ketika ‘hantu’ lain telah berubah menjadi cahaya dan kembali ke alam sana. Lalu, bagaimana dengan nasib Ryota? Apakah mereka akan menemukan pelakunya? Lantas apa yang akan terjadi pada Ryota selanjutnya, menjadi hantu di Bumi selamanyakah? Baca selengkapnya di Bonus Track.

***

Bagi pecinta fantasi, buku ini bisa jadi salah satu rujukan yang pas untuk kamu. Yah, walaupun di dalamnya terdapat unsur komedi, misteri, dan sedikit dorama, Bonus Track menghadirkan kisah yang cukup unik.

Kehidupan Kusano diterangkan dengan jelas dalam buku ini. Pria yang berkacamata dengan umur kisaran 25 tahun yang bekerja sebagai pegawai tetap di sebuah perusahaan hamburger. Saking jelasnya, kita bisa tahu betul seperti apa rutinitas Kusano dalam kehidupannya sebagai seorang pekerja. Mulai dari bangun, bekerja, mengatur jadwal, mengerjakan tugas—yang bahkan sebenarnya bisa dilakukan oleh pekerja paruh waktu, menginformasikan perkembangan di kantornya, hingga pulang, tidur, dan kembali bekerja. Monoton sekali, berbeda dengan kehidupannya semasa kuliah dahulu yang terkesan bebas.

“... Pegawai paruh waktu itu senang lho, kalau diberi tugas. Biarpun tugas itu kecil, tapi rasa dipercayai itu ada. Itu yang membuat senang.” (hal. 267)
Begitupun halnya dengan Ryota, sewaktu masih hidup, ia adalah seorang mahasiswa di universitas kelas dua setengah—yang artinya tidak sangat baik dan tidak sangat buruk juga, menengah—yang juga bekerja sebagai pekerja paruh waktu di sebuah supermarket. Terlebih, dikatakan bahwa Ryota adalah orang yang lahir dengan hidup sial. Walaupun begitu, saat kematiannya banyak orang yang ikut berkabung. Ryota yang nampaknya biasa saja.

Aku tidak menyangka ada begitu banyak orang yang peduli denganku selama ini. Aku jadi berpikir mungkin mereka telah kehilangan orang yang berarti bagi mereka, yaitu aku. (hal. 177)

“Tidak ada kan orangtua yang tidak sedih karena anaknya meninggal.” (hal. 219)
Meskipun alurnya terkesan lambat, ini bisa jadi dikarenakan sebagai awal mula perkenalan kedua tokoh dan masalah yang membelit mereka. Ada hal-hal yang bisa kita ambil dari cerita ini, salah satunya adalah bagaimana caranya me-manage sebuah pekerjaan sehingga dapat terkendali dengan baik. Sudut pandang yang diambil saat pergantian bab juga silih berganti, menimbulkan kesan bagaimana pandangan yang berbeda-beda dari tiap tokoh. Walaupun datar, tapi pesan moralnya oke dan pergantian sudut pandang nggak akan bikin kita bingung kok :D

Tokoh yang ikut menyumbang cerita adalah Minami Hiroto—yang juga dapat melihat Ryota dan sejenisnya, Minami Aiko—adik Hiroto, dan Nojiri Asuka. Ketiganya berperan dalam menentukan ending akhir dari cerita ini.

“Yang kurang dalam diriku itu bukan nyali, tapi waktu. Kalau aku bisa punya waktu luang untuk pergi ke kantor polisi, lebih baik aku tidur.” (hal. 153)
Seperti cerita hantu kebanyakkan, biasanya kita dapat melihat “mereka” ketika frekuensi antara dunia manusia dan dunia “mereka” bertemu di satu titik yang sama. Saat itulah, kita tidak saja dapat merasakan keberadaannya, namun juga dapat berinteraksi satu sama lain. Satu hal lainnya adalah, para hantu tersebut biasanya belum dapat hilang dari dunia nyata ini ketika masih ada urusan mereka yang belum terselesaikan. Apapun itu, sesepele apapun masalahnya, mereka masih akan tetap ada disini, sampai akhirnya mereka dapat menemukan manusia yang mau membantu mereka untuk menyelesaikan masalahnya. Tapi, nggak perlu takut untuk membaca Bonus Track, karena di buku ini, kita tidak disuguhkan cerita horor yang menakutkan. Percaya deh!

“Ada hal yang baik untuk dijadikan candaan, tapi ada juga yang tidak....” (hal. 167)

“Itu urusanmu. Di dunia ini, orang-orang yang masih hidup juga punya urusan sendiri-sendiri.” (hal. 205)

“Aku kadang berpikir, manusia itu lebih mengerikan daripada hantu,” (hal. 321)

“Lagi pula, kehidupan manusia bukan dilihat dari seberapa panjang umurnya...” (hal. 331)

[REVIEW + GIVEAWAY] This Guy is Mine - Gunan Ariani

Tuesday, November 25, 2014

“Walaupun kita nggak pacaran dalam arti sebenarnya, setidaknya hargai aku sebagai teman kamu yang berusaha buat percaya sama kamu.” (hal. 104)

Judul: This Guy is Mine
Penulis: Gunan Ariani
Penerbit: Stiletto Book
Tebal: 272 halaman
Rating: ★★★★

---

Sejak dua tahun lalu, Raisa telah bekerja di La Belle Interior Design. Dan, selama dua tahun itu pulalah ia terus memendam rasa sukanya pada Bastian yang merupakan atasannya. Kabar yang tidak baiknya adalah, banyak rumor beredar yang mengatakan bahwa Bastian ternyata seorang gay! What?!

“Apa pun yang kamu lakuin, aku percaya itu udah jadi keputusan terbaikmu dan udah menjadi hak kamu untuk menyimpan apa pun yang menjadi urusan privasi kamu.” (hal. 53)

“PDKT cuma buat anak remaja, Cel. Gue dengan Bastian nggak perlu itu. Kami cuma perlu mengakui perasaan masing-masing dan biarin waktu yang nentuin apa nantinya kami berdua bisa cocok apa nggak.” (hal. 57)
Yang lebih mengejutkan lagi adalah dengan tiba-tiba saja Bastian menawarkan Raisa untuk menjadi pacarnya, pacar pura-puranya. Walaupun ia sudah banyak mendengar kabar burung tentang Bastian—termasuk dari sahabatnya, Oxcel—dengan mudahnya Raisa mengiyakan tawaran tersebut.

Di sisi lain, tujuan Raisa menerima Bastian adalah karena ia ingin memastikan kerjasama antara La Belle dengan proyek Aphrodite Resort tidak gagal. Ia merasa proyek yang satu ini harus sukses, setidaknya bersama Bastian ia lebih mudah untuk membicarakan hal tersebut dengan Mr. Joseph sebagai pengusaha dari Aphrodite Resort Bali itu.

“Saat karyamu dianggap nggak bernilai. Sedetik setelah karyamu dihargai tinggi lalu secepat itu pula karyamu direndahkan dan nyaris dibuang ke tempat sampah! Catat, bahkan tanpa alasan yang jelas!” (hal. 73)
Kerjasama tersebut memaksa keduanya harus pergi ke Bali, namun banyak kejadian yang menyertai mereka saat berada disana. Mulai dari satu kamar hotel berdua, perselisihan ‘dingin’ dengan Mr. Joseph, hingga kedatangan Sammy yang merupakan teman lama Bastian. Selain sebagai kontraktor dari Aphrodite Resort, hadirnya Sammy makin menambah konflik antara Raisa dengan Bastian.

Disinilah Sammy berperan sebagai laki-laki yang sudah dianggap Abang oleh Bastian. Sayangnya, harapan Sammy selalu menginginkan lebih dari sekadar teman atau saudara, ya Sammy menyukai Bastian. Wow! Lalu, bagaimana ya perasaan Raisa saat mengetahui bahwa Sammy merencanakan sesuatu terhadapnya? Apa yang akan dikatakan Bastian untuk menjelaskan semua ini? Dan bagaimana hubungan pacar pura-pura antara Raisa dan Bastian? Baca selengkapnya di This Guy is Mine.

***

Siapa sangka tema seperti ini bisa dikembangkan menjadi sebuah novel? Mungkin, beberapa di antara kita sering membayangkan hubungan normal layaknya tontonan televisi. Tapi... kebayang nggak sih kalau kita saingan memperebutkan cowok dengan seorang gay? Wah, siapa yang bisa mencuri hati si doi ya? Hihi...

Bastian merasa. Perempuan selalu dapat bermain-main dengan penampilannya dan menjadi apa yang mereka inginkan. (hal. 36)

“Cewek kadang-kadang mesti dikasih hukuman. Gue kasih tahu ya, sibukkan diri lo sesibuk yang lo bisa, sampai lo lupa buat mikirin dia, and then as soon as possible, dia pasti bakal ngehubungin lo.” (hal. 254)
Cerita dibuka dengan percakapan antara Raisa dan Oxcel yang menggosipkan Bastian. Yah, namanya juga orang metropolitan, wanita karier, sudah bisa dibayangkan bagaimana aktivitas mereka di pagi hari. Di awal bab ini, kita juga sedikit dibawa ber-flashback ke dua tahun lalu dimana Raisa dan Bastian pertama kali bertemu. Psst, sebenarnya mereka punya first impression yang sama, lho.

Konflik sebenarnya bermula dari cerita Ms. Alex yang mengatakan bahwa proyek kerjasama La Belle terancam gagal. Sebenarnya, tidak ada yang buruk dengan konsep desain yang Raisa berikan, hanya saja kisah masa lalu membuat Mr. Joseph dari Aphrodite Resort menjadikan hasil karya Raisa sebagai suatu hal yang dipersalahkan. Hmm... Mr. Joseph ini ya, agak kurang profesional gimana gitu.

FYI, sebenarnya aku suka dengan karakter Raisa yang diceritakan dalam novel ini, easy going, ramah, cerdas, dan kreatif lagi. Wah, pantas dong kalau Bastian memilihnya jadi pacar pura-puranya. Selain hubungan kedua tokoh tersebut, kita juga diajak untuk mengenal keluarga Raisa, klien Aphrodite Resort yang bekerjasama dengan La Belle—Sammy dan Andi, dan tentu saja keluarga Bastian yang menjadi alasan mengapa ia memilih Raisa menjadi pacarnya.

Aku bilang, apa pun dan bagaimanapun manusia itu, Tuhan nggak pernah membeda-bedakan umat-Nya, dan Tuhan akan membantu ketika umat-Nya ingin meminta pencerahan dan tuntunan-Nya. (hal. 129)
Walaupun masih ditemukan beberapa kesalahan penulisan kata, tidak menghilangkan esensi cerita ini. Pengolahan tempatnya juga sudah cukup walau masih terasa kurang bagiku *hehe, salah satunya di Bali yang menggambarkan beberapa tempat disana. Yah, meskipun genre-nya chicklit—yang berarti belum boleh dibaca Asyifa—nggak masalah kalau kamu penasaran sama cerita ini *eh.

~ G I V E A W A Y  T I M E ~


Heyyaa ^^ Di blog ini belum pernah bikin giveaway lho, hihi. Terimakasih untuk Stiletto Book yang sudah memilih a, Greedy Bibliophile sebagai host blog tour. Nah, buat kamu yang penasaran kelanjutan cerita dari Raisa dan Bastian ini, yuk ikutan! Ada 2 buku This Guy is Mine yang akan dibagikan kepada pembaca blog ini.

Caranya mudah kok!

- Mempunyai alamat kirim di Indonesia
- Follow twitter @Stiletto_Book dan @asysyifaahs
- Follow blog a, Greedy Bibliophile (iya, blog ini)
- Like fanspage Stiletto Book
- Share link blog post ini di twitter dengan mention @Stiletto_Book dan @asysyifaahs, jangan lupa sertakan #ThisGuysIsMine ya :D
- Jawab pertanyaan berikut di kolom komentar, sertakan nama, akun twitter, dan link share
Pertanyaan adalah “Jika kamu digosipkan sebagai penyuka sesama jenis, bagaimana reaksimu?”
 
Giveaway ini berlangsung dari tanggal 25 – 27 November 2014. Pemenang diumumkan tanggal 28 November 2014 di blog ini. Jadi, jangan sampai kelewatan ya dan ajak teman-temanmu untuk ikutan!


by.asysyifaahs(◕‿◕✿)

[REVIEW] Cool Guys Ramen Shop - Lee Min Young

Sunday, October 19, 2014

Judul: Cool Guys Ramen Shop
Penulis: Lee Min Young
Penerbit: Qanita (imprint Mizan)
Tebal: 453 halaman
Rating: ★★

---
Cha Chi Soo, adalah seorang anak presiden Cha yang memiliki perusahaan di banyak bidang dengan label bernama Chwa World. Chi Soo patut beruntung karena besar dari keluarga yang berkecukupan dalam segala hal—atau lebih tepatnya, serba kelebihan. Tidak heran, sikapnya yang angkuh, manja, dan menganggap sepele orang lain menjadi karakter seorang Chi Soo. Selain kaya, wajah tampannya makin menambah daftar panjang bahwa dirinya patut dianggap sempurna oleh orang lain. Apapun yang diinginkannya pasti selalu dikabulkan sang Ayah.

Berbeda dengan Chi Soo, Hyun Woo—sahabat Chi Soo—punya kehidupan yang bertolak belakang dengan putra pemilik Chwa World tersebut. Hyun Woo harus rela bekerja paruh waktu di tengah kesibukan sekolahnya untuk membayar lunas semua tagihan hutang ayahnya itu. Bukannya membantu bekerja, ayah Hyun Woo malah kabur dan menjadikan Hyun Woo bagai buronan yang selalu dikejar-kejar. Keinginan Hyun Woo tak pernah muluk-muluk, ia hanya menginginkan hidup normal dan tenang, begitu saja.

Kim Ba Wool yang juga teman Chi Soo adalah anak berandalan yang hobinya berkelahi. Ia kesal karena ayah angkatnya yang merupakan seorang Pendeta selalu ingin mengadopsi anak. Ia merasa muak karena bukannya mengasuh, tapi malah memberatkan Ba Wool sebagai kakak tertua untuk menjaga adik-adiknya itu. Ba Wool sangatlah benci dengan ayah angkatnya itu. Belum lagi, kekesalannya pada Chi Soo karena ia merebut So Yi yang sangat dicintai Ba Wool.

Yang Eun Bipanci nikel perak—adalah seorang anak dari pemilik toko ramen. Eun Bi adalah tokoh wanita yang sedang menempuh ujian seleksi untuk bisa menjadi guru. Cita-citanya ini sebenarnya bukanlah keinginannya, Eun Bi tidak suka mengajar, ia lebih menyenangi bermain voli. Namun, karena dipaksa ayahnya, dan merasa bahwa posisi seorang guru lebih ‘dihormati’, maka ia terpaksa untuk mengiyakan saja kemauan sang ayah.

Tanpa diduga, cerita berlanjut bahwa Eun Bi adalah guru magang di sekolahnya Chi Soo. Ia selalu merasa risi jika terus berlama-lama berdekatan dengan muridnya yang satu ini. Entah kenapa, berada di dekat Chi Soo ia selalu merasa ada hal yang aneh, dan di beberapa waktu sering terdengar bunyi lonceng ‘teng teng’ yang menandakan bahwa dialah jodoh Eun Bi.

Kejadian-kejadian seru mewarnai kisah antara guru Yang Eun Bi dan Cha Chi Soo. Sampai akhirnya, keempat tokoh utama itu dipertemukan dengan tokoh bernama Kang Hyuk yang merupakan anak didik dari ayah Eun Bi. Kang Hyuk mengajak mereka untuk membangkitkan kembali toko ramyun tersebut dan berganti nama menjadi “Cool Guys Ramen Shop”. Toko ramen yang tidak jauh berbeda dengan kebanyakkan lainnya, hanya saja Cool Guys Ramen Shop memiliki empat pekerja laki-laki yang tampan, rasa ramen yang sangatlah lezat, dan pelayanan yang disesuaikan dengan ramen yang dipilih. Inilah yang membedakannya dengan toko ramen lain, ada kehangatan yang bisa ditemukan ketika memasuki toko ini.

Masalah silih berganti menghadang setiap tokoh. Chi Soo terhadap ayah dan perasaannya kepada guru magang, Hyun Woo terhadap keinginan hidupnya yang normal dan gadis yang menyukainya, Ba Wool dengan sikap berandalnya dan sang ayah yang menyebalkan, Eun Bi dengan mimpi dan rasa sayangnya pada sang ayah, serta kisah Kang Hyuk yang menuai banyak rahasia.

Ada keunikan tersendiri saat membaca Korean romance yang satu ini. Tidak hanya soal cinta, tapi juga tentang persahabatan dan arti mimpi yang sesungguhnya. Setiap kisah menceritakan satu per satu masalah yang dihadapi setiap tokoh, dengan judul bab berdasarkan nama tokoh dan resepnya tersendiri.
Aku suka gaya penulis Min Young menjelaskan setiap detail kisahnya, kadang tanpa kita sadari satu kisah ini akan punya efek di cerita selanjutnya, mudah diikuti. Lebih senang sih karena terjemahannya ternyata pas, dan rasa komedinya dapet, nggak kaku, walau sempat bingung tentang percakapan ini dikatakan oleh siapa untuk siapa dan kepada siapa (?) Ending-nya ala Korean ending, mungkin yang sering nonton K-drama bisa mengetahui sedikit karakter bagaimana suatu cerita berakhir. Sedikit greget juga lah.

by.asysyifaahs(◕‿◕✿)

[REVIEW] Dear Prudence - @danniefaizal

Monday, August 25, 2014

“Yang namanya perjuangan meraih cita-cita itu emang nggak gampang, banyak jalan panjang dan berliku. Tapi, di sepanjang jalan itu banyak sekali tersembunyi hikmah dan jawaban. Jadi, ketika kamu tiba di tempat tujuan, kamu akan menjadi pribadi yang tangguh,” (hal. 59)

Judul: Dear Prudence
Penulis: @danniefaizal
Penerbit: Bentang Belia
Tebal: 252 halaman
Rating: ★★

---

Klingon, bagaimana ya rasanya saat seorang mahasiswi cantik tiba-tiba mengomentari seorang Irvine Suherman yang baru saja dipangkas jambulnya oleh senior kampus? Adalah Anastasia Prudence alias Prue yang meledek Irvine dengan nama tokoh berjidat lebar dalam Startrek itu. Keduanya adalah mahasiswa yang baru saja diterima di jurusan DKV Trisakti dan menjalani masa OSPEK.

Mungkin ini yang dinamakan jatuh cinta yang sebenar-benarnya, di mana kita merasa segala yang kita butuhkan sudah ada pada diri pasangan kita. (hal. 10)
Melewati masa-masa kuliah bersama Prue, menjadi kesenangan tersendiri bagi Irvine. Ketika untuk pertama kalinya ber-accidental date, nonton bareng, makan bareng, jalan bareng, menjadi kegiatan yang seru di luar pusingnya mata kuliah yang diajarkan para dosen di kelas DKV.

Bukan hal yang aneh jika banyak siswa atau mahasiswa yang sering merasa berat hati menjalani kegiatan belajarnya. Selain materi ajaran yang sulit, terkadang siswa juga sering merasa kesal terhadap pengajarnya sendiri. Sama halnya yang dirasakan Irvine, baginya dosen hanya sekadar menerangkan materi tanpa pernah menghasilkan karya besar dan bahkan membatasi ruang kreativitasnya. Itulah yang membuatnya bersikap arogan, merasa paling benar.

“Bunga kuncup. Bunga merekah dan memancarkan warna cerah. Lalu, perlahan warna itu pun pudar, dan akhirnya layu. Segala sesuatu terjadi sesuai dengan waktunya. Buat apa kamu risau?” — “... Jika sesuatu terjadi nggak sesuai dengan yang kamu rencanakan, bukan berarti kamu gagal. Kamu hanya sedang melalui proses belajar. Akan ada waktu di mana kamu akan berhasil. Ya, semua akan terjadi sesuai dengan waktunya.” (hal. 82)
Menjelang semester akhir, sebagai mahasiswa DKV tentu saja Irvine dan kawan seperjuangan harus menjalankan tugas berupa magang. Awalnya, ia sempat putus asa mengingat Idrus—teman Irvine—sudah lebih dulu mendapat posisi magang di sebuah perusahaan. Mau tidak mau, akhirnya ia diterima sebagai mahasiswa magang di sebuah stasiun televisi yang dulu dianggapnya horor, NewsTV.

“Kita sering panjang angan-angan, ingin membuat sesuatu yang besar. Akibatnya, kita kerap melupakan hal kecil, padahal dari sanalah hal besar itu tumbuh.” (hal. 84)

Mendapat posisi sebagai news graphic bukanlah kemauan Irvine, ia ingin menjadi mograph yang menghasilkan karya besar—begitu pikirnya—sayangnya, terkadang Irvine sering meremehkan tugas-tugas kecil yang malah menjadi petaka baginya dan orang sekantor. Belum lagi, ia harus bersaing dengan sesama magang-er bernama Lusy yang menurutnya lebih kompetitif.

Dalam dunia kerja, attitude yang baik adalah segalanya. Skill bisa dibentuk, tetapi attitude selalu sulit untuk diarahkan.  (hal. 114)
Di samping berbagai kendala yang dihadapi selama masa magang, kisah antara Irvine dengan Prue masih berlanjut. Kadang, ia berpikir akan masa PDKT-nya yang terlalu kadaluarsa, ditambah perubahan-perubahan sifat Prue yang tidak jarang membuatnya kesal. Hanya Mama-nyalah yang mengerti akan kondisi anaknya, Mama yang sering mengerti bagaimana seharusnya Irvine berbuat, dan ya... pengaruh teman-teman Irvine untuk memutuskan sampai sejauh mana ia berjuang demi Prue.

“Cewek emang susah banget ditebak perasaannya, Bro. Gue kesulian banget memahami perasaannya yang naik turun,” (hal. 34)
“... Soalnya kalau lo naksir cewek, pilihan lo cuma dua: pertama, lo harus berani ungkapin perasaan lo, atau kedua, lo harus berani terima kenyataan kalau akhirnya keduluan sama orang lain.” (hal. 37)
Cerita tentang hidup, kisah cinta, keluarga, teman, rival, dan perjuangan akan dunia kerja ditulis dengan apik dalam buku ini. Bagaimana kelanjutan hubungan Irvine dengan Prue, apakah Prue memang menjadi sosok pemilik hati Irvine? Lalu, apakah cita-citanya menjadi motion graphic designer akan tercapai? Baca selengkapnya di Dear Prudence.

***

Dear Prudence ini aku dapat dari penulisnya langsung melalui Kak Dhila @KilasBuku. Iseng karena linimasa dimasuki twit buat cari tiga orang yang berkenan (dan harus) me-review buku ini, tapi... kalau boleh jujur, aku sedikit agak lama ya meresensinya? Hihi, maaf, kuantitas bacaan aku menurun belakangan ini, belum lagi karena waktu buat nonton K-drama, eh lupakan aja.

Mengambil latar tentang The Beatles, hampir sebagian besar kutipan-kutipan di buku ini berkaitan tentang hal itu. Contohnya adalah judul bab dan tracklist yang mungkin bisa kita dengarkan seraya baca Dear Prudence.

“Masa lalu selalu terasa lebih indah jika kita lupa untuk bersyukur,” (hal. 120)
Tulisan diawali dari prolog yang bisa bikin kita tebak-tebakan, pacarnya si ‘gue’ siapa sih? Ditambah, lucunya sang Bokap saat memberi kue—entah apa jenisnya, rupanya, rasanya, dan namanya—ke si ‘gue’ yang dengan amat terpaksa malah jadi bekal perjalanan.

Digiring masuk ke dalam cerita, kita akan tahu kalau sudut pandang yang diambil adalah dari Irvine, yang bercerita soal kehidupan kuliahnya, magangnya, keluarganya, sampai cerita cintanya. Di atas, review tidak membahas semua bagian cerita *iyalah, spoiler dong!*, banyak peralihan latar dari satu setting ke setting lainnya, dan itu nggak bikin bingung kok. Contohnya saat mereka pergi ke Kawah Putih, cerita di pemakaman, sampai cerita tentang bedah buku *nah lho*. Pasti bingung deh, makanya Dear Prudence dibaca sendiri ya, biar nggak kepo :P

Aku sih berpikirnya kalau Irvine ini adalah penulisnya sendiri, yang tentunya diceritakan dengan fiktif. Salah satu yang menjadi alasan adalah jurusan DKV sebagai pilihan, magang di NewsTV—yang bisa kamu tebak dengan mudah dari penjelasannya, sampai cerita kalau Irvine adalah blogger yang jadi penulis buku. Pokoknya bakal ngeh kalau kamu baca siapa Dannie Faizal di akhir halaman, baru baca bukunya *eh.

“Setiap orang akan merasakan kehilangan. Maka dari itu, kita tak perlu merisaukannya,” (hal. 128)
“... Gue selalu percaya bahwa orang baik tak pernah dibiarkan hidup tanpa diuji. Dan ujian datang untuk kebaikan yang lebih besar,” (hal. 129)
Sinopsisnya sih bilang gini, Nyokap gue malah bilang bahwa arus hidup kadang membawa kita ke tikungan lain, dan menyarankan agar coba melihat cewek lain. Tapi, entah aku yang keliru atau gimana, aku nggak begitu yakin ada cerita yang bahas bahwa Mamanya Irvine menyarankan demikian, mostly Mamanya sering nasihatin tentang masa magangnya di NewsTV yang nyaris gagal. Hmm...

Balik ke cerita cewek tadi, jadi siapa sih pacarnya Irvine yang selalu memanggil namanya dengan “Ringo-kuuuuuu”, bagaikan tarzan yang melambai-lambai cheetah itu? Apa memang Prue? Aku yakin, ceritanya bikin TERTIPU dan of course, happy ending, xoxo.

by.asysyifaahs(◕‿◕✿)

[REVIEW] Dimensi by Triani Retno A & Rassa Shienta A

Friday, August 15, 2014

Judul: Dimensi
Penulis: Triani Retno A. & Rassa Shienta A.
Penerbit: Elex Media Komputindo
Tebal: 195 halaman
Rating: ★★★★

---

Tuhan memiliki begitu banyak rahasia. Manusia hanya diberi sedikit ilmu untuk mempelajari dan mengungkapkan rahasia-rahasia itu, terutama tentang alam gaib. (hal. 146)

Hari itu, kelas XI IPS kedatangan murid baru bernama Zhafira Massawa. Siswi pindahan yang merupakan keturunan Arab-Palembang-Sunda ini terpaksa pindah mengikuti Abi-nya yang mendapat tugas baru di Kota Bandung. Bukan hal yang mudah bagi Zha—begitu panggilannya—untuk beradaptasi dari SMAN 16 Palembang ke SMAN 215 Bandung dengan berbagai hal yang berlawanan dengan kebiasaannya.

Namun, semua hal itu berubah ketika Zha berkenalan dengan Keira Luvena, makhluk paling bawel dan si tukang ngayal tingkat tinggi. Hari-hari Zha terasa lebih menyenangkan, dan ia tidak pernah sungkan lagi untuk berbagi cerita yang belum diketahui teman-temannya dulu kepada Keira.

Suatu saat, Keira merasa curiga terhadap perlakuan Zha, ia merasa ada yang aneh dengan temannya itu. Dibantu Aldiano Dewanto, teman laki-laki sekelasnya itu, akhirnya Keira tahu kalau Zha ternyata seorang indigo. Indigo intradimensional.

“Itu, kan, karunia, Zha. Pemberian Tuhan. Tidak seorang pun bisa menahan rahmat yang dianugerahkan Tuhan kepada manusia. Begitu juga, tidak seorang pun dapat melepaskan apa saja yang ditahan oleh Allah,” (hal. 99)
Beberapa kali Zha harus merasakan berpindah dari satu dimensi ke dimensi lain. Ketika untuk pertama kalinya Keira dan Aldi mengetahui bahwa Zha pingsan, mereka merasa terkejut bahwa ternyata Zha pingsan karena ia sedang berintradimensi.

“... Hidup itu sederhana, Zha, tapi dengan bersyukur hidup akan jadi luar biasa. Dengan bersyukur kamu akan lebih bahagia dan hatimu akan jauh lebih tenang. Nggak semua orang bisa mendapatkan anugerah istimewa sepertimu,” — “... Jangan mengeluh. Keluhan itu bisa mengganda di otakmu dan akan membuat mentalmu semakin lemah. ...” (hal. 101)
Masa lalu, masa depan. Bukan hal yang aneh bagi seorang Zha jika ia harus pingsan dan melewati labirin waktu serta dibawa ke banyak tempat yang terkadang tidak ia ketahui. Dari sekian banyaknya tempat, sekolahnya sendiri-lah yang akhirnya membawanya pada sebuah misteri yang harus ia pecahkan. Dibantu Keira dan Aldi, Zha harus membantu seorang putri ningrat dari masa lalu, bagaimanakah perjalanan intradimensi Zha dan pertemuannya dengan Sekar Ayu? Apa yang harus Keira dan Aldi lakukan? Baca selengkapnya di DIMENSI.

***

Menyenangkan sekali, karena untuk pertama kalinya (lagi) bisa menuntaskan sebuah buku bacaan hanya dalam beberapa jam saja—dua jam sampai adzan Dzuhur hari Jumat berkumandang. Setelah sebelumnya berjuang mendapatkan buku ini dari penulisnya langsung, dan berjanji akan segera meresensinya dalam blog, akhirnya tunai sudah janji itu. Yeeee ^^v


Baiklah, kesan pertama yang aku tangkap dari cover buku, mungkin ini tentang cerita romance anak metropolitan. Namun, setelah membaca sedikit Thanks To dan hampir lupa membaca Sinopsis, ternyata buku ini bercerita tentang kisah anak indigo, Zha si indigo intradimensional. Wah, kayaknya lama nih belum baca buku yang bahas kayak gini, apalagi aku juga punya adik kelas yang (entah sekarang masih atau tidak) indigo juga, namanya Amira, kalau mau tahu :P

Kisah sebenarnya diawali dari cerita keseharian Keira dan adiknya, Keanu. Menceritakan juga tentang Maminya yang adalah seorang dosen di banyak universitas. Aku pikir, pada awalnya, mungkin si Keanu yang jadi anak indigo, tapi nggak ada tanda-tanda kalau dia yang bakal memerankan peran ini. Ah, tebakan Asyifa meleset jauh :(

Cerita kebanyakkan berlatar di sekolah, SMAN 215 Bandung. Hm, angka 215 udah kejauhan ya buat sekolah SMA di Bandung. Setauku untuk sekolah dengan label SMAN baru ada 20 apa 30 ya? Maaf kalau salah, bukan AKB, Anak Kota Bandung, hehe. Kalau dibaca dari latarnya, gedung sekolahnya, koridor, toilet, dan bahkan cat sekolah, aku pikir SMAN 215 ini wujud lain dari SMAN 5 Bandung. Iya nggak sih Mbak? *kalau salah, selain digebuk penulis, juga dihajar se-Belitung Timur, ealah*.

Ceritanya? Mengalir aja, benar-benar berjalan sebagaimana adanya. Kita juga bisa aja diajak jalan-jalan ke masa lalu dan masa depan yang mungkin di luar nalar, agak susah sih membayangkannya, apalagi cerita saat si Zha dibawa ke Kerajaan Pajajaran, duh x_x Akan tetapi..., masih ada beberapa hal yang mungkin bisa dijadikan saran, beberapa kali aku menemukan kata berbahasa lokal, selain atuh atau Neng, mungkin bisa dipastikan banyak orang tahu. Tapi, bagaimana ceritanya dengan ‘ngebanjur’ (hal. 18), aku sendiri kaget, ada kata nge-banjur yang mungkin saja pembaca buku Dimensi masih belum paham, kalau tidak pakai footnote ya ganti saja dengan kalimat Indonesia, disiram atau diguyur misalnya.

“Lagian apa asyiknya, sih, nonton bola? Bola cuma satu direbutin sama dua puluh dua orang gitu. Biasa kan ngantre, dong. Nunggu giliran, jangan rebutan gitu.” — “Tiru dong pemain bola bekel. Sabar mengantre sampai dapat giliran. Nggak main rebut dari lawan. Gimana kalau orang yang bolanya direbut ngerasa nggak rela? Wah, repot tuh urusannya, Nu. Dia bisa merasa teraniaya. Padahal, dosa orang teraniaya itu pasti dikabulkan oleh Allah. Bisa aja, kan, dia berdoa supaya lawan yang merebut bolanya itu kalah...” (hal. 2)
Tapi, tidak menutup kemungkinan selama membaca buku ini, kamu bisa tersenyum sendiri—saat membaca buku ya! Kelakuan-kelakuan aneh dari tiap tokohnya, terutama antara Aldi-Keira kadang bisa bikin ngakak, sekaligus iri, ah... harus dibaca deh. Anyway, entah kenapa ya banyak di antara keterangan dari tokoh-tokohnya dekat dengan kehidupan aku sendiri. Misal, nama ‘Luvena’ yang adalah juga nama belakang dari Kakak sepupu, beda dikit, sepupu aku nama belakangnya Luverina, doi nggak bawel kayak Keira kok. Terus nama belakang Aldi yang mengingatkan salah satu teman di Kota Bandung, Salman Dewanto, haha. Dan ya... terimakasih untuk ide penulis, baik Mbak Retno maupun Mbak Shienta yang telah berpikir memilihkan kelas untuk Sam, XI IPA 3, bangganya nama kelasku disebut, XI MIIA 3, karena MIIA adalah program IPA, sama saja. Terimakasih ya, kapan-kapan, bawa nama aku juga buat dijadikan nama tokoh *ngarep*.

by.asysyifaahs(◕‿◕✿)
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
 
a book blog by @asysyifaahs