Showing posts with label Grasindo. Show all posts
Showing posts with label Grasindo. Show all posts

[REVIEW] Evergreen - Prisca Primasari

Thursday, October 30, 2014

“Yah, kadang kenangan manis memang hanya mengerucut ke satu bagian.” (hal. 30)

Judul: Evergreen
Penulis: Prisca Primasari
Penerbit: Grasindo
Tebal: 203 halaman
Rating: ★★★★

---

Rachel Yumeko River merasa putus asa dan kecewa terhadap Sekai Publishing, bagaimana tidak karena ia telah dipecat sebagai editor penerbit tersebut hanya dikarenakan kesalahan kecil. Ia melampiaskan kekesalannya dengan terus-menerus memecahkan gelas dan terlalu mengeluh pada sahabat-sahabatnya—Mei, Cho, Akiko, dan Risa. Inilah yang mengakibatkan keempat sahabatnya itu merasa jengah dengan kelakuan Rachel yang merasa bahwa dirinyalah orang paling malang di dunia.

Tak pernah sekalipun dia bertanya, “Sahabat macam apa aku ini?” Tak pernah menyadari bahwa dia selalu ingin menerima, dikasihani, diperhatikan, dielu-elukan, menang, bahagia, tanpa ada keinginan untuk memberi. (hal. 8)

“Kau selalu menyalahkan orang lain tanpa melihat dirimu sendiri, Rashieru-chan, kau tidak pernah menyadari kau tidak pernah menjadi sahabat yang baik.” (hal. 79)
Setelah menawarkan diri di penerbit lain, Rachel mencoba menenangkan dirinya dengan masuk ke kafe Evergreen. Kafe yang tidak saja memiliki penampilan yang unik, tapi juga memberi kesan hangat dan punya ciri berbeda dibanding kafe lainnya. Pelayan-pelayannya pun ramah dan murah senyum, serta yang lebih mengherankan lagi adalah ia tak perlu membayar untuk kunjungan pertama kalinya itu. Benar-benar aneh!

“Pendapatku mengenai kenangan manis selalu berbeda dengan kalian,” — “Kalian ingin selalu mengingat kenangan manis, sedangkan aku malah ingin melupakan. Bahkan aku berharap kenangan itu tidak pernah ada. Dengan begitu, tidak ada yang perlu kutangisi.” (hal. 40)

“Menurutku kenangan tidak perlu dibagi. Kalau dibagi, tidak akan terasa istimewa lagi,” (hal. 41)
Di sisi lain, Yuya Fukushima—pemilik kafe Evergreen itu—memberikan kesempatan pada Rachel untuk bekerja disana. Sekalipun Rachel menolak, Yuya-san terus saja memaksa dan berniat mengancam Rachel kalau ia tidak mau bekerja. Setelah masuknya Rachel sebagai pegawai di kafe Evergreen, ada banyak hal yang mengesankan untuk diketahuinya. Mulai dari, kisah Fumio dan adiknya Toshi yang saling menyayangi, kisah Gamma dengan ayahnya yang tinggal di negara lain, kisah Kari dengan teman kecilnya, dan masih banyak hal mengejutkan lainnya yang pelan tapi pasti menyingkap rahasia terhadap perubahan perilakunya selama ini. Apa saja yang dialami Rachel setelah itu? Akankah dia berubah menjadi Riba-san lainnya? Baca selengkapnya di Evergreen.

***

Buku Kak Prisca Primasari lagi. Aku sudah cukup bisa menebak akan seperti latar dan suasana yang dibangun dalam cerita ini. Sepengalamanku dalam membaca buku karangannya yang lain, aku selalu berpikir kalau Kak Prisca akan menambah dongeng, musik klasik, dan pemaparan suasana yang seolah benar-benar nyata dialami.

Berbeda dengan buku sebelumnya yang lebih mengusung cerita di wilayah Eropa, kali ini Kak Prisca mengajak kita mengenal Rashieru Riba (nama Jepang untuk Rachel Yumeko River) dengan latar di Jepang. Tapi tetap saja, unsur musik klasik dapat beberapa kali kita temukan dalam buku ini.

Awalnya greget sekali dengan karakter Rachel yang pengeluh, tapi lama-kelamaan seolah ikut ditampar juga bahwa tak jarang kita sering (atau setidaknya pernah) melakukan apa yang Rachel rasakan. Rasa sedih, kecewa, marah, kesal, galau, sampai mungkin berniat melakukan bunuh diri (jisatsu) hanya karena semua perasaan mengerikan itu.

“Kau hanya ingin menerima, kau ingin diperhatikan, disayangi, dipedulikan. Tak pernahkah kau menanyakan pada dirimu sendiri berapa banyak kau telah memberi? Berapa banyak yang telah kau lakukan untuk sahabat-sahabatmu?” (hal. 79)

“Seringkali kau tidak menyadari betapa kau sangat membutuhkan sahabatmu,” — “Kau baru menyadarinya ketika mereka melupakanmu,” (hal. 83)
Konflik yang dibangun pun tidak hanya seputar masalah percintaan, dalam Evergreen kita dapat membaca masalah-masalah hubungan keluarga, adik-kakak, sampai kepada sahabat sendiri. Semua diulas dengan baik.

‘Begitulah Oyaji menyayangi kalian. Seperti empat musim. Jika yang satu berakhir, musim berikutnya akan meneruskan. Kalian tidak akan pernah bisa menghitung itu dengan matematika, tetapi dengan hati.’ (hal. 100)
Satu yang agak mengusik adalah jenis huruf dan ukuran yang digunakan dalam buku ini agak nggak enak dibaca (bagi aku). Walaupun bukan pengguna kacamata minus, rasanya cukup siwer juga saat membaca di malam hari karena ukurannya yang bisa dikatakan relatif kecil, walaupun untuk jenisnya lebih terasa 'manis'.

Tapi, secara keseluruhan masih tetap punya cita rasa ala Kak Prisca. Nggak salah lagi, she’s one of my favorite author :D

“Sesuatu yang sulit sekali diberikan. Padahal dengan melakukan itu, berarti kita menyelamatkan hati kita sendiri. Pernahkah kau mendengar, bahwa ketika kau memaafkan seseorang, kau membuka lagi pintu rumah yang sebelumnya kau tutup rapat-rapat, yang telah membuat dirimu terperangkap dan kehabisan napas. Ketika kau memaafkan, kau pun bisa bernapas lagi. Dan hidup.” (hal. 118)

by.asysyifaahs(◕‿◕✿)

[REVIEW] Oishii Jungle by Erlita Pratiwi

Monday, July 7, 2014

“... Sejatinya, sebuah persahabatan tidak akan lekang oleh waktu dan rentang jarak yang memisahkan.” (hal. 190)

Judul: Oishii Jungle
Penulis: Erlita Pratiwi
Penerbit: Grasindo
Tebal: 194 halaman
ISBN: 978-602-251-489-3
Rating: ★★★

---

Shasa, si anak Mama itu tiba-tiba saja bertanya pada Era tentang tempat eksotis di Indonesia yang seru dikunjungi dan tidak mudah untuk melupakan pengalamannya. Era, partner in crime-nya itu merasa heran, kenapa tiba-tiba Shasa menanyakan hal demikian? Padahal, biasanya ia tidak perlu bersusah payah untuk menanyakan tempat-tempat wisata menarik di Indonesia, karena tentu saja Shasa akan lebih banyak berlibur di luar negeri daripada di tanah airnya sendiri.

Maka demi menonton drama kabuki di gedung teater Kabuki-za, Tokyo, ia rela mencari cara agar supaya ia bisa menarik minat Akiko dan Kenji—temannya yang berada di Jepang itu—untuk menyetujui destinasi wisata Indonesia yang ditawarkannya. Ia sampai meminta Era untuk mencari lebih banyak tempat wisata yang diinginkan Akiko itu.

Mengapa warga negara asing lebih peka dengan keberadaan hewan-hewan yang nyaris punah itu? Mengapa bukan warga negara ini yang terpikir untuk menyelamatkan mereka? (hal. 138)
Dari pilihan yang ada, akhirnya Shasa memilih Taman Nasional Tanjung Puting. Selain deskripsi Era yang cukup menarik minatnya dibanding pilihan lain, kebetulan mereka berdua juga mempunyai teman kuliah yang tinggal dan cukup mengenal taman nasional tersebut, yaitu Heru, teman SMP mereka yang kini juga satu kampus di kampus yang sama.

Bagiku, pengalaman masuk hutan seperti ini sungguh luar biasa, meski panas yang terasa cukup menyengat. (hal. 130)
Perjalanan mereka tidak hanya ke Taman Nasional Tanjung Puting saja, tapi juga beberapa tempat wisata lain yang memang lokasinya berdekatan dengan taman in-situ tersebut. Mereka berlima—Shasa, Era, Heru, Akiko, dan Kenji—mengunjungi Camp Leakey, yang akhirnya malah membawa mereka pada pertemuan dengan Siswi. Sekaligus mengarungi Sungai Sekonyer yang tak disangka airnya berwarna kecokelatan dan ada buaya. Wow! Benarkah perjalananan Shasa di Pulau Borneo itu menyenangkan? Bagaimana nasibnya ketika seorang anak Mama yang biasa berlibur di luar negeri, tiba-tiba harus dibawa berlibur di hutan Kalimantan? Baca selengkapnya di Oishii Jungle.

***

Yep, janjiku sama Kak Erlita telah dipenuhi. Hehe, dari lusa kemarin—padahal bukunya sampai bulan lalu—aku sudah bilang kalau aku bakal secepatnya bikin review, dan baru selesai sekarang sih, diburu waktu karena besok harus mulai sekolah lagi, xoxo. Domo arigatou gozaimashita.

Nah, bukunya memang aku simpan dulu, soalnya harus membaca buku lain yang lebih diburu waktu [FYI, aku pinjam sih, hihi]. Ngomongin tentang buku ini, jadi bikin flashback 8 tahun lalu ketika masih tinggal di Kalimantan, bukan di Kalimantan Tengah sih, tapi di Tanjung, Tabalong - Kalimantan Selatan. Ah, yang penting mah sama-sama ada Tanjung-nya, hoho *bersikeras*


Aku suka detil yang dipaparkan mengenai Tanjung Puting itu sendiri, padahal sebelum mengetahui bukunya, aku nggak pernah tuh tahu betul soal taman nasional ini, soalnya penasaran aku cuma sampai Kalimantan Selatan aja, lebih ingat Martapura, Banjarbaru, Amuntai, dan tentu saja Tanjung, hehe. Sayangnya, pendetilan yang cukup banyak ini malah jadi membawa adegan lain yang aku rasa kurang perlu, salah satunya ketika mereka berlima makan di warung makan yang kemudian menjaminkan... *ups, spoiler*.

Ceritanya sebenarnya diawali dari kampus Shasa, berlanjut juga ke salah satu kedai makanan Jepang. Eh, secara nggak langsung, Kak Erlita juga ‘menyusupkan’ judul bukunya, Takoyaki Soulmate. Waduh, jadi penasaran sama buku yang itu tuh, hoho! *kode nih, kode*

Biasanya kemampuan berbahasa akan berkurang atau menghilang bila bahasa itu jarang digunakan. (hal. 69)
Ah iya, dari banyaknya tokoh, aku sih lebih suka sama Kenji, dia photographer maniac. Dikit-dikit foto, dikit-dikit foto. Sini deket sama aku, jadiin modelnya, kita selfie bareng, mwehehehe. Akiko juga bikin aku sadar dengan cara dia berbahasa. Kalau pilih imagination character, aku jadi inget Haruka JKT48 cocok banget jadi Akiko, soalnya usil. Anyway, Shasa juga ingetin aku sama teman sekelas, namanya Sarah—kadang dipanggil Sasha juga sih, beda dikit—anaknya punya sifat yang sama persis sama Shasa, sama-sama anak Mama, manja, sering libur tiap weekend, tapi tetap produktif dan manjanya nggak menye-menye, dia juga fotografer andalan aku. Nah, kalau buat Heru, aku juga kepikiran Iqbal—yang masih teman sekelasku juga—deskripsinya sih bilang Heru itu agak gendut, mirip Iqbal banget. Dan tahu kenapa, Sarah sama Iqbal sebenarnya pernah jadian, tapi mereka udah failed. Duuh, kalau Oishii Jungle sih lain cerita, hoho *aduh, takut keluar spoiler*.

Bekantan di Taman Nasional Tanjung Puting
Pokoknya, secara nggak langsung buku ini juga menyadarkan kita bahwa seharusnya sebagai masyarakat Indonesia kita kudu bangga sama negeri tercinta ini. Adam Young aja pakai bahasa Indonesia yang baik dan benar, masa kamu nggak? Hehe, ditunggu Takoyaki Soulmate mendarat di rumahku, Kak Erlita *ngarep* *ditampol*.


Ada beberapa kalimat sindiran halus yang patut dibaca:
1. Siapa bilang harus punya pacar untuk merasakan suasana romantis? (hal. 2)
2. “Tau sendiri, kan, orang Indonesia nggak pandai merawat kekayaan alam yang ada.” (hal. 23)
3. ..., manfaatkan semaksimal mungkin semua sumber daya yang ada untuk mendukung usahaku. (hal. 59)
4. “Begitu dong jadi anak muda. Produktif, nggak cuma galau melulu.” (hal. 74)

by.asysyifaahs(◕‿◕✿)
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
 
a book blog by @asysyifaahs