Showing posts with label Rating 3. Show all posts
Showing posts with label Rating 3. Show all posts

[REVIEW] Reasons - Aditia Yudis

Saturday, May 21, 2016

Baginya, mencegah hal-hal buruk terjadi lebih baik daripada harus mencari-cari masalah. Dalam hidup, sebuah masalah sering kali masuk tanpa permisi tanpa perlu diundang. (hal. 41)

Reasons
Penulis: Aditia Yudis
Penerbit: teen@noura
Penyunting: Ida Wadji, Jason Abdul (@jason_isme)
Penyelaras aksara: Putri Rosdiana, @kaguralian
Penata aksara: Nurhasanah (@nunu_129) 
Perancang sampul: Fahmi Ilmansyah 
Penggambar ilustrasi: Yahya Abdul Aziz 
Tebal: 332 halaman
Terbit: Juli 2013 (Cetakan I)
Ratingku: 3/5

---

Adeline dan Amber adalah dua orang siswa yang memiliki latar belakang berbeda namun punya keinginan yang sama, menjadi pemenang lomba karya tulis ilmiah agar bisa masuk kampus impian mereka dengan mudah. Keduanya sama-sama pintar, tapi kalau diibaratkan ftv, Adeline adalah tipe cewek yang nggak cukup beruntung dengan kondisi keluarga yang biasa saja, belum lagi keadaan ayahnya yang sudah meninggal membuat Adeline terpaksa menjauh dari ibunya dan tinggal di kosan. Berbeda dengan Amber yang bisa dibilang punya kondisi yang serba nyaman, meski demikian tetap saja ia sering mengeluh dengan keinginan orangtuanya yang memaksa ia untuk selalu dibanding-bandingkan dengan kakaknya, Abimantra.

[REVIEW] Cherish Cheri - Nita Trismaya

Tuesday, September 22, 2015

Apakah masih ada yang berani bilang bahwa jarak bukan masalah? (hal. 108)

Judul: Cherish Cheri
Penulis: Nita Trismaya
Penerbit: PlotPoint
Ilustrasi sampul: Diela Maharanie
Pemeriksa aksara: Dias Rifanza
Penata aksara: Kuswanto
Desain: Teguh Pandirian
Ilustrasi: Ochidyati
Tebal: 233 halaman
Terbit: April 2013 (Cetakan Pertama)
Rating: ★★★

---

Cheri adalah siswa kelas 3 SMA di Jakarta yang sedang menjalani hubungan jarak jauh (red, LDR—Long Distance Relationship) bersama Mikka yang kuliah di Melbourne. Sama seperti pasangan LDR kebanyakan, cara mereka berkomunikasi hanya bermodalkan Skype meski sering kali terhambat dengan perbedaan waktu dan koneksi internet. Kalau Cheri lagi bangun, bisa jadi Mikka malah sedang tidur, makanya kadang kala keduanya mencuri-curi waktu hanya untuk sekadar menggugurkan perasaan rindu yang terbentang jarak ribuan kilometer itu.

Padahal untuk membuktikan cinta adalah dari tindakan, bukan serbuan kata-kata semata. (hal. 107)

Meski Mikka berada di negeri kanguru, Cheri akan selalu setia dengannya, nggak heran deh kalau sampai dia sudah punya tempat tersendiri di hati keluarga Mikka yang berada di Bandung. Contohnya saja tentang undangan dari mama Mikka yang sedang berulang tahun membuat Cheri sudah dianggap jadi bagian keluarga pacarnya itu.

[REVIEW] Stasiun - Cynthia Febrina

Monday, September 21, 2015

“Kamu harus ingat hidup adalah pertemuan dan perpisahan. Jika suatu saat kita berpisah akankah kamu mengatakan kalimat itu walau pada bayangan?” (hal. 74)

Judul: Stasiun
Penulis: Cynthia Febrina
Penerbit: PlotPoint
Penyunting: Gina S Noer, Ninus D Andarnuswari
Ilustrasi sampul: Diani Apsari
Pemeriksa aksara: Ridho Wijaya
Penata aksara: Kuswanto
Desain: Teguh Pandirian
Ilustrasi: Matahari Indonesia
Tebal: 170 halaman
Terbit: Mei 2013 (Cetakan Pertama)
Rating: ★★★

---

Adinda baru saja diputuskan Rangga yang kini telah menjadi mantan kekasihnya. Ia yang dulu akan selalu bersama Rangga tiba-tiba saja harus menghadapi kebiasaan baru dalam hal pulang-pergi dari dan ke kantor tempatnya bekerja. Dulu, Ranggalah yang senantiasa menjemput Adinda, setia dari Bogor menuju Jakarta. Namun, setelah kenyataan pahit itu, mau tidak mau Adinda harus terpaksa menaiki kereta api.

Ryan adalah seorang lelaki pekerja yang bertitel “anak kereta sejati”. Ada banyak hal yang berkaitan dengan stasiun yang sudah dikenalnya, tak luput pertemanan dengan orang-orang yang tak pernah absen menjadi penghuni di sekitar stasiun.

“Semakin disembunyikan, perasaan jatuh cinta itu semakin terlihat.” — “Oooh, saat jatuh cinta semua hal yang nggak mungkin jadi mungkin, yang nggak nyambung jadi nyambung.” (hal. 112)

[REVIEW + GIVEAWAY] You Had Me at "Hello" - Indah Hanaco

Tuesday, September 15, 2015

“Papa ingin membuat kalian mengerti kalau tiap perbuatan itu ada konsekuensinya, entah itu perbuatan baik atau buruk.” (hal. 23)

Judul: You Had Me at “Hello”
Penulis: Indah Hanaco
Penerbit: Elex Media Komputindo
Editor: Afrianty P. Pardede
Tebal: 354 halaman
Rating: ★★★

---

Inanna dan Zora adalah sepasang kembar yang lahir dari keluarga berada. Sayangnya, hal tersebut membuat keduanya lebih banyak berfoya-foya dan sukses membuat sang ayah limbung akibat perbuatannya. Bagaimana tidak, dua orang anak melakukan keributan sekaligus yang akhirnya membuat Navid—ayah mereka—melakukan perjodohan untuk keduanya.

Ina yang masih kuliah saat itu, merasa bahwa hukuman yang diberikan ayahnya terlalu primitif. Ia tidak suka dijodoh-jodohkan, apalagi kalau harus bersama dengan Martin—anak dari teman ayahnya—yang memiliki kriteria yang tidak Ina sukai sama sekali. Yah, lagi pula siapa sih di zaman sekarang ini yang masih berpikir seperti cerita Siti Nurbaya?

Seminim-minimnya pengalaman Ina soal asmara, boleh kan kalau dia punya harapan? Bahwa suaminya kelak adalah, kalau bisa, orang yang dicintainya dengan sungguh-sungguh. Bukan "hadiah" yang disodorkan ayahnya meski dalam bungkus kado paling menyita perhatian. Pasangan itu semestinya hadiah yang berasal dari Tuhan, bukan dari manusia lain. (hal. 27)

Kekesalannya soal perjodohan membuatnya masuk ke dalam masalah yang lebih serius. Melalui kecelakaan, ia berkenalan dengan Alistair, korban yang ditabraknya sekaligus orang yang menyedot perhatian Inanna saat mereka pertama kali bertemu karena mata biru es itu. Tak disangkanya, bayaran yang harus ia balas bukanlah sejumlah uang (yang bisa saja dimintanya dari sang ayah), tapi kesepakatan dengan orang tua Alistair bahwa Ina harus bersedia menikah dengan putra mereka. Kejadian kecil memang selalu berdampak besar, kan?

[REVIEW] Student Guidebook for Dummies 2 - Kevin Anggara

Friday, June 26, 2015

Ada pepatah yang bilang, “pintar itu relatif, nyontek itu alternatif”. (hal. 150)

Judul: Student Guidebook for Dummies 2
Penulis: Kevin Anggara
Penerbit: Bukune
Penyunting: Ry Azzura
Penyelaras aksara: Irsyad Zulfahmi
Pendesain sampul: Ayu Widjaja
Penata letak: Erina Puspitasari
Ilustrator: Arie Je & Misterpadil
Tebal: 164 halaman
Rating: ★★★

Anak muda sekarang, siapa sih yang nggak tahu Kevin Anggara? Oke, bisa jadi sebagian di antara mereka ada yang nggak kenal. Alasannya banyak. Pertama, mereka belum pernah kenalan (aku juga sih ya—secara langsung!). Kedua, mereka nggak tahu karena nggak mau tahu atau nggak melek sosial media. Ketiga, nganggep kalau Kevin adalah adiknya Dimas Anggara. Oke, yang terakhir agak... salah besar sih ya!

Jadi anggaplah kamu semua sudah kenal Kevin Anggara ya—sebagai blogger, vlogger, vidgrammer, atau pelajar SMA yang tahun ini baru lulus. Cieee...! Kali ini, Ko Kevin menerbitkan buku keduanya lagi setelah dua tahun lamanya debut dari buku seri pertama, Student Guidebook for Dummies.

Menurut gue, percuma sekolah bagus kalo diri sendiri nggak bisa memahami pelajaran yang ada. (hal. 48)

Apa yang berbeda dari kedua seri ini? Banyak!

[REVIEW] Penunggu Puncak Ancala - Indra Maulana, dkk

Sunday, May 3, 2015

Karena di dunia ini tidak ada yang benar-benar hidup, juga tidak ada yang benar-benar mati. (hal. 123)

Judul: Penunggu Puncak Ancala
Penulis: Indra Maulana, Sulung Hanum, Ageng Wuri, Acen Trisusanto, Dea Sihotang
Penerbit: Bukune
Editor: Astri Apriyani & Elly Afriani
Proofreader: Widyawati Oktavia
Penata letak: Irene Yunita
Desain sampul: Gita Mariana
Ilustrator: Nana Naung
Tebal: 208 halaman
Harga: Rp. 38.000,-
Rating: ★★★

Bagi mereka pendaki gunung, bisa kukatakan mereka adalah tipe orang yang setia. Coba aja lihat, gunung aja didaki, apalagi cintanya *tsaaah. Oke baik, lupakan kalimat tadi, karena toh buku yang akan kita bahas sekarang jauh dari hal yang nyeleneh dan sok gombal.

Penunggu Puncak Ancala adalah buku yang berisi kumpulan kisah nyata dari tiap penulis. Masing-masing menuliskan dua cerita yang berkaitan dengan pengalaman horor mereka ketika mendaki gunung. Ancala sendiri dalam bahasa Sanskerta berarti gunung. Itu kenapa sampai halaman terakhir, aku nggak menemukan 'Puncak Ancala', karena ya artinya sama saja dengan puncak gunung :D

Meski tidak semua cerita mengisahkan tentang pendakian gunung, ada beberapa cerita yang mengambil destinasi seperti Ujung Kulon, Goa Pindul, dan Danau Singkarak. Di bawah ini, akan kuceritakan salah satu dari cerita tiap penulis.

[REVIEW] 3 Sisi Susi - Fyra Fatima

Friday, May 1, 2015

"Saya orang yang full komitmen kalau mengerjakan sesuatu. Saya ingin eksistensi dan pengalaman saya membuahkan hasil." (hal. 150)

Judul: 3 Sisi Susi
Penulis: Fyra Fatima
Penerbit: Visimedia
Penyunting: Zulfa Simatur, Fitria Pratiwi, Lis Sutinah
Pendesain sampul & penata letak: EM. Giri
Ilustrasi sampul: Aminudin Hadinugroho
Tebal: 172 halaman
Harga: Rp. 45.000,-
Rating: ★★★

Siapa yang tidak kenal Susi Pudjiastuti? Perempuan yang kini menjabat sebagai Menteri Kelautan dan Perikanan ini sejak dinobatkan masuk menjadi orang-orang yang terpilih dalam Kabinet Kerja, telah tersohor ke berbagai kalangan, termasuk aku sendiri. Sejak Presiden Jokowi membacakan satu per satu nama-nama para menteri, ada satu yang membuatku salut sekaligus heran, di antara menteri perempuan, Bu Susi-lah yang paling nyentrik dan gawl—menurutku.

Meski sebelumnya belum mengetahui beliau dari latar belakangnya, aku adalah salah satu orang yang meyakini bahwa kehadiran beliau dapat menjadi pilihan terbaik untuk Indonesia, khususnya Kementerian Kelautan dan Perikanan (yang selanjutnya akan kusingkat dengan KKP). Dan, yap, sejauh + 7 bulan Kabinet Kerja berjalan, Bu Susi-lah yang paling keren dengan gebrakan-gebrakan beraninya. Pak Jokowi nggak salah pilih!

Di buku ini, kita akan mengenal lebih dekat siapa itu Susi Pudjiastuti. Santer terdengar banyak kabar ini-itu, yang mungkin sebagian orang masih belum mengetahuinya dengan benar. Di buku ini pula, kisah Bu Susi terangkum dalam tiga sisi.

[REVIEW] Supernova #1: Ksatria, Puteri, dan Bintang Jatuh - Dee

Sunday, October 19, 2014

Mencintai sesuatu atau seseorang dengan keutuhan diri adalah satu-satunya cara mencinta. Sementara perasaan tidak lengkap atau ketergantungan adalah refleksi jarak Anda dengan diri sendiri. (hal. 162)

Judul: Supernova #1: Ksatria, Puteri, dan Bintang Jatuh
Penulis: Dee Lestari
Penerbit: Truedee Books
Tebal: 231 halaman
Rating: ★★

---
“Pernahkah kamu merasa kita semua terlahirkan ke dunia dengan membawa tanda tanya agung? Tanda tanya itu bersembunyi sangat halus di setiap atom tubuh kita, membuat manusia terus bertanya, dihantui, sehingga seolah-olah misi hidupnya pun hanya untuk menjawab tanda tanya itu.” (hal. 45)
Di saat orang lain sedang bergembira ria menyambut datangnya seri Supernova terbaru datang—Gelombang—baiklah, kali ini aku akan membahas tentang seri pertama Supernova—Ksatria, Puteri, dan Bintang Jatuh *karena melawan arus itu keren*.

Puteri,
Kembalilah ke puri ini.
Satu semesta mungil yang mampu melumat bumi
Kalau aku mau membentangkannya. (hal. 20)

Agak sulit awalnya membayangkan akan seperti apa dan bagaimana cerita ini berjalan. Secara garis besar, KPBJ bercerita tentang kisah di dalam kisah. Ibarat cerita buku di dalam buku. Kedua tokoh utama bernama Dhimas dan Ruben ini memutuskan untuk membuat sebuah masterpiece—mahakarya bersama tentang kisah cinta yang tidak biasa.

Dalam cerita hasil kolaborasi keduanya, ada tiga tokoh utama yang berperan besar dalam cerita, yakni Ferre, Rana, dan Diva. Ferre adalah seorang pria muda metropolis yang tidak hanya pintar dan sukses, tapi juga masih single dan orang yang puitis sekali. Semenjak kecil,  ia sangat terobsesi dengan dongeng Ksatria, Puteri, dan Bintang Jatuh. Kelak, ia bermimpi untuk menjadi seorang Ksatria.

Neneknya menenangkan: Itu hanya dongeng, Re. Satu dongeng sedih yang tak sengaja kamu temukan. Masih banyak dongeng lain yang berakhir bahagia. (hal. 29)
Keinginan menjadi Ksatria yang memperjuangkan cintanya terhadap sang Puteri seolah benar-benar terkabul. Satu hari, Ferre seolah menemukan jiwa sang Puteri itu ada pada diri Rana, seorang reporter majalah yang sudah bersuami. Di sinilah konflik mulai hadir antara cerita Ferre dan Rana ini, di antara keinginan dan kenyataan yang tidak sesuai dengan harapan. Tentang perasaan Ferre terhadap Rana dan tentang perasaan Rana pada Arwin—suaminya.

Mungkin memang begini ini adanya... Cinta tidak membebaskan. Konsep itu memang utopis. Cinta itu tirani. Ia membelenggu. Menggiringnya ke lorong panjang pengorbanan. (hal. 79)
Di sisi lain, sang pencipta karya—Dhimas dan Ruben—makin menambah suasana dengan menghadirkan Diva di tengah kemelut cerita. Dialah sang Bintang Jatuh, bintang yang melenyapkan mimpi Ksatria di dongeng masa kecil itu. Tapi... selain itu, muncul juga seorang cyber avatar yang bernama Supernova. Tanpa kita sadari, dialah yang menghubungkan masing-masing kisah dari cerita mereka ini.

Di awal, aku sempat merasa nggak akan sanggup membacanya sampai akhir. Masih cukup bingung dengan alurnya yang belum menemukan titik potong (ealah, jadi kayak Matematika).

Dee juga mewarnai cerita KPBJ ini dengan istilah-istilah sains terhadap kehidupan yang dijalani dalam cerita ini. Ada banyak istilah asing yang mungkin bisa membuat kita mengernyitkan dahi atau mungkin sampai mabok, ibarat karya fiksi ilmiah—bisa jadi kita serasa diingatkan dengan mata pelajaran Fisika (bahkan di sekolah aku pun belum belajar demikian).

Turbulensi hadir di mana-mana, dalam hidup organisme sesederhana bakteri sampai ke interaksi antarplanet di Bimasakti. (hal. 7)
Akan tetapi, dengan alur cerita yang mengalir, utuh, dan saling bertautan, secara nggak langsung dan tanpa kita sadari KPBJ memberi hikmah pada pembaca untuk punya cara pandang lain tentang kehidupan ini.

“Ketika kita balikkan cara pandang kita, maka kenyataan pun berubah; ternyata pelacuran terjadi di mana-mana. Hampir semua orang melacurkan waktu, jati diri, pikiran, bahkan jiwanya. Dan bagaimana kalau ternyata itulah pelacuran yang paling hina?” (hal. 50)

Berhentilah merasa hampa. Berhentilah minta tolong untuk dilengkapi. Berhentilah berteriak-teriak ke sesuatu di luar sana. Berhentilah bertingkah seperti ikan di dalam kolam yang malah mencari-cari air. Apa yang Anda butuhkan semuanya sudah tersedia. (hal. 139)
by.asysyifaahs(◕‿◕✿)

[REVIEW] Maddah by Risa Saraswati

Monday, August 18, 2014

Judul: Maddah
Penulis: Risa Saraswati
Penerbit: Rak Buku
Tebal: 246 halaman
Rating: ★★★

---

Maddah adalah buku kedua dari trilogi kisah Peter cs, kembali Risa Saraswati menceritakan dunianya yang menyenangkan bersama kelima sahabatnya, dan juga dua sahabat barunya, Marianne—si gadis galak yang sembrono namun bisa berteman baik dengan Peter karena kesamaan watak yang mereka miliki, dan Norma—gadis cilik yang cantik dan baik dan sempat membuat pertengkaran di antara William dan Hendrick.

Ada beberapa kisah yang dituliskan, sama seperti buku sebelumnya—Danur—setiap kisah tentu menceritakan pengalaman Teh Risa dengan “mereka-mereka” yang baru ditemuinya, “mereka-mereka” yang tidak saja hanya menuang memori dalam buku ini, tapi juga menjadi awal perkenalan pembaca dengan setiap elemen yang ada. Yeah, you know what I mean.

Ada kisah Adam dan Biyan, sepasang kekasih yang tak lama lagi akan melangsungkan janji pernikahan. Namun, sebagai seorang calon pengantin, tidak heran jika Biyan menginginkan sesuatu yang spesial dari calon pasangannya, sebuah sepatu hitam yang dipesannya kepada seorang teman. Sepatu hitam dengan manik-manik hitam berkilauan yang menghiasi seluruh bagiannya itu kini akan jadi milik Biyan, namun sayang cerita ini berakhir ketika takdir memaksa sebuah tragedi terseret arus sungai menimpa pasangan kekasih itu. Jiwa mereka berpisah, namun cinta mereka bersama, bahkan setelah kematian sekalipun.

Ada lagi Ivanna, seorang perempuan jahat yang suka mencelakai orang lain. Keadaan yang memaksanya begitu. Ivanna adalah musuh besar Elizabeth, perempuan yang menjadikan perpecahan dalam keluarga Ivanna karena ia mencemooh Dimas—adik Ivanna, hanya karena namanya yang sangat Indonesia. Maka, dari kisah ini, terciptalah lagu Ivanna milik Risa Saraswati.



Penari itu adalah Canting, perempuan yang rela meninggalkan sekolah dan keluarganya hanya karena dirinya jatuh cinta pada sang pelatih, Farid. Perjalanan cinta mereka sangat menarik, Farid bisa dikatakan orang yang dapat memikat hati seorang perempuan bernama Canting. Suatu kecelakaan terjadi, Canting meminta Farid untuk sesegera mungkin menikahinya sebelum perutnya benar-benar membesar tanpa seseorang di sampingnya. Semua berjalan tidak seperti yang diharapkannya. Farid pergi meninggalkan Canting yang masih hamil karena ternyata ia sudah berumah tangga, Farid pergi untuk kembali ke keluarganya. Hidup seorang diri, berjuang dalam masa kehamilan, hingga melahirkan seorang anak lelaki, adalah pengorbanan yang harus Canting lakukan untuk melahirkan seorang anak manusia bernama Buih. Buih dititipkan kepada nenek dan kakeknya—Bapak dan Ibu Canting, karena Tuhan telah meminta Canting kembali sesaat setelah melahirkan Buih.



Ada lagi kisah sepasang kekasih yang ceritanya menyayat hati, Ladira dan Ardiga. Keduanya saling mencintai satu sama lain, perbedaan yang ada tidak membuat mereka merasa risi terhadap pandangan orang banyak mengenai perbedaan keyakinan. Dira adalah seorang Kristen Tionghoa, sedangkan Diga adalah laki-laki muslim anak dari seorang Kiai. Cinta mereka berakhir menyedihkan, memaksa keduanya berpisah karena perbedaan yang jarang bisa diterima banyak orang. Perbedaan untuk status seperti umur, sosial, ras memang bukan suatu hal yang besar, tapi apakah itu sama berlakunya dengan perbedaan agama diantara dua insan yang saling mencinta?

“Jika kau memang mencintaiku... kau harus percaya...” (hal. 168)
Tidak hanya itu, cerita lainnya juga dituang Teh Risa dari segi pandangnya yang menarik. Selipan cerita tentang kawan-kawannya ia kemas dengan caranya sendiri. Apa saja yang ditulisnya? Baca selengkapnya di Maddah.

***

Bukan hal yang mudah buatku menulis ulasan buku yang satu ini. Selain karena tersendat waktu dan peristiwa yang darurat, aku kadang takut juga kalau menulisnya di waktu tertentu, ketika sendiri atau malam menjelang. Hehe, asumsi bodoh sebenarnya, dan lebih bodoh aku melakukannya hingga kini memberanikan diri menulis review di malam hari.


Setiap cerita dalam Maddah diceritakan cukup panjang, namun tetap berkesan. Tetap ada kisah Peter, William, Hans, Hendrick, dan Janshen, kelima sahabat astral Teh Risa, namun dengan cerita yang lain—tentu saja—dengan buku Danur (Danur lebih bercerita kepada perkenalan dan masa lalu setiap karakter). Ada juga surat-surat yang menjadi sisipan di tiap jeda antara satu cerita ke cerita lainnya. Kadang tidak berkaitan, tapi kalau sudah baca Danur setidaknya, kita bisa paham kok.

Dari banyaknya cerita, aku suka kisah Ladira dan Ardiga. Dua sejoli yang memiliki akhir kisah menyedihkan karena sebuah perbedaan. Aku meyakini satu hal, perbedaan itu ada, perbedaan itu seperti air dan minyak—tak pernah bisa bersatu, namun tetap bisa berdampingan. Kisahnya juga cukup familiar ya apalagi kalau dikaitkan dengan kisah dari Dwi**sar* tentang Cinta Tapi Beda. Hm.

Ah ya, aku suka cara Teh Risa menuliskan judul dari setiap kisah, bahasa yang digunakan jarang bahkan baru aku tahu penulisan katanya. Mungkin bahasa Indonesia zaman dahulu, atau bahasa arkais yang aku sendiri nggak tahu apa maknanya. Apalagi, kata-kata itu bakal kamu temukan lebih banyak dalam Sunyaruri. See? Maddah membawaku pada ingatan tentang acara Léngkah Maddah yang beberapa waktu lalu diadakan di Bandung, dan tentunya beberapa kali aku senang memutar track Ivanna hanya karena suara jeritannya yang jadi candu.

by.asysyifaahs(◕‿◕✿)

[REVIEW] Oishii Jungle by Erlita Pratiwi

Monday, July 7, 2014

“... Sejatinya, sebuah persahabatan tidak akan lekang oleh waktu dan rentang jarak yang memisahkan.” (hal. 190)

Judul: Oishii Jungle
Penulis: Erlita Pratiwi
Penerbit: Grasindo
Tebal: 194 halaman
ISBN: 978-602-251-489-3
Rating: ★★★

---

Shasa, si anak Mama itu tiba-tiba saja bertanya pada Era tentang tempat eksotis di Indonesia yang seru dikunjungi dan tidak mudah untuk melupakan pengalamannya. Era, partner in crime-nya itu merasa heran, kenapa tiba-tiba Shasa menanyakan hal demikian? Padahal, biasanya ia tidak perlu bersusah payah untuk menanyakan tempat-tempat wisata menarik di Indonesia, karena tentu saja Shasa akan lebih banyak berlibur di luar negeri daripada di tanah airnya sendiri.

Maka demi menonton drama kabuki di gedung teater Kabuki-za, Tokyo, ia rela mencari cara agar supaya ia bisa menarik minat Akiko dan Kenji—temannya yang berada di Jepang itu—untuk menyetujui destinasi wisata Indonesia yang ditawarkannya. Ia sampai meminta Era untuk mencari lebih banyak tempat wisata yang diinginkan Akiko itu.

Mengapa warga negara asing lebih peka dengan keberadaan hewan-hewan yang nyaris punah itu? Mengapa bukan warga negara ini yang terpikir untuk menyelamatkan mereka? (hal. 138)
Dari pilihan yang ada, akhirnya Shasa memilih Taman Nasional Tanjung Puting. Selain deskripsi Era yang cukup menarik minatnya dibanding pilihan lain, kebetulan mereka berdua juga mempunyai teman kuliah yang tinggal dan cukup mengenal taman nasional tersebut, yaitu Heru, teman SMP mereka yang kini juga satu kampus di kampus yang sama.

Bagiku, pengalaman masuk hutan seperti ini sungguh luar biasa, meski panas yang terasa cukup menyengat. (hal. 130)
Perjalanan mereka tidak hanya ke Taman Nasional Tanjung Puting saja, tapi juga beberapa tempat wisata lain yang memang lokasinya berdekatan dengan taman in-situ tersebut. Mereka berlima—Shasa, Era, Heru, Akiko, dan Kenji—mengunjungi Camp Leakey, yang akhirnya malah membawa mereka pada pertemuan dengan Siswi. Sekaligus mengarungi Sungai Sekonyer yang tak disangka airnya berwarna kecokelatan dan ada buaya. Wow! Benarkah perjalananan Shasa di Pulau Borneo itu menyenangkan? Bagaimana nasibnya ketika seorang anak Mama yang biasa berlibur di luar negeri, tiba-tiba harus dibawa berlibur di hutan Kalimantan? Baca selengkapnya di Oishii Jungle.

***

Yep, janjiku sama Kak Erlita telah dipenuhi. Hehe, dari lusa kemarin—padahal bukunya sampai bulan lalu—aku sudah bilang kalau aku bakal secepatnya bikin review, dan baru selesai sekarang sih, diburu waktu karena besok harus mulai sekolah lagi, xoxo. Domo arigatou gozaimashita.

Nah, bukunya memang aku simpan dulu, soalnya harus membaca buku lain yang lebih diburu waktu [FYI, aku pinjam sih, hihi]. Ngomongin tentang buku ini, jadi bikin flashback 8 tahun lalu ketika masih tinggal di Kalimantan, bukan di Kalimantan Tengah sih, tapi di Tanjung, Tabalong - Kalimantan Selatan. Ah, yang penting mah sama-sama ada Tanjung-nya, hoho *bersikeras*


Aku suka detil yang dipaparkan mengenai Tanjung Puting itu sendiri, padahal sebelum mengetahui bukunya, aku nggak pernah tuh tahu betul soal taman nasional ini, soalnya penasaran aku cuma sampai Kalimantan Selatan aja, lebih ingat Martapura, Banjarbaru, Amuntai, dan tentu saja Tanjung, hehe. Sayangnya, pendetilan yang cukup banyak ini malah jadi membawa adegan lain yang aku rasa kurang perlu, salah satunya ketika mereka berlima makan di warung makan yang kemudian menjaminkan... *ups, spoiler*.

Ceritanya sebenarnya diawali dari kampus Shasa, berlanjut juga ke salah satu kedai makanan Jepang. Eh, secara nggak langsung, Kak Erlita juga ‘menyusupkan’ judul bukunya, Takoyaki Soulmate. Waduh, jadi penasaran sama buku yang itu tuh, hoho! *kode nih, kode*

Biasanya kemampuan berbahasa akan berkurang atau menghilang bila bahasa itu jarang digunakan. (hal. 69)
Ah iya, dari banyaknya tokoh, aku sih lebih suka sama Kenji, dia photographer maniac. Dikit-dikit foto, dikit-dikit foto. Sini deket sama aku, jadiin modelnya, kita selfie bareng, mwehehehe. Akiko juga bikin aku sadar dengan cara dia berbahasa. Kalau pilih imagination character, aku jadi inget Haruka JKT48 cocok banget jadi Akiko, soalnya usil. Anyway, Shasa juga ingetin aku sama teman sekelas, namanya Sarah—kadang dipanggil Sasha juga sih, beda dikit—anaknya punya sifat yang sama persis sama Shasa, sama-sama anak Mama, manja, sering libur tiap weekend, tapi tetap produktif dan manjanya nggak menye-menye, dia juga fotografer andalan aku. Nah, kalau buat Heru, aku juga kepikiran Iqbal—yang masih teman sekelasku juga—deskripsinya sih bilang Heru itu agak gendut, mirip Iqbal banget. Dan tahu kenapa, Sarah sama Iqbal sebenarnya pernah jadian, tapi mereka udah failed. Duuh, kalau Oishii Jungle sih lain cerita, hoho *aduh, takut keluar spoiler*.

Bekantan di Taman Nasional Tanjung Puting
Pokoknya, secara nggak langsung buku ini juga menyadarkan kita bahwa seharusnya sebagai masyarakat Indonesia kita kudu bangga sama negeri tercinta ini. Adam Young aja pakai bahasa Indonesia yang baik dan benar, masa kamu nggak? Hehe, ditunggu Takoyaki Soulmate mendarat di rumahku, Kak Erlita *ngarep* *ditampol*.


Ada beberapa kalimat sindiran halus yang patut dibaca:
1. Siapa bilang harus punya pacar untuk merasakan suasana romantis? (hal. 2)
2. “Tau sendiri, kan, orang Indonesia nggak pandai merawat kekayaan alam yang ada.” (hal. 23)
3. ..., manfaatkan semaksimal mungkin semua sumber daya yang ada untuk mendukung usahaku. (hal. 59)
4. “Begitu dong jadi anak muda. Produktif, nggak cuma galau melulu.” (hal. 74)

by.asysyifaahs(◕‿◕✿)

[Review] Heart Attack by Clara Canceriana

Friday, June 27, 2014


“Tiap orang punya sesuatu yang berbeda dari orang lain. Itu yang bikin spesial.” (hal. 198)

Judul: Heart Attack
Penulis: Clara Canceriana
Penerbit: GagasMedia
Tebal: 240 halaman
Rating: ★★★
Harga: Rp. 55.000,-

---

HEARTBREAKERS sedang bermasalah, selain karena leader mereka—Dima—menghilang, mereka juga harus menemukan anggota baru. Beruntung, Pak Dedy—managing director Popster Entertainment—sudah menemukan orang yang tepat menurutnya untuk ditempatkan dalam posisi lead vocal, Neil Axel Tjahyadi. Axel menyetujui penawaran tersebut dengan alasan bahwa dengan bergabungnya ia ke dalam boyband tersebut, akan membuat seseorang merasa kagum kepadanya, Kirana Angelica.

“Dalam interaksi manusia, tidak ada hal yang mudah. Juga tidak ada yang menjadi standardisasi dalam sebuah pertemanan. Jadilah diri kalian apa adanya. Terima rekan kalian apa adanya,” (hal. 112)
Sayangnya, bukan rasa kagum yang ia dapat dari Kirana, melainkan hanya sebuah tanda selamat–which is–biasa aja. Belum lagi, personil dari HEARTBREAKERS yang menurutnya jauh berbeda dengan apa yang dilihatnya di televisi. Sandro, yang kini menjadi leader, aslinya ternyata galak dan Leon, si maniac gamer yang ternyata cukup menyebalkan.

“Bukan masalah bagaimana lo bisa terpilih, tapi bagaimana lo justru menunjukkan tanggung jawab lo. Ini bukan hal mudah, San, tapi gue percaya lo bisa dan lo mampu, kok. Ini proses. Lo hanya belum tahu cara apa yang harus lo lakukan.” (hal. 99)
Belum lagi, masalah datang bertubi-tubi ketika Axel sedang berjalan-jalan di mal bareng Kirana. Banyak yang menuduh kalau mereka berpacaran, padahal sebelumnya Axel menyatakan dalam press conference kalau ia tidak memiliki hubungan apapun dengan seorang perempuan. Masalah makin membesar ketika banyak fans HEARTBREAKERS (Sweethearts) yang menolak Axel bergabung dalam boyband tersebut, wartawan yang memutarbalikkan fakta, serta serentet masalah lainnya yang tidak Axel duga ketika ia menjadi seorang public figure.

“Hidup itu seimbang. Akan ada pro dan kontra. Nggak akan semua orang memojokkan kamu, Dek. Meski banyak haters di luaran sana, selalu ada satu dua orang yang mencintai kamu apa adanya.” (hal. 186)
Lalu, bagaimana ya kisah selanjutnya? Akankah Axel bertahan dengan cobaan-cobaan itu dan berhasil menyelesaikan masalahnya? Bagaimana hubungannya dengan Kirana? Dan bagaimana keberhasilannya dalam HEARTBREAKERS bareng Sandro dan Leon? Baca selengkapnya di Heart Attack.

***

“Tapi, kalau buat gue, impian itu adalah sebuah alasan lo masih hidup. Alasan kenapa lo ngelakuin semua yang lagi lo lakuin sekarang.” (hal. 188)
Yeay, berhasil juga menamatkan buku ini, padahal sudah cukup lama menggapai-gapai dari rak buku. Walaupun ceritanya tidak sesuai dengan ekspetasi awal, tapi tetap senanglah. Karena apa? Karena sekarang aku sudah terkena virus Heart Attack, itu-artinya-sekarang-aku-jadi-fans-HEARTBREAKERS-sebut-saja-aku-Sweetheart

“Ya, lo egois kalau gitu. Semua itu berimbang. Ada hitam putih. Ada suka benci. Kalau lo berharap semua suka sama karya lo, mending lo bikin kolonial sendiri!” (hal. 65)
Dimulai dari cerita, sebenarnya bukunya nggak terlalu banyak membahas tentang kemewahan bagaimana menjadi seorang artis dan kemeriahan showbiz, tapi lebih kepada bagaimana perjuangan tokoh-tokohnya, khususnya Axel dalam menghadapi berbagai masalah yang terjadi, apalagi dia baru bergabung dalam boyband terhits di Indonesia saat itu (?)

“Hm, saya juga nggak paham, kenapa semua orang memandang sebelah mata dan hanya mau tahu hasil yang baik. Mereka mengabaikan proses di belakang semua itu.” (hal. 185)
“Ada, kok. Tapi, kalau saya nyerah gitu aja, saya bukan kalah sama kondisi, tapi kalah sama diri saya sendiri. Dan, musuh manusia yang sebenarnya kan bukan haters atau siapa pun di luaran sana. Tapi, diri sendiri.” (hal. 185)
Beberapa aturan yang hampir diterapkan di banyak boyband adalah seperti dilarangnya berpacaran dari anggota-anggota boyband itu sendiri. Mungkin, bisa jadi mempengaruhi hasil penampilannya. Makanya, dalam cerita ini juga, diceritakan kalau anggota HEARTBREAKERS nggak boleh pacaran, jadi deh ending romance-nya agak menggantung.

“Bukan masalah hak, tapi kalau lo bisa nyingkirin ego lu, itu artinya baru peduli sekitar. Lo tahu? Lo terlalu ansos.” (hal. 119)
“Kalau lo sulit percaya dengan diri lo sendiri, seenggaknya kasih orang lain buat percaya, kalau lo itu emang mampu. (hal. 197)
Kalau dari semua karakternya, aku sih lebih suka Aila, kakaknya Axel. Karena Aila ini tipe kakak yang penyayang dan perhatian sama adiknya *iya beda banget sama aku, haha*. Nah, kalau anggota HEARTBREAKERS sendiri, aku lebih suka Leon, kalau diperhatikan sih mungkin tipe childish yang unyu, dan memang sih serial keduanya, Heart Out menceritakan tentang Leon ini, nanti kita review ya :)

“Musik memang penyembuh luka hati. Tapi, yang paling membebaskan perasaan adalah kata-kata yang jujur. That’s the hardest part of love, I think.” (hal. 146)
Sepertinya bagian yang paling sulit dari cinta adalah memahami makna cinta itu sendiri. (hal. 147)

Orang-Orang Tanah by Poppy D. Chusfani

Sunday, June 15, 2014

Aku di sini. Berceritalah tentangku. Aku di sini. (hal. 56) 

Judul: Orang-Orang Tanah
Penulis: Poppy D. Chusfani
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tebal: 200 halaman
Rating: ★
Harga: Rp. 42.000,-

---

Orang-Orang Tanah terdiri dari sembilan cerita pendek yang masing-masing bercerita tentang kefanaan, perjuangan, dan pembalasan dendam. Ada Jendela, Pelarian, Pondok Paling Ujung, Bulan Merah, Dewa Kematian, Pintu Kembali, Lelaki Tua dan Tikus, Sang Penyihir, dan Orang-Orang Tanah.

Masing-masing ceritanya mempunyai masalah berbeda, dengan karakter tokohnya adalah seorang anak, atau bahkan ‘aku’ dari Mbak Poppy itu sendiri—sebagai seorang penulis. Dalam Jendela, tidak hanya menceritakan tentang perjuangan seorang ibu, tapi juga dengan bagaimana pengorbanan seorang anak untuk menyelamatkan ibunya. Harapan seorang anak tidak terlalu besar, hanya ingin menikmati makanan yang menyenangkan.


“Aku dipenjara, Lara! Aku diawasi terus-menerus. Aku diancam jika berusaha melarikan diri, aku akan dipenggal. Kemudian kau ternyata menjadi seperti ayahmu. Ancaman datang lagi...” (hal. 41)
Dalam Pelarian, bercerita tentang seorang Lara yang harus dihadapkan pada pilihan yang sulit, ketika harus memilih orang yang akan dibelanya—seorang Ratu yang memberinya kehidupan ataukah ibunya yang mengungkapkan sebuah rahasia yang membuat pilihan itu makin sulit. Pondok Paling Ujung seolah bercerita bagaimana kehidupan penulis itu sendiri—dengan sedikit tambahan fantasi, tentu saja—hingga akhirnya ia tidak menyadari bahwa pondok itu banyak memberinya inspirasi yang tak terduga.

Aku adalah malam. Aku adalah kegelapan. Aku menyatu dengan bayangan. (hal. 69)
Bulan Merah menyuguhkan sesuatu yang bisa kita kaitkan dengan cerita The Twilight. Seorang anak bercerita bahwa kehidupan tidak lama lagi akan hancur, ia merasakannya karena hanya hewan dan makhluk setengah hewan lah yang dapat merasakan hal itu, tapi kali ini semua kehidupan akan benar-benar hancur, tak bersisa.


Aku tahu ke mana harus melangkah. Mata tunggal malam hari menarikku, bayang-bayang menuntunku, seakan mengulurkan tali yang membelit tubuhku, menarik dan menarik dan membuatku tidak mampu berpaling darinya. (hal. 70)
Di cerita terakhir, Orang-Orang Tanah memberikan kita cerita tentang sekejam-kejamnya seorang ibu tiri. Sang anak tidak meminta lebih, ia hanya ingin mendapatkan perhatian dari ayahnya melebihi perhatian Ayah kepada sang ibu tiri. Hingga, suatu kekuatan di dekat akar pohon itu dapat mewujudkan keinginannya selama ini.
***

Huft, untuk kali ini aku kurang punya antusias untuk buku ini—atau malah buku ini yang membuat aku kurang antusias? Nggak tau kenapa, rasanya kurang mood.


“Jika manusia menjauhkan diri dari godaan, manusia akan terbebas dari dosa,” (hal. 80)
Cover-nya mengilustrasikan tentang seorang anak bergaun merah yang membawa keranjang dengan dua buah apel di tanah. Satu yang menarik adalah, mata di dalam pohon itu yang akan membuat kita salah berpikir bahwa ini buku anak. Iya, aku salah satu diantaranya, aku pikir buku ini akan menceritakan tentang seorang anak—atau paling tidak dengan kesedihan yang dirasakannya, lebih dari itu ternyata aku salah lagi.

“Maksudku, jika dilihat dari puncak segalanya, seluruh dunia bagaikan terbentang hanya untuk dirimu sendiri. Segalanya berada di kakimu. Kau hanya perlu melangkah untuk menghancurkan sesuatu, atau meraih untuk menyelamatkannya.” (hal. 93)
Ada empat cerita yang membuat aku kurang sanggup menamatkan buku ini. Cerita Dewa Kematian sepertinya membuat mood jadi kurang baik, makanya langsung baca bagian Orang-Orang Tanah—mengingat judul ini diambil menjadi judul buku. Tapi, aku pikir ini hanya pandangan aku, mungkin setelah kamu membacanya akan merasakan situasi yang lainnya. Baca selengkapnya di Orang-Orang Tanah, dan berhati-hatilah orang-orang tanah ada di sekelilingmu.

“Hampir semua orang menginginkanmu, atau kaulah yang menginginkan semua orang?” (hal. 96)
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
 
a book blog by @asysyifaahs