Showing posts with label GagasMedia. Show all posts
Showing posts with label GagasMedia. Show all posts

[REVIEW] Passport to Happiness - Ollie

Sunday, December 27, 2015

Perjalanan telah mengajariku untuk memulai langkah pertama dalam mencari bahagia dan menemukan versi hidup sempurna yang aku cari, dalam setiap tikungannya. (hal. x)

Passport to Happiness
Penulis: Ollie
Penerbit: GagasMedia
Editor: Resita Wahyu Febiratri & Nila Suri
Penyelaras aksara: Alaine Any
Penata letak: Putra Julianto
Desainer sampul: Mulya Printis
Penyelaras desain sampul: Agung Nugroho
Ilustrator isi: Oktarina Lukitasari
Tebal: 176 halaman
Terbit: 2015 (Cetakan Pertama)

---

Aku bukan tipe anak yang suka pergi melakukan perjalanan, bukan karena nggak ingin tapi lebih tepatnya karena nggak sempat. Kadang niatnya ada, teman perjalanannya nggak ada. Ada teman perjalanannya, aku yang sibuk dengan tugas. Yah, kalau keterusan begitu, titik potongnya nggak bakal ketemu juga, iya kan?

Perjalanan ke luar kotaku juga bisa dihitung dengan jari, dan itu semua nggak terlalu berkesan buatku. Itinerary dan jadwal lainnya diatur pihak tour and travel dan itu nggak ada asyik-asyiknya. Kita nggak bisa ngerasain ribetnya ngatur jadwal, asyiknya beli tiket, atau mungkin sampai kesasar salah arah. Yah, mungkin memang belum ada yang spesial selama ini, kita tunggu kalau aku lulus SMA ya!

Kita memang tidak boleh menilai hanya dengan standar yang kita anggap biasa saja. Namun juga belajar untuk mengerti kultur dan kebiasaan orang lain. (From Moscow with Love, hal. 38)

[REVIEW] Sabtu Bersama Bapak - Adhitya Mulya

Wednesday, September 23, 2015

"Membangun sebuah hubungan itu butuh dua orang yang solid. Yang sama-sama kuat. Bukan yang saling ngisi kelemahan. Karena untuk menjadi kuat adalah tanggung jawab masing-masing orang. Bukan tanggung jawab orang lain." (hak. 217)

Judul: Sabtu Bersama Bapak
Penulis: Adhitya Mulya
Penerbit: GagasMedia
Penyunting: Resita Wahyu Febiratri
Proofreader: Yuke Ratna P. & Mita M. Supardi
Desainer sampul: Jeffri Fernando
Penata letak: Landi A. Handwiko
Tebal: 278 halaman
Terbit: 2014 (Cetakan Kelima)
Rating: ★★★★☆

---

Sabtu Bersama Bapak bercerita tentang keluarga Garnida. Pak Gunawan, seorang suami sekaligus ayah yang meninggalkan banyak rekaman video untuk anak-anaknya yang kelak akan tumbuh besar. Ditemani sang istri, Ibu Itje, ia menyiapkan nasihat dan petuah melalui cara yang tidak biasa. Semua dilakukannya untuk Satya dan Cakra (alias Saka) agar mereka siap menjalani kehidupan sebagai seorang ‘lelaki’ meski tak ada lagi sosok ayah yang menemani.

"Sulung dipaksa menjadi dewasa hanya karena kodrat mereka sulung, itu... Kakang nggak setuju." — "Seorang anak, tidak wajib menjadi baik atau pintar hanya karena dia sulung. Nanti yang sulung benci sama takdirnya dan si bungsu tidak belajar tanggung jawab dengan cara yang sama. Semua anak wajib menjadi baik dan pintar karena memang itu yang sebaiknya semua manusia lakukan." (hal. 105)

"Menjadi panutan bukan tugas anak sulung—kepada adik-adiknya. Menjadi panutan adalah tugas orangtua­—untuk semua anak." (hal. 106)

[REVIEW] Tears in Heaven - Angelia Caroline

Monday, June 22, 2015

Seberapapun materi yang ada di dunia ini, takkan pernah bisa menggantikan sesuatu yang telah hilang. 

Judul: Tears in Heaven
Penulis: Angelia Caroline
Penerbit: GagasMedia
Penyunting: Alit Tisna Palupi
Proofreader: Jumali Ariadinata
Desain sampul: Levina Lesmana
Penata letak: Landi A. Handwiko
Tebal: 346 halaman
Harga: Rp. 48.000,-
Rating: ★★☆

Adalah Nathan, seorang anak blasteran yang lahir dari pasangan Julia dan Anthony. Ketika masih tinggal di Bali, orangtuanya bercerai, beralasan karena Anthony telah jatuh hati pada wanita lain sesama dokter. Keterpaksaan membuat Nathan harus pindah ke Jakarta dan tinggal bersama keluarga tirinya. Kalau bukan karena kanker leukeumia yang diidapnya, tentu ia takkan pernah sudi untuk serumah bersama Tante Lidya dan si kecil Tara.

Sikap apatis Nathan tentu beralasan, memangnya siapa sih yang mau ketika ayahnya harus menikah lagi dengan orang lain sampai harus merusak rumah tangga kedua orangtuanya? Itulah kenapa Nathan lebih memilih berlama-lama di sekolah dibanding harus bertatap muka dengan ibu tirinya. Hari pertama Nathan di sekolah barunya mengenalkan ia pada seorang gadis cantik bernama Kayla. Dia yang membuat hari-hari Nathan selanjutnya lebih berwarna.

[REVIEW] Unforgiven - Eve Shi

Monday, June 15, 2015

Rumah bukan makhluk hidup yang bisa mengancam manusia. (hal. 9)

Judul: Unforgiven
Penulis: Eve Shi
Penerbit: GagasMedia
Editor: Nico Rosady
Proofreader: Tesara Rafiantika
Penata letak: Gita Ramayudha
Desain cover: Levina Lesmana
Tebal: 262 halaman
Harga: Rp. 39.000,-
Rating: ★★

Rumah hijau kedatangan penghuni baru, padahal orang-orang di kompleks itu tahu, bahwa rumah hijau bukanlah sembarang rumah. Ada banyak kabar beredar bahwa rumah tersebut angker, banyak hal yang melatarbelakanginya, mulai dari isu keluarga yang tidak harmonis, kejahatan kriminal, hingga santer terdengar pembunuhan pernah terjadi di rumah tersebut.

Lurk: To move about furtively, or wait in a concealed position. (hal. 1)

Kaylin adalah salah satu anggota keluarga yang mendiami tempat tinggal di samping rumah hijau yang sudah lama tidak ditempati itu. Meski sudah lama, ia baru merasa keanehan mulai banyak terjadi setelah Yanuar—orang yang pindah—berniat tinggal disana. Rico, sahabat Kaylin, pun merasa demikian. 

[REVIEW] Priceless Moment - Prisca Primasari

Thursday, October 30, 2014

Bukankah seperti itulah hidup...? Bertemu, membuat kenangan, berpisah, lalu melepaskan? (hal. 293)

Judul: Priceless Moment
Penulis: Prisca Primasari
Penerbit: GagasMedia
Tebal: 296 halaman
Rating: ★★★★★

---

Ditinggal pergi oleh pasangan yang dicintai tentu sangatlah menyakitkan, belum lagi kalau ditiggal pergi untuk selamanya dan ia tak akan pernah kembali. Begitupun halnya yang dirasakan Yanuar Adhyaksa, seorang suami yang ditinggalkan Esther Ariana—istrinya—untuk selama-lamanya. Ia bersama dua buah hatinya, Hafsha dan Feru harus berjuang melalui hidup tanpa seorang istri dan ibu bagi kedua anaknya di sampingnya.

Ada hal yang disesalkan Yanuar ketika ditinggal pergi Esther, ia menyesal karena dulu waktunya lebih banyak untuk mengurusi pekerjaannya sebagai seorang manajer di Ebony & Ivory. Kini, setelah Esther tiada, ia baru menyadari akan keberadaan anak-anaknya yang ternyata lebih membutuhkannya.

Mengapa selalu harus ada yang dikorbankan, atau berkorban, agar seseorang menyadari betapa berharga hal-hal yang mereka miliki...? (hal. 151)
Pekerjaan menuntut Yanuar untuk selalu siap kapan saja, tak jarang harus mengorbankan waktunya bersama Hafsha dan Feru. Namun, sepeninggal Esther, lambat-laun Yanuar mulai mengurangi aktivitas kerjanya dan berusaha untuk pulang dengan tepat waktu. Tak jarang, Wira—adik Yanuar—untuk terus mengingatkannya bahwa ia tetaplah seorang ayah.

“Makin lama kita makin tua, Yan. Makin merasa kesepian. Anak-anakmu akan dewasa dan suatu saat akan ninggalin kamu. Jadi, habiskan waktu sebanyak mungkin dengan mereka selagi bisa.” (hal. 91)
Dari E&I, Yanuar bertemu dengan Lieselotte Larasati, seseorang yang baru saja direkrut CEO E&I untuk mendesain karya baru yang akan ditampilkan dalam pameran mendatang di perusahaannya itu. Lotte punya kepribadian yang selfish dan lebih suka melakukannya semuanya sendiri, tentu ini tidak terjadi dengan begitu saja, ada alasan mengapa Lotte bisa berubah demikian.

“... Kamu punya wibawa, ketegasan, kemampuan. Tapi, tanpa komunikasi, semua itu tidak ada artinya.” (hal. 85)
Walaupun cenderung bersikap egois terhadap rekan kerjanya, dengan mudahnya Lotte akrab dengan kedua anak Yanuar. Beberapa kali, Yanuar merasakan hal aneh ketika bertemu dengan Lotte. Benarkah ia merasa jatuh cinta lagi terhadap perempuan? Bagaimana kenangannya bersama Esther setelah ia tiada? Akankah sosok Lotte menggantikan posisi Esther sebagai Mama dari Hafsha dan Feru? Baca selengkapnya di Priceless Moment.

Orang-orang toh datang dan pergi, sering kali akibat kejenuhan atau mempunyai mimpi yang tidak bisa mereka capai hanya dengan duduk di kubikel setiap hari. (hal. 181)
***

Priceless. Benar-benar priceless dan menakjubkan. Bukan saja tentang kisah cinta antar tokoh, kehadiran suasana kasih sayang dari ayah ke anak membuat buku ini menjadi benar-benar manis dan sweet. Once again, Kak Prisca bisa membuat aku hanyut dalam ceritanya.

Aku memang tidak pernah bisa menjadi seorang suami ataupun ayah, dan tidak akan pernah bisa. Tapi aku tahu bagaimana rasanya menjadi seorang anak. Ya, kisah Yanuar ini betapa mengingatkan kita bahwa ternyata kita tidak bisa menganggap remeh perjuangan seorang ayah. Walaupun perjuangan ibu tentu lebih besar, tapi kalau tanpa ayah, kita tak akan berada di sini bukan?

Setelah kematian Esther karena kecelakaan, Yanuar seolah ditampar dan baru sadar akan siapa dirinya sebenarnya. Kadang, kita memang butuh orang lain dan sedikit mengorbankan sesuatu untuk menyadari siapa kita sebenarnya. Dan begitulah, ia baru memahami semuanya setelah Esther tiada. Bagaimana jadinya kalau bukan seperti ini, tentu buku ini juga nggak pernah ada.

Pilihan pasti selalu ada, bagaimana menentukannya kembali pada prinsip masing-masing. Yanuar yang masih menyayangi istrinya pun tidak begitu saja luluh pada cinta yang lewat begitu saja. Kadang, ia masih tidak yakin akan perasaannya.

Jangan selalu bergantung kepada orang lain. Manusia begitu rapuh. Tak selalu ada yang bersedia membantumu. (hal. 23)

“Benar. Jangan remehkan kemungkinan, sekalipun perbandingannya satu berbanding seribu.” (hal. 103)

Pintu hati manusia bagaikan piñata, yang begitu diketuk dan terbuka lebar-lebar, darinya muncul pernak-pernik manis layaknya permen beraneka rasa. (hal. 157)

“Selama masih mempunyai kenangan, saya tidak akan kesepian,” (hal. 239)

“Banyak orang yang merasa cukup memiliki kenangan. Menurut saya, itu bodoh. Kenangan cuma flesh and blood, nggak bisa diapa-apain. Manusia butuh berwujud lagi.” (hal. 239)

by.asysyifaahs(◕‿◕✿)

[REVIEW] The Power In You - Ollie

Wednesday, October 29, 2014

Love yourself, share the love for others, and that’s how we can be powerful against the world! (hal. 285)

Judul: The Power in You
Penulis: Ollie (Aulia Halimatussadiah)
Penerbit: GagasMedia
Tebal: 288 halaman
Rating: ★★★★★

---

Power itu kemampuan kita dalam mengetahui potensi diri, tahu apa yang ingin kita lakukan, dan berpegang teguh untuk make things happen. Apa sih kekuatan alias power kita dalam hidup ini?

Dalam buku ke-27-nya, Kak Ollie—aku baru sadar ada kesamaan nama setelah membaca profilnya di cover belakang—mengajak kita untuk mengenal lebih jauh terhadap potensi dan kekuatan yang ada pada diri kita sendiri. Mungkin, sebagian di antara kita sudah mengenalnya, tapi kebayang nggak sih sebenarnya masih ada banyak potensi yang belum kita gali dan kita sadari itu?

Jadi, mengetahui apa yang kita inginkan dan paling baik untuk kita, akan memudahkan kita untuk mengambil keputusan yang sesuai dengan fokus hidup kita. (hal. 189)
Nah, melalui What Is Power, kita diajak berkenalan dahulu terhadap hal terpenting apa yang ada pada diri kita ini. Kenapa harus power, kenapa harus memulainya dengan ‘kenapa’, bagaimana kekuatan visi kita, dan bagaimana menantang diri sendiri untuk change your life. Pembuka yang owsom banget!

“You don’t know why you do something, that’s why you’ve never finished anything.” (hal. 7)

Selanjutnya, dalam bab Barriers You Might Face, Kak Ollie memotivasi kita untuk mengendalikan perasaan dan emosional yang kita miliki. Kita nggak mau dong emosi kita nggak terkendali hanya karena kita bingung bagaimana mengatasinya. Nah, disinilah kita bakal tahu bagaimana seharusnya menjadi tuan dari emosi kita sendiri. Dan yang paling penting, jangan jadi generasi ngomel!

Banyak hal yang bisa diselesaikan tanpa memaki. Kata-kata makian tersebut lebih banyak menunjukkan karakter kita daripada orang yang kita maki. (hal. 59)
Bab ketiga adalah Know Our Self, kenali dulu siapa diri kita sendiri. Siapa tahu, kita punya sejuta orang yang kita kenal baik, tapi sendirinya masih bingung dengan who I am. Dalam bagian ini, kita belajar menganalisis hidup kita, passion kita, kekuatan dan kelemahan, potensi, dan prinsip... yang tentunya dari sudut pandang objektif. Yah, kalau kita berkaca secara subjektif sih, apa yang dinilai pasti selalu lebih baik dan nggak ada kurangnya. Agree?

Cintai diri kamu sendiri dulu, sebelum kamu bisa membagi cintamu kepada orang lain. In fact, kamu adalah orang terpenting yang perlu kamu cinta sebelum orang lain. (hal. 110)
Selain itu ada juga bab Principle dan On Track yang masing-masing memberdayakan kita bagaimana tahapan untuk mendapatkan tujuan apa yang kita inginkan. Dalam Work Smart dan Enthusiasm, Kak Ollie juga membocorkan rahasia sukses bin keren nan ajaibnya untuk terus melangkah demi kesuksesan. Dan, yes, di bab Reliance (to self), saatnya kita beristirahat sejenak untuk menilai kembali terhadap apa yang telah kita lakukan sebelumnya. Adakah perubahan, atau masih jalan di tempat aja? Aku pikir, di bab terakhir ini, bisa dikatakan sebagai pendinginan dari step-by-step bab-bab sebelumnya. Disini, Kak Ollie seolah mengajak kita untuk terus menyayangi diri kita sendiri, berusaha menjadi orang yang berpikir positif, selalu gembira, berhenti menyiksa diri sendiri, keep calm, dan yaps, always love yourself.


Walaupun seperti buku nonfiksi-pengembangan diri kebanyakkan—aku ingat dengan buku Dream Catcher Kak Alanda—The Power in You dari Kak Ollie ini tentu punya cita rasa lain yang jadi khas dari buku self-help. Apakah itu? Satu hal yang aku rasakan adalah... Kak Ollie benar-benar menceritakan tentang hobi, passion, dan bukti dari kesuksesannya selama ini.

“Tapi kan memang biasanya gitu!” Jelas yang satu ini beda, seolah aku benar-benar yakin kalau Kak Ollie semacam role model yang—I don’t know why—dia benar-benar mempresentasikan aku ingin kayak dia! Yah, selain hobinya yang membaca, menulis, berbisnis, dan traveling itu—which is yang kedua pertama itu aku banget—aku rasa dia bisa jadi mentor aku. Karena aku percaya, orang yang sevisi dengan kita itu selalu mengerti. Aku tahu Kak Ollie bisa paham walau sebenarnya ini pertama kalinya aku kenal dia (FYI, aku pernah dengar dia sebagai salah satu pencetus kutukutubuku.com dan nulisbuku.com, pernah baca di suatu majalah, tapi nggak inget kalau namanya ‘Ollie’).

Keistimewaan lainnya adalah, di dalam buku ini juga ada semacam ‘lahan kosong’ untuk kita menuliskan apa-apa saja yang ingin kita ceritakan. Dinamakan Practice artinya sebagai latihan, sudahkah kita memahami apa mau kita, dan memahami apa yang disampaikan Kak Ollie sebelumnya.

Intinya, dalam buku ini aku nggak lagi merasa ‘sayang’ untuk mencorat-coret demi menuliskan dan mengisi Practice yang ada—yah walau belum semuanya sih, dan nggak sayang melipat bukunya hanya karena banyak kutipan menarik dan tentunya inspiratif itu.


Ada yang bilang, orang yang mencintaimu akan menerimamu apa adanya, orang yang membencimu akan tetap membencimu, apa pun yang kamu lakukan. Maka, berhenti menjelaskan siapa dirimu dan mulailah banyak berubat. (hal. 3)

Untuk menebar kekuatan, memotivasi orang lain, dan memberi manfaat lebih banyak pada lingkungan sekitar, hal utama yang harus kita lakukan adalah membuat diri sendiri kuat dahulu, baik fisik maupun mental. (hal. 19)

Maka, saat kamu menemukan masalah, bergembiralah karena ini saatnya kamu bisa berkontribusi, mencurahkan tenaga, pikiran, dan perasaan kamu untuk kepentingan diri sendiri dan juga orang banyak. Semangat! (hal. 24)

Setiap orang akan punya opini masing-masing tentang bagaimana kita harus bertindak. Namun, hanya kita yang paling mengerti arah yang ditunjukkan lentera hati kita. (hal. 27)

Life is short, maka gunakanlah sebaik-baiknya. Di usia muda, energi dan ide kita masih berlimpah untuk digunakan. Jadi, manfaatkan kesempatan ini semaksimal mungkin. (hal. 34)

Kalau tahu apa yang kita inginkan, kita akan tetap fokus dan membuktikan baha apa yang kita perjuangkan benar-benar berharga dan layak untuk diteruskan. (hal. 42)

Sukses yang sesungguhnya adalah sukses harian yang kita dapatkan dari hasil memperhatikan hal-hal kecil dalam hidup. (hal. 68)

Setiap orang harus berani bermimpi. Bermimpilah yang BESAR sampai kita “takut” mendengar mimpi kita sendiri. (hal. 136)

Hidup terlalu singkat untuk dijalani sambil menggeret beban begitu banyak dari hal-hal yang nggak kita perlukan, dan nggak menambah manfaat untuk hidup kita. (hal. 151)

When you feel something’s not right in your relationship, it probably is toxic relationship. Talk to your trusted friend/person, mature & more experienced friends to understand the situation. Remember: you are magnificent and you deserve true love in a true healthy relationship. (hal. 164)

Jangan berharap orang lain akan menganggap kamu bisa diandalkan kalau kamu bekerja asal-asalan dan nggak tepat waktu. Always be helpful and useful for someone else. (hal. 168)

You got the idea. Don’t let sadness occupy your mind. Get busy! Life is exciting! (hal. 202)

I’ve learned that enthusiasme is contagious. Surround yourself with enthusiastic people. Always try to pull yourself out of your comfortable sulking cave and shine, like total shine with some thunderlike noises. Be like awakening storm in sunny day. Be disruptive. That’s how you should be. (hal. 218)

Apa yang kita anggap sebuah kegagalan saat ini bisa jadi akan menjadi pelajaran penting yang mengubah hidup kita dan menjadi kenangan lucu di masa depan. (hal. 226)

Keberanianmu untuk berbagi pemikiran dan pengalaman, dapat mengubah hidup orang lain ke arah yang lebih baik. Perkuat diri kamu agar bisa menyampaikan pesan dengan lebih baik. (hal. 237)

Berhentilah menyiksa diri. Jangan jadikan diri kamu sebagai korban. Jadikan diri kamu pemimpin bagi setiap keputusan yang kamu ambil dalam hidup. (hal. 261)

Sesuatu yang terlihat keren itu bukan kebetulan, melainkan hasil dari perencanaan yang matang dan kerja cerdas. (hal. 268)
by.asysyifaahs(◕‿◕✿)

[Review] Kastil Es & Air Mancur yang Berdansa by Prisca Primasari

Saturday, July 5, 2014

“Apa itu penting? Bukankah definisi orang tentang cinta berbeda...? Aku merasa aku mencintaimu, dan itu menjelaskan mengapa aku tetap ingin berada di sini...” (hal. 161)

Judul: Kastil Es & Air Mancur yang Berdansa
Penulis: Prisca Primasari
Penerbit: GagasMedia
Tebal: 292 halaman
ISBN: 978-979-780-589-0
Rating: ★★★★★

---

Florence L’etoile Leroy melarikan diri dari rumahnya, ia menolak mentah-mentah niat kedua orangtuanya yang ingin menjodohkannya dengan seorang pria untuk melakukan kencan buta yang direncanakan Maman dan Papa-nya itu. Dalam perjalanan kaburnya menuju Honfleur, Florence mengalami masalah lagi, tas yang dibawanya tidak cukup baik untuk menampung barang-barangnya—dompet, agenda, pulpen, buku-buku, piringan hitam, ponsel, peralatan melukis. Ia pasrah, menerima kenyataan bahwa tasnya harus dibuang begitu saja, dan membawa barang-barang itu di dalam pangkuannya.

Hal yang tidak nyata tetap akan lebih menyedihkan daripada hal yang nyata, seindah apa pun itu. Karena ketidaknyataan itu hanya hidup di angan-angan, dalam dimensi dan ruang yang sama sekali berbeda. (hal. 175)
Namun, secara tak sengaja ia bertemu dengan seorang lelaki di dalam kereta yang ia tumpangi itu. Tampaknya, lelaki tersebut baru saja membeli sebuah tas baru—which is itu adalah tas merk Chanel keluaran terbaru saat itu. Yang paling mengejutkan adalah ketika lelaki itu dengan mudahnya memberikan tas mahal tersebut kepada Florence. Sejak saat itulah, Florence mengenal lelaki yang bernama Vinter Vernalae tersebut.

“Kereta seindah apapun tidaklah berguna bila tidak mempunyai kuda yang menariknya. Lama-lama akan terbengkalai dan terpendam salju. Sama halnya dengan manusia, yang tidak akan bertahan lama bila tidak ada yang mendukung atau mendampinginya; betapapun hebatnya, mereka pasti akan terlupakan.”
Saat itu juga, Vinter sedang bermasalah. Ia diminta oleh Monsieur Zima—temannya di Honfleur—untuk mendatangkan sekelompok seniman yang dapat menggelar berbagai penampilan dalam sebuah pertunjukan; mulai dari membaca puisi, menampilkan drama, melukis, bermain musik, dan semacamnya. Sayangnya, ketika Vinter sudah menyewa grup seni dari Montmartre, mereka membatalkan undangan tersebut. Hal yang mengejutkan adalah ketika tiba-tiba saja Florence menawarkan diri untuk menyanggupinya, ia memang memiliki kemampuan seni yang begitu baik sehingga dapat melakukan hal yang diminta Monsieur Zima tersebut hanya seorang diri. Terlebih, ia melakukan itu sebagai balasan untuk tas yang diberikan cuma-cuma oleh Vinter.

“Masa lalu memang mengubah kita dengan cara yang aneh, bukan?” (hal. 126)
Selama melakukan pertunjukan di rumah Monsieur Zima, sedikit banyak Florence mulai mengenal lelaki yang sudah berumur tersebut. Dulu, ia adalah seorang konduktor hebat, namun Zima adalah orang yang mempunyai kisah hidup yang kelam, sepi, dan menyedihkan. Dari Monsieur Zima, Florence pun semakin mengenal sosok Vinter yang mempunyai dunia yang penuh air mata karena kenangan-kenangan di masa lalunya. Perlahan, Florence dan Vinter saling mengetahui keadaan masing-masing yang ternyata mempunyai masa lalu penuh luka. Akan tetapi, kenyataan bahwa keduanya sama-sama memiliki ‘orang baru’ jauh lebih menyakitkan ketika pada akhirnya mereka tahu isi hati masing-masing. Lalu, siapakah lelaki yang dijodohkan dengan Florence dan perempuan pemilik tas hadiah dari Vinter itu? Apakah mereka orang yang dikenal keduanya? Baca selengkapnya di Kastil Es & Air Mancur yang Berdansa.


“Masa lalu tidaklah penting. Orang yang punya masa lalu buruk belum tentu akan menjadi pribadi yang buruk juga. Semua tergantung pilihan hidup. ...” (hal. 226)
***

Buku ketiga dari Kak Prisca Primasari yang aku baca. Baiklah, ini dia penulis kebanggaan GagasMedia yang kini juga menjadi penulis favorit aku. Hmm, Kak Prisca kapan menulis buku baru lagi ya? :D

Bukankah ketika kau ingin sekali bahagia, kau tidak akan pernah menyia-nyiakan setiap uluran yang datang...? (hal. 227)
“Kau takkan pernah bisa bahagia sebelum memaafkan, memberi kesempatan, dan menyayangi dirimu sendiri,” (hal. 277)
Nggak bisa berkata banyak untuk buku ini, karena KABAR GEMBIRA UNTUK KITA SEMUA. Oke, sudahlah, aku nggak akan bahas bagaimana cara mengesktrak kulit manggis. Yang pasti, aku suka buku ini dari berbagai segi, selain gaya penulisan Kak Prisca, juga setting-nya yang selalu mengambil latar di Eropa–khususnya Prancis dan Rusia, informasi baru disini juga bermanfaat, cerita Les Quatre Saisons tentang seri gubahan Antonio Vivaldi mengenai empat musim (Spring, Summer, Autumn, Winter) yang berhubungan juga sama nama lain dari Monsieur Zima. Terus, cerita tentang Snegurochka juga. Wah, aku belum tahu banyak sih, sedang dalam masa peng-googling-an nih!

“... Snegurochka, yang selalu merasa yakin tidak akan pernah merasa lemah, akhirnya meleleh dan menghilang karena kehangatan cinta yang dia rasakan.” (hal. 174)
Cover, entah untuk yang keberapa kalinya, sudah masuk kategori Gagas sekali. Unik dan manis, menyiratkan tentang kenangan masa lalu di Eropa djaman doeloe. Pantas sih, karena latar waktu ceritanya mengambil tahun 80-90-an.

“Lari tidak akan menyelesaikan masalah. Kau harus berani menghadapi segalanya.” (hal. 88)
Benar-benar buku yang aku rekomendasikan untuk para kamu semua yang (mungkin) baru mengenal GagasMedia atau sudah jadi #GagasAddict. Beberapa di antara koleksi GagasMedia lainnya yang juga aku ceritakan, bisa kamu baca di #11TanpaBatas: 11 Buku GagasMedia yang Wajib Baca ala ASYSYIFAAHSBOOK.

“Aku selalu berpendapat bahwa orang yang benar-benar baik adalah orang yang mengakui bahwa dia tidak sebaik itu. (hal. 282)

#11TanpaBatas: 11 Buku GagasMedia yang Wajib Dibaca versi ASYSYIFAAHS BOOK

Friday, July 4, 2014

Selamat siang pembaca yang berdedikasi, KABAR GEMBIRA UNTUK KITA SEMUA. Kini, GAGASMEDIA udah berulangtahun yang ke-11, lho. Pada tahu nggak? Yuk, ucapkan Selamat Ulang Tahun yang ke-11, Selamat #11TanpaBatas untuk Gagas Media. Semoga menjadi penerbit yang memunculkan buku-buku yang keren dan berkualitas lagi.


Ngomongin tentang buku Gagas Media, kamu udah punya koleksi berapa? Ayo, koleksinya ditambah lagi, biar bisa dicap jadi Gagas Addict garis keras, mwiwhihihi. Aku mau pamer buku-buku Gagas punyaku aaah, sekaligus rekomendasi buat kamu juga ya, check this out!

#11 Jika Aku Mereka oleh 12 Pemenang Sayembara Menulis Kisah Disabilitas


Kalau kamu cari buku nonfiksi yang inspiratif, Gagas Media juga punya lho. Salah satunya adalah buku dengan judul Jika Aku Mereka yang menceritakan tentang kisah-kisah para difabel yang punya perjuangan hebat untuk berkarya dan berinovasi. Hayu, sebagai manusia dengan kesempurnaan fisik, harusnya kita juga ikut bangga sama para difabel itu :D

#10 Creative Writing oleh A. S. Laksana


Buku ini berisi tentang tip dan strategi menulis cerpen dan novel. Nah, buat kamu-kamu (termasuk aku) sebagai penulis pemula yang mau menerbitkan bukunya di Gagas Media, boleh banget baca buku ber-cover hitam putih ini. Anyway, buku ini jadi clue di #11TanpaBatas Ronde 4 di twitter @GagasMedia, lho. Selain itu, rekomendasi lainnya juga ada Draf 1: Taktik Menulis Fiksi dari Winna Efendi. Penulis-penulis Gagas nggak serakah ilmu menulis kan?

#9 Everlasting Love oleh Alit Tisna Palupi, dkk


Cerita tentang perjuangan ibu dan kasih sayangnya pada anak memang nggak akan pernah basi, Everlasting Love yang ditulis 11 penulis mamah muda ini mengajak kita untuk mengenal secara langsung perjuangan ibu dalam merawat dan mengasihi kita sebagai anak. Apalagi, bukunya ditulis dari segi seorang ibu yang tentunya nggak bisa diremehkan begitu saja. Ingatlah anak muda, surga ada di telapak kaki ibu :)

#8 Dream Catcher oleh Alanda Kariza


Penulisnya adalah kakak aku, eh, canda kok. Mengenai mimpi dan impian, sebenarnya ada banyak banget buku yang membahas tentang tema yang satu ini. Tapi, jangan salah, Kak Alanda nggak hanya bercerita tentang bagaimana meraih impian tersebut, tapi juga menuliskan apa saja mimpi-mimpinya yang sudah tercapai yang membuat kita ikut termotivasi. Because, dreams are invented.

#7 Little Bee oleh Chris Cleave


Walaupun banyak buku terbitan Gagas Media yang berasal dari penulis lokal, ternyata Gagas Media juga pernah beberapa kali menerbitkan buku terjemahan, lho, seperti White Fang dan Little Bee ini. Little Bee sendiri sebenarnya nama dari tokoh di dalamnya, menceritakan tentang perbudakan warga Nigeria. Buku yang anti-mainstream dan terjemahannya juga enak dibaca dan dipahami.

#6 Kastil Es & Air Mancur yang Berdansa oleh Prisca Primasari


Kak Prisca adalah salah satu penulis kebanggaan GagasMedia yang juga jadi favorit aku. Selain Éclair, Paris: Aline, dan Beautiful Mistake, buku yang bercerita tentang indahnya musim dingin di salah satu kota di Eropa ini juga menawarkan kisah yang menarik. Bagaimana kisah tentang perjuangan tokoh-tokohnya dalam mengenang masa lalu yang penuh luka, sangat wajib baca buat kamu yang masih susah move on, hehe.

#5 Beautiful Mistake oleh Sefryana Khairil & Prisca Primasari


Pertama kalinya baca buku ini tertarik karena cover-nya yang benar-benar beda dari yang lain, udah tau karakter GagasMedia dong yang pasti buku-buku terbitannya nggak akan mengecewakan. Nah, Beautiful Mistake juga salah satunya, salah satu dari projek GagasDuet yang kerennya.

#4 S.C.H.O.O.L: Chemistry oleh aL Dhimas


Siapa yang nggak tau pelajaran Kimia? Pasti, kamu-kamu juga pernah merasakan ya jadi anak yang ‘pusing’ belajar pelajaran yang satu ini! Tapi, kabar gembira untuk kita semua, karena beberapa bulan yang lalu, Gagas punya seri baru, yaitu S.C.H.O.O.L alias Seven Complicated Hours of Our Life. Chemistry mengajak kita untuk mengenal Icha dengan segala aktivitasnya di dunia sekolah yang berkaitan sama pelajaran Kimia. Eh, baru-baru ini Gagas juga menelurkan buku baru dari seri ini, yaitu Tomodachi dari Winna Efendi. Nah, kamu udah punya belum?

#3 Tears in Heaven oleh Angelia Caroline


Aku merekomendasikan buku ini buatmu karena penulisnya masih muda, anak SMA lho. Tapi, percaya nggak sih kalau Kak Angelia ini udah keren nulis buku berjudul Tears in Heaven ini? Selain ceritanya yang dekat dengan kehidupan anak sekolah, ternyata ending-nya nggak tertebak. Waah, penasaran nggak tuh?

#2 Ai oleh Winna Efendi


Ada yang suka dengan kekentalan budaya dan nuansa Jepang? Pas banget! Buku yang ditulis Kak Winna Efendi ini bisa jadi pilihan santai kamu selagi menunggu buka puasa. Ai bercerita tentang kisah friendzone dan cinta segitiga, eh, spoiler deh tuh. Nggak hanya cerita yang manis, Ai juga menampilkan unsur-unsur Jepang yang membuat kita seolah-olah benar-benar di Jepang. Ini berlaku juga dengan seri STPC yang diterbitkan Gagas Media.

#1 Refrain oleh Winna Efendi


Lagi,  bukunya Winna Efendi yang juga dijadikan film. Pasti tau dong pemerannya siapa? Itu lho, kakak aku—Maudy Ayunda sama Afgan. Nah, selain bukunya sudah berkali-kali terbit ulang, Refrain juga punya cerita yang sweet. Senafas dengan Ai, bercerita tentang kisah persahabatan yang tulus dan cinta yang penuh perjuangan. Aku udah baca bukunya, nonton filmnya, dan dengerin lagunya, kalau kamu?


Itu dia, 11 buku dari banyaknya buku yang sudah diterbitkan Gagas Media. Harapan aku, semoga koleksi buku Gagas punyaku makin banyak dan makin nambah, makin mengisi rak buku dengan label khusus GagasMedia. Ke depannya, aku pengin bisa jadi bagian dari keluarga besar GagasMedia, Alhamdulillah kalau jadi penulisnya, editornya, atau mungkin proofreader-nya. Ya, siapa yang tahu takdir Tuhan kan? Hehe...


Semoga di umur Gagas Media yang kembar ini, 11, Gagas Media makin menebarkan virus positif untuk semua masyarakat Indonesia dalam membaca dan makin mewarnai dunia perbukuan dan literasi Indonesia. Makin banyak penulis-penulis hebat yang lahir dari buku terbitan Gagas Media, dan buku-bukunya makin banyak yang berkualitas dari banyak seginya—cover, penulisan, isi. Dan tentunya, makin banyak event keren yang diselenggarakan Gagas Media, baik online maupun offline. Yah, kabar gembiranya, aku senang bisa menjadi pembaca GagasMedia dan bergabung dengan para #GagasAddict lainnya. SELAMAT #11TANPABATAS GAGASMEDIA :*

[Review] Beautiful Mistake by Sefryana Khairil & Prisca Primasari

Ia tidak pernah mengatakan jatuh cinta kepada seseorang adalah sebuah kesalahan. Jatuh cinta tidak pernah salah—siapa pun orangnya. Hanya bagaimana mencintai, memahami, dan mengerti untuk membuat segalanya menjadi benar. (hal. 65)

Judul: Beautiful Mistake
Penulis: Sefryana Khairil & Prisca Primasari
Penerbit: GagasMedia
Tebal: 260 halaman
Rating: ★★★★

---
Beautiful Mistake berisi dua kisah yang ditulis oleh dua penulis berbeda, Dreamland oleh Sefryana Khairil dan Chokoréto oleh Prisca Primasari. Dua cerita ini memiliki perbedaan kisah dan karakter satu sama lainnya, walaupun demikian inti ceritanya berkaitan dengan judul buku ini sendiri, Beautiful Mistake—tentang kesalahan-kesalahan indah yang membawa tokohnya pada suatu keberhasilan.

= D R E A M L A N D oleh Sefryana Khairil =

Bukan mereka yang menghadirkan cinta, tetapi cinta yang membuat mereka ada. Dulu, mereka mencintai karena ego untuk saling memiliki dan kini mereka bersatu karena saling mencintai. Cinta memang buta, tidak memilih siapa, tidak pernah diduga, tidak bisa dipaksa, begitu sederhana hingga membuatnya mampu melakukan apa saja untuk mereka berdua. (hal. 130)
Cerita diawali dengan kisah seorang perempuan bernama Nadine Almaira Kamil yang baru saja mendapati kabar bahwa kekasih yang ditunggunya selama ini—Dirga—memutuskan untuk melepaskan hubungan mereka yang sudah bertahun-tahun dijalani keduanya, diperjuangkan Nadine seorang diri. Untuk mengobati rasa sakitnya itu, ia pergi ke Bali mendatangi sahabat-sahabatnya dan datang ke sebuah bar/night club bersama dengan Ambar dan Melia. Disana, semua berawal, pertemuan pertama Nadine dengan seseorang yang selanjutnya akan mengubah hidup Nadine.

Orang tersebut adalah bartender One Love Bar bernama Fajar Ananta. Pertemuan mereka memunculkan rasa ketertarikan pada diri masing-masing yang tak sanggup mereka abaikan begitu saja, dan selanjutnya pertemuan demi pertemuan membuat keduanya semakin menyadari bahwa telah ada yang berbeda pada perasaan masing-masing. Fajar yang terlalu cuek dan dingin merasa telah jatuh cinta kepada Nadine yang periang dan ceria. Bagi Fajar, semua ini terasa aneh ketika mengingat kembali sebuah peristiwa besar yang pernah merubah hidupnya menjadi berbeda 180 derajat, kematian istrinya—Miashella—yang membuatnya tak lagi mudah untuk jatuh cinta kepada orang lain, termasuk Nadine.

“Tapi, kita harus punya mimpi, Jar. Punya goal.” –– “Sama kayak lomba; ada garis start, ada garis finish. Mau cepat, mau lambat, pasti sampai di garis finish. Tapi, itu bukan goal-nya. Bagaimana bisa jadi pemenang itu baru goal.” –– “Dan, akhirnya kalah?” –– “Setidaknya, kita sudah usaha. Kalah atau menang adalah hasil akhir. Penentuannya dari bagaimana kamu melakukan sebaik-baiknya.” –– “Tuhan membiarkan kita kalah supaya kita tahu di mana letak kita salah. Supaya kita belajar buat benar.” (hal. 33)
Nadine sangat mencintai Fajar, namun mampukah Fajar membiarkan masa lalunya menjadi sebuah kenangan dan menata hidupnya kembali bersama orang baru di hadapannya, yang siap bersama-sama melewati ini semua? Apakah keputusan keduanya memang menjadi pilihan yang tepat? Baca selengkapnya di Dreamland.

“Dan, saat kamu memulai hidup baru dengan seseorang, itu juga bukan kesalahan. Bukan pengkhianatan. Saat Tuhan menutup satu pintu, Tuhan membuka pintu yang lain. Kamu mungkin nggak pernah tahu karena terlalu sibuk mengurusi hidup yang sudah tertutup itu.” (hal. 49)
---

= C H O K O R É T O oleh Prisca Primasari =
“Seseorang mengatakan padaku bahwa kita akan selalu bersama yang benar-benar kita cintai.” –– “Kalau kita tidak bisa bersama mereka, berarti kita tidak benar-benar mencintai mereka. Itu hanya semacam selingan. Hanya perasaan yang berlangsung sekejap.” ––  “Kadang kita merasa kesulitan menemukan cinta sejati. Tapi aku yakin cinta itu pun sebenarnya sedang mencari kita. Pokoknya ganbatte kudasai. Berusaha sebaik mungkin, maka pada suatu titik kau pasti akan bertemu dengannya.” (hal. 218)
Akai Fukue adalah seorang anak dari Toosan pemilik kafe cokelat bernama Chokoréto. Kisah ini dimulai dengan cerita Kai—panggilan Akai—yang terlalu ceroboh karena sering memecahkan cangkir-cangkir di kafe cokelat itu tiap bulannya. Dan hari itu, ia lagi-lagi, memecahkan cangkir bermotif daun yang ternyata disukai Ayahnya. Gawat!

Kecerobohan pecahnya cangkir-cangkir itu dikarenakan Kai selalu mengingat-ingat permainan piano yang dimainkan tetangganya yang belum lama ini pindah, ia bernama Yuki Akihara. Permainan piano yang membuatnya penasaran dan mengingatkannya pada kenangan di masa lalu.

Akihara-san adalah seorang penulis (atau lebih tepatnya, seseorang yang bermimpi menjadi penulis). Dan saat itu, ia sedang menulis kisah tentang cerita cinta seorang pianis, itulah mengapa ia rela meluangkan waktunya untuk belajar bermain piano; untuk mendalami karakter ceritanya dari seorang guru pembimbingnya bernama Ravel-sensei dan istrinya. Sayangnya, ada banyak rintangan yang harus dihadapi Yuki dalam jalan menuju mimpinya itu, membuatnya hampir menyerah dan putus asa.

“... Semua seni hebat berasal dari pengalaman mendalam, dan sering kali dari peleburan kisah-kisah dan karya-karya yang sudah ada. ...” (hal. 214)
Kenyataan bahwa Yuki mengetahui bahwa Akai adalah seorang pianis hebat yang juga seorang alumni N.A Rimsky-Korsakov Saint Petersburg State Conservatory membuatnya merasa kagum. Namun, pemuda itu malah menyerah dan membuang jauh-jauh impiannya karena ia tidak ingin kehilangan Ayahnya yang mengidap penyakit kanker paru-paru. Ia terlalu menyayangi Ayahnya dan tidak ingin kehilangannya sepeninggal Ibunya.

“Ketika kamu menjadi orangtua... tak ada yang bisa lebih melegakanmu selain kebahagiaan anakmu. Tak ada yang bisa lebih melegakanmu selain kebahagiaan anakmu. Tak ada yang lebih kau inginkan. Cita-cita anakmu adalah cita-citamu juga. Bila cita-cita mereka tidak tercapi, bagaimana perasaanmu? Bisakah kau meninggalkan mereka dengan tenang...?” (hal. 203)
Kai mau berusah payah dalam mewujudkan mimpi Yuki menjadi seorang penulis hebat, namun ia malah sering menyerah bila menyangkut mimpinya sendiri. Lantas, mampukah Yuki melakukan hal yang sama pada Kai? Dan akankah keduanya sama-sama mencapai mimpi masing-masing? Baca selengkapnya di Chokoréto.

***

Ini adalah GagasDuet pertama yang aku baca. Iya, padahal sampai saat ini sudah cukup bertebaran GagasDuet yang ditulis oleh penulis-penulis kebanggaan GagasMedia, maklum Asyifa anak yang telat pergaulan *eh.

Aku baca ini karena sebelumnya jatuh hati sama karangan Kak Prisca di bukunya Paris: Aline, tunggu juga ya review buku Kastil Es dan Air Mancur yang Berdansa, hehe. Anyway, aku belum pernah baca buku karangan Kak Sefryana Khairil sebelum ini, mungkin ada yang mau meminjamkan STPC seri Tokyo? :D

Dreamland dan Chokoréto sebenarnya punya cerita yang bertolak belakang. Dreamland yang menurutku lebih menceritakan tentang cinta buta seorang Nadine kepada Fajar, bahkan rela melakukan apapun dan hampir mengulang kesalahan yang sama. Sedangkan Chokoréto itu kisah yang manis, semanis minuman Snowflake yang dibuat Kai di kafe cokelat itu, dan cenderung menceritakan perjuangan mimpi dari masing-masing tokohnya, tapi pada akhirnya tetap berakhir menyenangkan kok.

Mengenai Dreamland, aku suka dengan cara Kak Sefryana menulis kutipan-kutipannya, alhasil kutipan Dreamland bisa lebih banyak daripada di bagian novella Chokoréto milik Kak Prisca, book quotes-nya terpisah ya–ada di blog post selanjutnya. Terus di setiap awal bab juga ditulis lirik lagu dari berbagai penyanyi dan band, semacam Sherina, Simple Plan, Avril Lavigne, Seconhand Serenade, dsb, cocok nih buat referensi lagu yang keren.

Dan buat Chokoréto, kalau dibandingkan sama buku Kastil Es dan Air Mancur yang Berdansa, suka dengan keklasikan setting-nya, tentang piano, komposisi, dan komposer-komposer besar yang secara nggak langsung dikenalkan Kak Prisca, aku jadi tahu komposisi Polonaise Op. 53, Transcendental Etudes, Piano Concerto 2 in F – Larghetto. Tapi porsinya lebih banyak di novel Kastil Es itu sih, hehe.

Ngomong-ngomong, cover-nya juga lucu dan unik, udah pasti gaya GagasMedia banget-lah. Sejenak, mungkin kita bakal mikir di cover awalnya nggak ada judul atau tulisan ‘Beautiful Mistake’, tapi kalau dibuka bagian belakang kita bakal dapat lipatan yang sekaligus cocok buat pembatas buku, padahal udah ada bookmark-nya, xixi. Overall, nice book, nggak sabar nih baca GagasDuet lain :D

by.asysyifaahs(◕‿◕✿)

[Review] Heart Out by Fei

Friday, June 27, 2014

But I think... you just refused to grow up and take every-chance to avoid responsibility and complexity.” (hal. 21)

Judul: Heart Out
Penulis: Fei
Penerbit: GagasMedia
Tebal: 264 halaman
Rating: ★★★★
Harga: Rp. 45.000,-

---

Siapa sangka kalau ternyata Heartbreakers mengalami masa liburan selama satu bulan? Bagi Leon, hal tersebut cukup aneh, mengingat jika libur dalam waktu yang cukup lama, itu artinya mereka sedang bermasalah. Namun, ia tidak terlalu memikirkannya. Selama masa liburan, Leon banyak menghabiskan waktunya di rumah, ngobrol bareng Lana ataupun kembali kepada dirinya yang dulu, nge-game nggak tau waktu.

Yeah, sometimes I got in trouble for being too blunt.” (hal. 82)
Satu hari, datanglah Darwin ke rumah Leon bermaksud meminta tolong. Darwin ini adalah teman sesama gamer Leon yang sudah kenal Leon cukup lama. Makanya, kedatangan Darwin kali ini untuk meminta tolong kepada Leon dalam membantu proyek game yang sedang digagas Darwin, LunaSol. Darwin bermaksud meminta tambahan modal untuk perbaikan game LunaSol.

Mindset lo tuh mesti positif dari awal, karena dengan begitu, lo udah lima puluh persen menuju keberhasilan. Jangan mikiran gagal, deh, pokoknya kerja keras aja biar semua berhasil. Percaya, deh, lo pasti bisa.” (hal. 95)
Sayangnya, masalah datang ketika ternyata papa Leon mengetahui hal itu. Alhasil, terjadi pertengkaran yang lama antara ayah dan anak tersebut. Belum lagi, waktu liburan Leon hanya beberapa minggu lagi. Jadi, bagaimana ya? Apa Leon bisa membantu Darwin dalam proyek LunaSol-nya? Bagaimana dengan papa Leon yang marah? Baca selengkapnya di Heart Out.

***

Sempat menunda bikin review buku ini karena terlalu malas, hehe maaf ya. Ternyata bikin review-nya singkat aja, karena apa? Karena Heart Out (menurutku) lebih baik daripada Heart Attack, serial Heartbreakers yang pertama.

Kalau Heart Attack menceritakan perjuangan Axel dalam membangun karier di dunia keartisan, lain halnya dengan Heart Out.  Kali ini, Heart Out menceritakan tentang perjuangan Leon—si maniac gamer yang usil—dalam berbisnis di dunia game. Cerita tentang boyband Heartbreakers-nya sih, nggak terlalu banyak, karena cerita lebih fokus bagaimana jatuh-bangunnya Leon dalam usaha game bareng Darwin ini.

“Informasi adalah raja–jangan pergi berperang sebelum tahu benar apa yang kamu hadapi.” (hal. 104)
Cukup bisa membayangkan bagaimana keadaannya. Aku heran, jangan-jangan Kak Fei ini gamer juga, jadi cukup tahu betul gimana-gimananya soal game (emang gimana ?). Ah iya, aku lupa review tentang adiknya Leon ya? Yap, Lana itu adiknya Leon yang menurutku lebih dewasa dari Leon, walau doi sebenarnya lebih hiperaktif. Nah, Lana ini juga bangun bisnis kecil-kecilan bareng teman kuliahnya, Jocelyn. Dan si Jocelyn ini punya impact yang besar banget dalam pengaruhnya ke Leon, ya mungkin tau lah gimana kelanjutannya tanpa dikasih spoiler, walau lagi-lagi cerita romance-nya agak menggantung. Kita tungguin aja yuk serial Heartbreakers yang ketiga dari Kak Lia, pasti digali dari sudut Sandro. Heheh...
“Yang penting jangan kelamaan bilang sukanya, Le. Dan jangan pernah lepasin cewek yang lo suka, sebelum akhirnya lo nyesel karena nggak punya kesempatan lagi.” (hal. 237)
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
 
a book blog by @asysyifaahs