Showing posts with label Lucky No. 14 Reading Challenge. Show all posts
Showing posts with label Lucky No. 14 Reading Challenge. Show all posts

[REVIEW] Simple Thinking about Blood Type - Park Dong Sun

Sunday, August 24, 2014

Dalam bergaul di tengah masyarakat, hal yang terpenting adalah mengetahui cara menjalin hubungan dengan orang yang berbeda sifat dan karakter. (Prakata)

Judul: Simple Thinking about Blood Type
Penulis: Park Dong Sun
Penerbit: Penerbit Haru
Tebal: 262 halaman
Rating: ★★★

---

Takdir itu... bukan sesuatu yang diakhiri, tetapi sesuatu yang harus dibuka. Meski salah satu ikatan takdir yang tersisa memberikan beban berat, tetapi tidak boleh mengakhirinya dengan bodoh. (hal. 220)
Di dunia ini ada empat jenis golongan darah, ada A, B, O, dan AB. Golongan darah A hidup secara teratur dan taat peraturan. Peduli dan perhatian terhadap orang lain. Namun sulit beradaptasi dalam lingkungan sosial yang cepat berubah.

Golongan darah B tidak suka mencampuri urusan orang lain, juga tidak suka bekerja atau melakukan sesuatu secara teratur. Jika menyukai sesuatu, maka dia akan melakukannya terus-menerus tanpa memedulikan yang lain.

Golongan darah O memiliki semangat hidup yang sangat kuat. Idealis sekaligus realistis. Suka mengatur orang lain, juga selalu berhati-hati karena melihat orang lain sama kuatnya dengan dirinya.

Golongan darah AB adalah campuran antara sifat golongan darah A yang tenang dan stabil, juga plin-plan seperti sifat golongan darah B. Orang yang realistis, dingin, dan kemampuan bernegosiasinya sangat baik. Kritikus yang berbakat dan pandai memberikan saran. Namun, tidak semua orang suka mendengar sarannya, meskipun semua yang dikatakannya benar. Ia suka mengkritik, padahal dia sendiri tidak pernah melakukan tindakan yang disarankannya.

Pernah kan merasa kecewa terhadap orang lain?
Pernah kan tertusuk oleh “pedang tajam” teman yang dipercaya?
Pernah kan tersakiti oleh teman yang tidak pernah membuka hatinya?
Pernah kan merasa tidak bisa dipahami oleh orang lain?
***

Aku bergolongan darah AB, sedikit banyak (atau mungkin hampir 99%) pernyataan di buku ini ada benarnya. Ayahku juga punya golongan darah AB, tapi setelah dipikir-pikir kok rasanya hanya beberapa saja ya yang cocok dengan beliau? Hihi...

Katanya, AB itu realistis dan dingin, SETUJU. Makanya, nggak heran deh kalau di banyak waktu, aku suka menyendiri di tengah keramaian *tssaaah. Belum lagi, AB ini orangnya suka mengkritik, tepat dengan sifat aku yang begitu, bahkan terlalu cerewet mengomentari perbuatan-perbuatan orang yang lain yang nggak aku sukai.

Satu kata yang diucapkan oleh seseorang yang sedang jatuh cinta, “semakin menyukai seseorang, aku semakin lelah.” (hal. 256)
Simple Thinking about Blood Type ini awalnya dibuat karena banyak junior dan teman-teman Park Dong-Sun yang sering berkumpul, mengobrol bersama, dan membicarakan tentang golongan darah. Terkadang, ada perilaku-perilaku aneh yang dilakukan orang-orang tersebut saat bersama, misalnya pergi meninggalkan tanpa sebab, atau terlalu sibuk tanpa benar-benar peduli pertemuan itu. Ditambah, karena sebelumnya Park Dong-Sun sering membuat komik berupa web toon, akhirnya terbitlah komik yang merupakan hasil pengamatan ini di Korea sana.

Itu... seperti sebuah bekas luka. Tidak mungkin lebih sakit lagi, tetapi setiap kali melihatnya jadi teringat lagi... (hal. 210)
Semua pernyataan di komik ini bisa jadi ada benarnya, boleh lah kamu cocokkan satu per satu dengan sifat teman, saudara, atau orang-orang di sekitarmu. Kita bisa mengetahui sifat seseorang melalui golongan darahnya, baik secara umum maupun kebiasaan-kebiasaan yang sering dilakukan masing-masing golongan darah. Berlanjut ke hubungan sosial antargolongan darah, cerita serunya, dan ada Diary Bergambar si Cowok Gila yang aku yakini sebenarnya ini adalah diary ala Park Dong-Sun sendiri, mengingat tokoh Ayah bergolongan darah A, Ibunya B, Hyung-nya A, dan si ‘Cowok Gila’ bergolongan O *lho kok bisa?*

Bisa disimpulkan, kalau golongan darah A itu orangnya teratur, taat, dan patuh. Kalau B sih, ekspresif, bebas, tapi tetap peduli sekitar. Nah, yang O punya semangat tinggi, praktis, tapi seringkali merasa tersaingi. Sementara AB *ehem* orangnya suka mengkritik, realistis, dan mandiri. Tapi, Park Dong-Sun berpesan agar kita nggak seenaknya aja menilai orang berdasarkan golongan darahnya, kadang nggak semua pernyataan di web comic ini benar 100%, yang namanya manusia pasti punya salah, jadi hati-hati juga ya. Dan serial pertamanya ini masih belum cukup lho, nanti kita lanjut ke Simple Thinking about Blood Type 2 ya :D

Aku harap semuanya semakin mencintai seseorang, bisa semakin belajar cara untuk semakin mencintainya. Aku berharap semakin belajar cara untuk lebih banyak memberi. Aku berharap semakin belajar cara untuk lebih mampu mengungkapkannya. (hal. 258)
by.asysyifaahs(◕‿◕✿)

[REVIEW] Sunyaruri by Risa Saraswati

Monday, August 18, 2014

Judul: Sunyaruri
Penulis: Risa Saraswati
Penerbit: Rak Buku
Tebal: 350 halaman
Rating: ★★★★

---

Sunyaruri, sebuah alam kesepian yang saat itu dirasakan Teh Risa karena merasa kehilangan sahabat-sahabat terbaiknya. Entah apa yang membuat Peter dan kawan-kawan mulai menghindar dari pertemuan dan percakapan yang biasanya sering mereka lakukan. Mungkin, kisah dari Danur dan Maddah membuat sahabat astral itu banyak dikenal orang, dikenal pembaca yang sama-sama ingin tahu dan mengenal mereka lebih jauh, menanyakan banyak hal tentang kisah masa lalu mereka yang menarik untuk disimak.

William, si pemain biola itu pernah suatu kali bertemu dengan Risa, hanya sesaat tanpa percakapan yang berarti. Katanya, ia akan pergi menemui orang lain, orang lain yang juga ingin mencoba mendengarkan suara biola Nouval kesayangan Will. Apa yang dilakukan Janshen pun demikian, ketika Risa berteriak memanggil-manggil namanya di sebuah gedung, Janshen mengacuhkannya, bermain riang bersama dua anak perempuan, dan hanya sekali menoleh pada Risa tanpa ocehan-ocehan yang menjadi rindu. Marianne, Hendrick, Hans, Norma, dan Peter, mereka mengabaikan Risa, memilih melakukan hal lain yang menyenangkan bila dibanding bersama setiap saat dengan manusia ikan *psst, Teh Risa itu Pisces maniak*.

Apa yang dilakukan Teh Risa ketika semua sahabat-sahabatnya pergi adalah dengan mencari sahabat baru, “mereka” yang mau membagi ceritanya tentang kisah getir pahit manisnya ketika kehidupan masih menjadi takdir mereka.

Gadis mungil berumur 7 tahun itu bernama Karina, seorang anak yang mempunyai watak yang menyenangkan, senyuman manis, kulit yang terang, dan gaya bicara yang tidak seperti anak sebayanya. Ain—begitu panggilannya—sangat kritis dan jeli terhadap banyak hal, sikap dewasa yang jarang dimiliki orang dewasa, namun malah menjadi alasan kekesalan dari Bapaknya.

Bapak Ain adalah seseorang yang keras, ketika suatu kali Ain menginginkan boneka lucu nan imut terpajang di sebuah toko, ia merengek meminta Bapaknya membelikan boneka itu. Ketika terus-menerus Ain memaksa Bapaknya membelikan, bukan persetujuan yang Ain dapat, ia malah mendapat tamparan dan cacian benci dari ayah tirinya itu. Beberapa kali Ain mengalami hal ini, tapi tidak pernah berani ia menceritakannya pada ibunya—Sugia, bagi Ain, bapak adalah bapak, yang tetap harus dihormatinya. Tragedi itu menggariskan hidup Ain telah berakhir, Bapak terselamatkan karena pengorbanan heroik dari anaknya, anak yang bahkan bukan darah dagingnya sendiri. Ain meninggalkan semuanya, meninggalkan Bapaknya yang kejam dan Ibu yang menyayanginya, dan meninggalkan keinginan memeluk boneka yang diharapkannya itu.

Mara dan Dara adalah sepasang kembar yang lahir dari rahim seorang pembantu, hasil biologis dengan majikan yang adalah seorang tentang Belanda, Tuan Lucas. Keduanya ditinggalkan ibu mereka yang merasa bahwa Mara dan Dara adalah cobaan terbesar yang pernah dialami ibunya itu. Mereka sendirian, tak tahu harus pulang kepada siapa dan ke arah mana. Hingga, kabar baik bahwa ada orangtua yang mau mengangkat keduanya sebagai anak mereka, Mama Margaret dan Papa Lois. Kedua orangtua tersebut memperlakukan Mara dan Dara seperti anak kandungnya, terlebih karena mereka tidak mempunyai kehadiran si kecil di rumah yang mewah nan luas itu. Kehadiran keduanya sempat membuat Mama Margaret khawatir akan kondisi mereka mengingat invansi Jepang yang saat itu akan menyerang Belanda mulai tersiar kabarnya, hingga semua firasat kalut itu benar-benar menjadi nyata.

Pengagum hujan, Tika-lah salah satunya. Gadis yang diangkat Paman dan Bibi-nya untuk menghindari pernikahan dini sebagai tebusan atas hutang kedua orangtuanya. Ia sedikit pemberontak, kenapa harus Paman dan Bibi-nya menyelematkannya jika dengan menikah ia bisa dekat dengan orangtua kandungnya. Namun, Tika tetaplah gadis penurut, dengan cara mencuci baju tetangganyalah, Tika membantu keadaan ekonomi keluarga Pamannya. Hingga suatu hari, ketika ia bekerja mencuci di rumah indekos Bu Tia, ia berkenalan dengan seorang penghuni mahasiswa lelaki bernama Andre. Mereka saling suka, namun cinta tidak membuat Tika bahagia, rasa ketertarikan itu berbuah perlakuan jahat yang akhirnya membawanya pada takdir kematian.

Cinta tapi beda kembali hadir dalam Sunyaruri, Eljsa dan Djalil yang menuang kisah dalam Cerita Kertas dan Pena. Elsja adalah seorang gadis Belanda yang tumbuh, berkembang, dan menjalani kehidupan sedari kecil bersama Djalil, anak seorang pembantu wanita di rumah keluarga Netherland tersebut. Semua berawal dari persahabatan kecil, saling membantu, saling menolong. Hingga ketika umur mereka beranjak dewasa, perasaan aneh itu muncul di keduanya. Tidak tahu harus dengan cara apa mereka bisa bersatu karena ternyata Mama dan Papa Eljsa tidak menginginkan cerita cinta itu ada. Eljsa dikurung, di dalam kamarnya bahkan di ruang bawah tanah. Bukan tanpa alasan orangtuanya mengurungnya, mereka tahu akan kabar invansi Jepang yang membombardir Belanda agar pergi dari negeri jajahannya. Eljsa sendiri, ditemukan mati dalam keadaan mengenaskan, ia pergi dengan rasa luka dan dendam kepada orangtuanya, dendam akan perasaan cinta terhadap Djalil dan dendam mengapa mereka tak lagi hadir ketika Eljsa terpuruk.

Ada banyak kisah lain tentunya yang membangun Sunyaruri. Larung Hara dan Sepasang Sayap Kecil Annete adalah kisah Risa dengan “mereka” yang baru. Sebagian, Teh Risa juga menceritakan akan rasa rindunya terhadap kawan-kawannya, dan sebuah rahasia akan terkuak hingga mengakhiri dari trilogi ini, Danur—Maddah—Sunyaruri. Lalu, apakah cerita rahasia itu? Baca selengkapnya di Sunyaruri.

***

Aku berniat menyelesaikan review ini karena pengin segera mengemas keempat buku pinjaman ini dan dikembalikan kepada pemiliknya, Teh Dyah. Yah, tapi sepertinya gagal, karena review baru selesai ditulis sebelum aku berangkat Senin pagi *abaikan intermezzo ini*.

Sunyaruri adalah alam kesepian, dan aku pernah merasakannya. Aura yang terkandung dalam katanya pun, seolah-olah menyatakan bahwa ada sepi disana, ada rasa luka, ada rasa rindu, dan kenangan yang membuncah. Lagi-lagi, Teh Risa membawaku ke dalam dunianya yang saat itu gelap, gelap dari cerita-cerita lucu dari kelima sahabat kecilnya, sunyi.


Aku tidak pernah berpikir bahwa dengan membaca Danur dan Maddah, Peter dkk menjadi seterkenal itu. Mungkin saja kan ada orang yang memanggil-manggil nama mereka sebelum tidur, minta diceritakan kisah paling menyeramkan, dari “mereka-mereka” secara langsung. Aku juga tidak pernah berpikir bahwa aku bisa memanggil “mereka”, ya kalau boleh aku ingin meminta Ivanna sajalah, aku ingin menjerit bersamanya. Tapi, suatu kali memang pernah sih aku bertemu dengan Samantha, dia yang pernah diceritakan Teh Risa dalam buku Danur.

Judul dan ilustrasi yang diberikan memberikan aura yang sama, tidak menakutkan, tidak mistis, namun membuat kesan misterius, termasuk cover bukunya. Ah, aku baru sadar kenapa Teh Risa membawa aquarium kecil itu, dia kan si manusia ikan juga, Pisces maniak. Beberapa kali sempat menemukan typo, tapi nggak masalah. Kalau boleh dibilang, dari dua buku terbitan Rak Buku ini, aku suka penataan di Sunyaruri, ukuran hurufnya tidak sekecil di buku Maddah, dan penulisan surat menggunakan jenis huruf yang berbeda namun tetap bisa dibaca, lain dengan Maddah yang kadang aku juga merasa kesulitan membacanya. Hanya saja, kadang spasi antar paragraf kurang sinkron, ada yang terlalu rapat, tapi nggak jarang ada yang kejauhan *nggak sejauh Anyer-Panarukan, kok*.

Hm, pada akhirnya Sunyaruri menutup trilogi Story of Peter and Friends ini, kita mungkin nggak akan lagi membaca dan mendengar cerita mereka. Biarlah Teh Risa asyik dengan dunianya, biarlah kita puas dan merasa cukup dari tiga buku ini, dan biarlah Peter cs menjadi milik Teh Risa seorang, agar ia tak lagi sendiri dari keramaian dunia. Percaya tidak kalau Teh Risa menulis kisah romantis? Ananta Prahadi-lah jawabannya :)

by.asysyifaahs(◕‿◕✿)

[REVIEW] Maddah by Risa Saraswati

Judul: Maddah
Penulis: Risa Saraswati
Penerbit: Rak Buku
Tebal: 246 halaman
Rating: ★★★

---

Maddah adalah buku kedua dari trilogi kisah Peter cs, kembali Risa Saraswati menceritakan dunianya yang menyenangkan bersama kelima sahabatnya, dan juga dua sahabat barunya, Marianne—si gadis galak yang sembrono namun bisa berteman baik dengan Peter karena kesamaan watak yang mereka miliki, dan Norma—gadis cilik yang cantik dan baik dan sempat membuat pertengkaran di antara William dan Hendrick.

Ada beberapa kisah yang dituliskan, sama seperti buku sebelumnya—Danur—setiap kisah tentu menceritakan pengalaman Teh Risa dengan “mereka-mereka” yang baru ditemuinya, “mereka-mereka” yang tidak saja hanya menuang memori dalam buku ini, tapi juga menjadi awal perkenalan pembaca dengan setiap elemen yang ada. Yeah, you know what I mean.

Ada kisah Adam dan Biyan, sepasang kekasih yang tak lama lagi akan melangsungkan janji pernikahan. Namun, sebagai seorang calon pengantin, tidak heran jika Biyan menginginkan sesuatu yang spesial dari calon pasangannya, sebuah sepatu hitam yang dipesannya kepada seorang teman. Sepatu hitam dengan manik-manik hitam berkilauan yang menghiasi seluruh bagiannya itu kini akan jadi milik Biyan, namun sayang cerita ini berakhir ketika takdir memaksa sebuah tragedi terseret arus sungai menimpa pasangan kekasih itu. Jiwa mereka berpisah, namun cinta mereka bersama, bahkan setelah kematian sekalipun.

Ada lagi Ivanna, seorang perempuan jahat yang suka mencelakai orang lain. Keadaan yang memaksanya begitu. Ivanna adalah musuh besar Elizabeth, perempuan yang menjadikan perpecahan dalam keluarga Ivanna karena ia mencemooh Dimas—adik Ivanna, hanya karena namanya yang sangat Indonesia. Maka, dari kisah ini, terciptalah lagu Ivanna milik Risa Saraswati.



Penari itu adalah Canting, perempuan yang rela meninggalkan sekolah dan keluarganya hanya karena dirinya jatuh cinta pada sang pelatih, Farid. Perjalanan cinta mereka sangat menarik, Farid bisa dikatakan orang yang dapat memikat hati seorang perempuan bernama Canting. Suatu kecelakaan terjadi, Canting meminta Farid untuk sesegera mungkin menikahinya sebelum perutnya benar-benar membesar tanpa seseorang di sampingnya. Semua berjalan tidak seperti yang diharapkannya. Farid pergi meninggalkan Canting yang masih hamil karena ternyata ia sudah berumah tangga, Farid pergi untuk kembali ke keluarganya. Hidup seorang diri, berjuang dalam masa kehamilan, hingga melahirkan seorang anak lelaki, adalah pengorbanan yang harus Canting lakukan untuk melahirkan seorang anak manusia bernama Buih. Buih dititipkan kepada nenek dan kakeknya—Bapak dan Ibu Canting, karena Tuhan telah meminta Canting kembali sesaat setelah melahirkan Buih.



Ada lagi kisah sepasang kekasih yang ceritanya menyayat hati, Ladira dan Ardiga. Keduanya saling mencintai satu sama lain, perbedaan yang ada tidak membuat mereka merasa risi terhadap pandangan orang banyak mengenai perbedaan keyakinan. Dira adalah seorang Kristen Tionghoa, sedangkan Diga adalah laki-laki muslim anak dari seorang Kiai. Cinta mereka berakhir menyedihkan, memaksa keduanya berpisah karena perbedaan yang jarang bisa diterima banyak orang. Perbedaan untuk status seperti umur, sosial, ras memang bukan suatu hal yang besar, tapi apakah itu sama berlakunya dengan perbedaan agama diantara dua insan yang saling mencinta?

“Jika kau memang mencintaiku... kau harus percaya...” (hal. 168)
Tidak hanya itu, cerita lainnya juga dituang Teh Risa dari segi pandangnya yang menarik. Selipan cerita tentang kawan-kawannya ia kemas dengan caranya sendiri. Apa saja yang ditulisnya? Baca selengkapnya di Maddah.

***

Bukan hal yang mudah buatku menulis ulasan buku yang satu ini. Selain karena tersendat waktu dan peristiwa yang darurat, aku kadang takut juga kalau menulisnya di waktu tertentu, ketika sendiri atau malam menjelang. Hehe, asumsi bodoh sebenarnya, dan lebih bodoh aku melakukannya hingga kini memberanikan diri menulis review di malam hari.


Setiap cerita dalam Maddah diceritakan cukup panjang, namun tetap berkesan. Tetap ada kisah Peter, William, Hans, Hendrick, dan Janshen, kelima sahabat astral Teh Risa, namun dengan cerita yang lain—tentu saja—dengan buku Danur (Danur lebih bercerita kepada perkenalan dan masa lalu setiap karakter). Ada juga surat-surat yang menjadi sisipan di tiap jeda antara satu cerita ke cerita lainnya. Kadang tidak berkaitan, tapi kalau sudah baca Danur setidaknya, kita bisa paham kok.

Dari banyaknya cerita, aku suka kisah Ladira dan Ardiga. Dua sejoli yang memiliki akhir kisah menyedihkan karena sebuah perbedaan. Aku meyakini satu hal, perbedaan itu ada, perbedaan itu seperti air dan minyak—tak pernah bisa bersatu, namun tetap bisa berdampingan. Kisahnya juga cukup familiar ya apalagi kalau dikaitkan dengan kisah dari Dwi**sar* tentang Cinta Tapi Beda. Hm.

Ah ya, aku suka cara Teh Risa menuliskan judul dari setiap kisah, bahasa yang digunakan jarang bahkan baru aku tahu penulisan katanya. Mungkin bahasa Indonesia zaman dahulu, atau bahasa arkais yang aku sendiri nggak tahu apa maknanya. Apalagi, kata-kata itu bakal kamu temukan lebih banyak dalam Sunyaruri. See? Maddah membawaku pada ingatan tentang acara Léngkah Maddah yang beberapa waktu lalu diadakan di Bandung, dan tentunya beberapa kali aku senang memutar track Ivanna hanya karena suara jeritannya yang jadi candu.

by.asysyifaahs(◕‿◕✿)

[REVIEW] Dimensi by Triani Retno A & Rassa Shienta A

Friday, August 15, 2014

Judul: Dimensi
Penulis: Triani Retno A. & Rassa Shienta A.
Penerbit: Elex Media Komputindo
Tebal: 195 halaman
Rating: ★★★★

---

Tuhan memiliki begitu banyak rahasia. Manusia hanya diberi sedikit ilmu untuk mempelajari dan mengungkapkan rahasia-rahasia itu, terutama tentang alam gaib. (hal. 146)

Hari itu, kelas XI IPS kedatangan murid baru bernama Zhafira Massawa. Siswi pindahan yang merupakan keturunan Arab-Palembang-Sunda ini terpaksa pindah mengikuti Abi-nya yang mendapat tugas baru di Kota Bandung. Bukan hal yang mudah bagi Zha—begitu panggilannya—untuk beradaptasi dari SMAN 16 Palembang ke SMAN 215 Bandung dengan berbagai hal yang berlawanan dengan kebiasaannya.

Namun, semua hal itu berubah ketika Zha berkenalan dengan Keira Luvena, makhluk paling bawel dan si tukang ngayal tingkat tinggi. Hari-hari Zha terasa lebih menyenangkan, dan ia tidak pernah sungkan lagi untuk berbagi cerita yang belum diketahui teman-temannya dulu kepada Keira.

Suatu saat, Keira merasa curiga terhadap perlakuan Zha, ia merasa ada yang aneh dengan temannya itu. Dibantu Aldiano Dewanto, teman laki-laki sekelasnya itu, akhirnya Keira tahu kalau Zha ternyata seorang indigo. Indigo intradimensional.

“Itu, kan, karunia, Zha. Pemberian Tuhan. Tidak seorang pun bisa menahan rahmat yang dianugerahkan Tuhan kepada manusia. Begitu juga, tidak seorang pun dapat melepaskan apa saja yang ditahan oleh Allah,” (hal. 99)
Beberapa kali Zha harus merasakan berpindah dari satu dimensi ke dimensi lain. Ketika untuk pertama kalinya Keira dan Aldi mengetahui bahwa Zha pingsan, mereka merasa terkejut bahwa ternyata Zha pingsan karena ia sedang berintradimensi.

“... Hidup itu sederhana, Zha, tapi dengan bersyukur hidup akan jadi luar biasa. Dengan bersyukur kamu akan lebih bahagia dan hatimu akan jauh lebih tenang. Nggak semua orang bisa mendapatkan anugerah istimewa sepertimu,” — “... Jangan mengeluh. Keluhan itu bisa mengganda di otakmu dan akan membuat mentalmu semakin lemah. ...” (hal. 101)
Masa lalu, masa depan. Bukan hal yang aneh bagi seorang Zha jika ia harus pingsan dan melewati labirin waktu serta dibawa ke banyak tempat yang terkadang tidak ia ketahui. Dari sekian banyaknya tempat, sekolahnya sendiri-lah yang akhirnya membawanya pada sebuah misteri yang harus ia pecahkan. Dibantu Keira dan Aldi, Zha harus membantu seorang putri ningrat dari masa lalu, bagaimanakah perjalanan intradimensi Zha dan pertemuannya dengan Sekar Ayu? Apa yang harus Keira dan Aldi lakukan? Baca selengkapnya di DIMENSI.

***

Menyenangkan sekali, karena untuk pertama kalinya (lagi) bisa menuntaskan sebuah buku bacaan hanya dalam beberapa jam saja—dua jam sampai adzan Dzuhur hari Jumat berkumandang. Setelah sebelumnya berjuang mendapatkan buku ini dari penulisnya langsung, dan berjanji akan segera meresensinya dalam blog, akhirnya tunai sudah janji itu. Yeeee ^^v


Baiklah, kesan pertama yang aku tangkap dari cover buku, mungkin ini tentang cerita romance anak metropolitan. Namun, setelah membaca sedikit Thanks To dan hampir lupa membaca Sinopsis, ternyata buku ini bercerita tentang kisah anak indigo, Zha si indigo intradimensional. Wah, kayaknya lama nih belum baca buku yang bahas kayak gini, apalagi aku juga punya adik kelas yang (entah sekarang masih atau tidak) indigo juga, namanya Amira, kalau mau tahu :P

Kisah sebenarnya diawali dari cerita keseharian Keira dan adiknya, Keanu. Menceritakan juga tentang Maminya yang adalah seorang dosen di banyak universitas. Aku pikir, pada awalnya, mungkin si Keanu yang jadi anak indigo, tapi nggak ada tanda-tanda kalau dia yang bakal memerankan peran ini. Ah, tebakan Asyifa meleset jauh :(

Cerita kebanyakkan berlatar di sekolah, SMAN 215 Bandung. Hm, angka 215 udah kejauhan ya buat sekolah SMA di Bandung. Setauku untuk sekolah dengan label SMAN baru ada 20 apa 30 ya? Maaf kalau salah, bukan AKB, Anak Kota Bandung, hehe. Kalau dibaca dari latarnya, gedung sekolahnya, koridor, toilet, dan bahkan cat sekolah, aku pikir SMAN 215 ini wujud lain dari SMAN 5 Bandung. Iya nggak sih Mbak? *kalau salah, selain digebuk penulis, juga dihajar se-Belitung Timur, ealah*.

Ceritanya? Mengalir aja, benar-benar berjalan sebagaimana adanya. Kita juga bisa aja diajak jalan-jalan ke masa lalu dan masa depan yang mungkin di luar nalar, agak susah sih membayangkannya, apalagi cerita saat si Zha dibawa ke Kerajaan Pajajaran, duh x_x Akan tetapi..., masih ada beberapa hal yang mungkin bisa dijadikan saran, beberapa kali aku menemukan kata berbahasa lokal, selain atuh atau Neng, mungkin bisa dipastikan banyak orang tahu. Tapi, bagaimana ceritanya dengan ‘ngebanjur’ (hal. 18), aku sendiri kaget, ada kata nge-banjur yang mungkin saja pembaca buku Dimensi masih belum paham, kalau tidak pakai footnote ya ganti saja dengan kalimat Indonesia, disiram atau diguyur misalnya.

“Lagian apa asyiknya, sih, nonton bola? Bola cuma satu direbutin sama dua puluh dua orang gitu. Biasa kan ngantre, dong. Nunggu giliran, jangan rebutan gitu.” — “Tiru dong pemain bola bekel. Sabar mengantre sampai dapat giliran. Nggak main rebut dari lawan. Gimana kalau orang yang bolanya direbut ngerasa nggak rela? Wah, repot tuh urusannya, Nu. Dia bisa merasa teraniaya. Padahal, dosa orang teraniaya itu pasti dikabulkan oleh Allah. Bisa aja, kan, dia berdoa supaya lawan yang merebut bolanya itu kalah...” (hal. 2)
Tapi, tidak menutup kemungkinan selama membaca buku ini, kamu bisa tersenyum sendiri—saat membaca buku ya! Kelakuan-kelakuan aneh dari tiap tokohnya, terutama antara Aldi-Keira kadang bisa bikin ngakak, sekaligus iri, ah... harus dibaca deh. Anyway, entah kenapa ya banyak di antara keterangan dari tokoh-tokohnya dekat dengan kehidupan aku sendiri. Misal, nama ‘Luvena’ yang adalah juga nama belakang dari Kakak sepupu, beda dikit, sepupu aku nama belakangnya Luverina, doi nggak bawel kayak Keira kok. Terus nama belakang Aldi yang mengingatkan salah satu teman di Kota Bandung, Salman Dewanto, haha. Dan ya... terimakasih untuk ide penulis, baik Mbak Retno maupun Mbak Shienta yang telah berpikir memilihkan kelas untuk Sam, XI IPA 3, bangganya nama kelasku disebut, XI MIIA 3, karena MIIA adalah program IPA, sama saja. Terimakasih ya, kapan-kapan, bawa nama aku juga buat dijadikan nama tokoh *ngarep*.

by.asysyifaahs(◕‿◕✿)

[REVIEW] Fantasy by Novellina A.

Sunday, July 13, 2014

Judul: Fantasy
Penulis: Novellina A.
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tebal: 310 halaman
ISBN: 978-602-030-355-0
Rating: ★★★★★

---

Kisah dimulai dari keinginan Awang untuk mengenal Armitha melalui Davina. Bagi Awang, akan lebih mudah mengenal sosok perempuan judes itu dari sahabatnya. Maka, dimulailah perkenalan seorang cowok SMA yang cukup populer itu dengan dua siswi SMA yang tergolong tidak istimewa, bahkan biasa saja.

“Aku hanya mengetahui perasaanku dan berusaha jujur pada diriku sendiri. Tak perlu menggali lebih dalam akar dimana perasaan itu tumbuh.” (hal. 48)
Perkenalan itu malah membuat Davina dengan Awang lebih dekat daripada tujuan awal keduanya. Lambat laun, ada perasaan berbeda dari Davina, terlebih ketika ia mendengar lantunan komposisi yang Awang mainkan di perpustakaan menggunakan piano yang kabarnya sudah ada sejak zaman Belanda itu. Davina merasa jatuh hati ketika Awang sedang bermain piano saja. Namun, suatu kejadian pada akhirnya membuat mereka bisa saling jatuh hati dan kemudian berpacaran. Di sisi lain, Armitha yang awalnya sasaran kenalan Awang malah setuju saja dan mendukung hubungan antara Davina dan Awang itu, walau di lain hatinya ia merasa cemburu juga.

“Because by playing piano along with his pupils, he wanted to recall himself how to enjoy music purely.” (hal. 83)
Tidak hanya itu, persahabatan mereka kemudian diwarnai dengan kisah bahwa Armitha mulai tertarik untuk bermain piano. Walaupun ia adalah anak dari seorang musisi, tapi kecintaannya terhadap bermusik tidak serta merta membuatnya berlatih serius. Dan karena Awang-lah yang menjadi motivasi Armitha untuk bermain, berlatih, dan menunjukkan permainannya dalam sebuah kompetisi suatu saat nanti.

“Kamu akan lebih mengetahui bagaimana perbedaannya mendengar musik dengan hati atau hanya sekadar dengan telingamu. Telinga hanyalah penerima, namun organ yang sesungguhnya bekerja adalah otak dan tentu hatimu.” (hal. 84)
Armitha dan Awang punya mimpi yang sama, sama-sama ingin melanjutkan kuliah musik di Prancis. Namun, nasib nampaknya jauh lebih berpihak pada Awang karena sebelum lulus SMA pun, ia sudah ditawari beasiswa melanjutkan studinya di Tokyo.

“... Bagiku, sebuah mimpi bukanlah sesuatu yang tidak penting. Mimpi adalah inti dari kehidupan manusia. Aku memulai hidupku dari sebuah mimpi.” (hal. 171)

“Ketika seseorang memiliki banyak mimpi namun terlalu lama berada di comfort zone, harus ada seseorang yang membantu untuk menariknya keluar bukan?” (hal. 271)
Harapan itu pada akhirnya membuat Awang harus rela meninggalkan kedua sahabatnya, Davina dan Armitha. Begitupun dengan kisah cinta yang dijalani bersama Davina, Vina merasa ia tidak sanggup jika harus LDR.

“... Seperti itulah cinta. Kepercayaan total meskipun dia tidak pernah tahu apakah bisa bersamamu lagi. Pengorbanan bukan hanya tentang tindakanmu tapi juga perasaanmu. Saat kamu memutuskan pergi maka yang harus kamu lakukan hanyalah pergi selamanya.” (hal. 281)

Ya, tidak ada yang bisa mengalahkan kebahagiaan saat mengetahui orang yang kita cintai memberikan cinta sama besarnya dengan yang kita beri. (hal. 309)
Tujuh tahun kemudian, keberanian itu muncul lagi. Davina memberanikan dirinya untuk berangkat ke Tokyo dan menemui Awang, bertemu dengannya dan menceritakan mimpi Armitha yang sempat terhenti akibat satu kecelakaan yang hampir saja membuat Armitha tidak ingin lagi bermain musik, bahkan untuk menyentuh piano sekalipun.

Mungkin, jalan terbaik untuk tidak merasakan kesedihan adalah dengan tidak memikirkannya, menjauh dari kenangan, bahkan jika perlu meninggalkan semuanya untuk memulai hidup baru. (hal. 121)
Demi memenuhi keinginan dari mantan kekasihnya itu, maka Awang menyanggupinya walau ia tahu jalan yang harus ia tempuh memang tidaklah mudah. Sejak saat itulah, perasaan hatinya dikorbankan. Dari Surabaya, Tokyo, Singapura, Paris, Berlin, Salzburg, hingga Wina, mereka bertiga berlari menyambut mimpi, mencoba membuktikan bahwa mimpi tidak terlalu jauh untuk digapai selama mereka selalu melangkah untuk meraihnya. Baca kisah selengkapnya dalam Fantasy.

“Suatu hari aku akan bertemu dengannya lagi, entah hanya untuk mengucapkan selamat tinggal lagi atau bersama kembali. Hari itu akan datang. Hari di mana kita akan menjalin takdir kita dengan takdirnya lagi. Love doesn’t conquer all, faith does.” (hal. 127)
***

Aku percaya hati manusia bukanlah air susu yang akan mudah menghitam karena setetes tinta. Akan ada kemungkinan, walaupun sesaat, di dalam hati manusia, ruang singkat untuk kembali merindukan seseorang yang pernah hadir dalam hidupnya tidak peduli betapa pekatnya kebencian yang ia miliki. (hal. 216)
Seingatku, ini adalah Metropop pertama yang aku baca terbitan GPU. Seingatku juga, lini Metropop memang masih baru, atau mungkin aku yang terlalu telat pergaulan. Sejauh ini, karena memang baru membaca satu buku dari lini Metropop, maka bukan nggak mungkin kalau aku bilang buku ini keren.

Bagiku mencintai seseorang adalah memilikinya, berada di dekatnya, bukan melepaskannya hanya karena tidak ingin menjadi beban bagi orang itu. There is no burden in love, because love is always selfish. (hal. 126)
Cerita tentang bagaimana si tokoh berusaha menggapai mimpinya memang sudah banyak beredar di pasaran, tapi cerita tentang perjuangan yang kemudian dikaitkan dengan cerita musik klasik bahkan sampai ke negara asalnya—seperti Wina, Salzburg, Paris, dll—menurutku masih jarang ditemui.

Tidak ada yang lebih menyedihkan selain saat seseorang kehilangan harapan. Ketika seseorang bahkan tidak sanggup memimpikan sesuatu. Ketika tidak ada keyakinan dalam dirinya sendiri bahwa akan ada hari esok, yang jauh lebih baik daripada hari ini. (hal. 133)
Aku suka latar yang ditulis Kak Novellina, dimulai dari cerita SMA sekitar tahun 2005 yang menjelaskan bagaimana ‘kisah dahulu’ dari ketiga sahabat ini, sampai perjalanan mereka yang membawa kita di ‘masa sekarang’, tahun 2012 dan 2013. Walaupun masa SMA-nya bisa dibilang terlalu cepat, tapi menurutku sudah cukup baik untuk menunjukkan bagaimana permulaannya.

Aku sudah bilang belum kalau novel ini ditulis dari segi POV 1 dari 2 tokoh? Yap, perpindahan POV dari Davina ke Armitha juga menurutku cukup sukses dengan jelasnya karakter ‘aku’ yang dimainkan disini—selain karena di bab awal ditunjukkan siapa yang menjadi giliran ‘aku’. Sayangnya, kita nggak menemukan POV dari sudut pandang Awang, padahal kalau digali lebih lanjut lagi, mungkin kita juga bakal tahu bagaimana rasanya diperebutkan dua orang perempuan sekaligus, hehe.

Perjalanan mereka yang dimulai dari satu kota ke kota lain yang berbeda negara juga menarik, seolah-olah kita benar-benar dibawa secara langsung ke kota-kota lahirnya para musisi besar dunia tersebut. Eksekusi yang lagi-lagi berhasil. Hm, someday I’ll be there and know hot it feel to be Davina, Armitha, and Awang. Good luck for me, xoxo.

“You are my Fantasy in D minor, my ending from my search of happiness.” (hal. 308)
by.asysyifaahs(◕‿◕✿)

[REVIEW] Oishii Jungle by Erlita Pratiwi

Monday, July 7, 2014

“... Sejatinya, sebuah persahabatan tidak akan lekang oleh waktu dan rentang jarak yang memisahkan.” (hal. 190)

Judul: Oishii Jungle
Penulis: Erlita Pratiwi
Penerbit: Grasindo
Tebal: 194 halaman
ISBN: 978-602-251-489-3
Rating: ★★★

---

Shasa, si anak Mama itu tiba-tiba saja bertanya pada Era tentang tempat eksotis di Indonesia yang seru dikunjungi dan tidak mudah untuk melupakan pengalamannya. Era, partner in crime-nya itu merasa heran, kenapa tiba-tiba Shasa menanyakan hal demikian? Padahal, biasanya ia tidak perlu bersusah payah untuk menanyakan tempat-tempat wisata menarik di Indonesia, karena tentu saja Shasa akan lebih banyak berlibur di luar negeri daripada di tanah airnya sendiri.

Maka demi menonton drama kabuki di gedung teater Kabuki-za, Tokyo, ia rela mencari cara agar supaya ia bisa menarik minat Akiko dan Kenji—temannya yang berada di Jepang itu—untuk menyetujui destinasi wisata Indonesia yang ditawarkannya. Ia sampai meminta Era untuk mencari lebih banyak tempat wisata yang diinginkan Akiko itu.

Mengapa warga negara asing lebih peka dengan keberadaan hewan-hewan yang nyaris punah itu? Mengapa bukan warga negara ini yang terpikir untuk menyelamatkan mereka? (hal. 138)
Dari pilihan yang ada, akhirnya Shasa memilih Taman Nasional Tanjung Puting. Selain deskripsi Era yang cukup menarik minatnya dibanding pilihan lain, kebetulan mereka berdua juga mempunyai teman kuliah yang tinggal dan cukup mengenal taman nasional tersebut, yaitu Heru, teman SMP mereka yang kini juga satu kampus di kampus yang sama.

Bagiku, pengalaman masuk hutan seperti ini sungguh luar biasa, meski panas yang terasa cukup menyengat. (hal. 130)
Perjalanan mereka tidak hanya ke Taman Nasional Tanjung Puting saja, tapi juga beberapa tempat wisata lain yang memang lokasinya berdekatan dengan taman in-situ tersebut. Mereka berlima—Shasa, Era, Heru, Akiko, dan Kenji—mengunjungi Camp Leakey, yang akhirnya malah membawa mereka pada pertemuan dengan Siswi. Sekaligus mengarungi Sungai Sekonyer yang tak disangka airnya berwarna kecokelatan dan ada buaya. Wow! Benarkah perjalananan Shasa di Pulau Borneo itu menyenangkan? Bagaimana nasibnya ketika seorang anak Mama yang biasa berlibur di luar negeri, tiba-tiba harus dibawa berlibur di hutan Kalimantan? Baca selengkapnya di Oishii Jungle.

***

Yep, janjiku sama Kak Erlita telah dipenuhi. Hehe, dari lusa kemarin—padahal bukunya sampai bulan lalu—aku sudah bilang kalau aku bakal secepatnya bikin review, dan baru selesai sekarang sih, diburu waktu karena besok harus mulai sekolah lagi, xoxo. Domo arigatou gozaimashita.

Nah, bukunya memang aku simpan dulu, soalnya harus membaca buku lain yang lebih diburu waktu [FYI, aku pinjam sih, hihi]. Ngomongin tentang buku ini, jadi bikin flashback 8 tahun lalu ketika masih tinggal di Kalimantan, bukan di Kalimantan Tengah sih, tapi di Tanjung, Tabalong - Kalimantan Selatan. Ah, yang penting mah sama-sama ada Tanjung-nya, hoho *bersikeras*


Aku suka detil yang dipaparkan mengenai Tanjung Puting itu sendiri, padahal sebelum mengetahui bukunya, aku nggak pernah tuh tahu betul soal taman nasional ini, soalnya penasaran aku cuma sampai Kalimantan Selatan aja, lebih ingat Martapura, Banjarbaru, Amuntai, dan tentu saja Tanjung, hehe. Sayangnya, pendetilan yang cukup banyak ini malah jadi membawa adegan lain yang aku rasa kurang perlu, salah satunya ketika mereka berlima makan di warung makan yang kemudian menjaminkan... *ups, spoiler*.

Ceritanya sebenarnya diawali dari kampus Shasa, berlanjut juga ke salah satu kedai makanan Jepang. Eh, secara nggak langsung, Kak Erlita juga ‘menyusupkan’ judul bukunya, Takoyaki Soulmate. Waduh, jadi penasaran sama buku yang itu tuh, hoho! *kode nih, kode*

Biasanya kemampuan berbahasa akan berkurang atau menghilang bila bahasa itu jarang digunakan. (hal. 69)
Ah iya, dari banyaknya tokoh, aku sih lebih suka sama Kenji, dia photographer maniac. Dikit-dikit foto, dikit-dikit foto. Sini deket sama aku, jadiin modelnya, kita selfie bareng, mwehehehe. Akiko juga bikin aku sadar dengan cara dia berbahasa. Kalau pilih imagination character, aku jadi inget Haruka JKT48 cocok banget jadi Akiko, soalnya usil. Anyway, Shasa juga ingetin aku sama teman sekelas, namanya Sarah—kadang dipanggil Sasha juga sih, beda dikit—anaknya punya sifat yang sama persis sama Shasa, sama-sama anak Mama, manja, sering libur tiap weekend, tapi tetap produktif dan manjanya nggak menye-menye, dia juga fotografer andalan aku. Nah, kalau buat Heru, aku juga kepikiran Iqbal—yang masih teman sekelasku juga—deskripsinya sih bilang Heru itu agak gendut, mirip Iqbal banget. Dan tahu kenapa, Sarah sama Iqbal sebenarnya pernah jadian, tapi mereka udah failed. Duuh, kalau Oishii Jungle sih lain cerita, hoho *aduh, takut keluar spoiler*.

Bekantan di Taman Nasional Tanjung Puting
Pokoknya, secara nggak langsung buku ini juga menyadarkan kita bahwa seharusnya sebagai masyarakat Indonesia kita kudu bangga sama negeri tercinta ini. Adam Young aja pakai bahasa Indonesia yang baik dan benar, masa kamu nggak? Hehe, ditunggu Takoyaki Soulmate mendarat di rumahku, Kak Erlita *ngarep* *ditampol*.


Ada beberapa kalimat sindiran halus yang patut dibaca:
1. Siapa bilang harus punya pacar untuk merasakan suasana romantis? (hal. 2)
2. “Tau sendiri, kan, orang Indonesia nggak pandai merawat kekayaan alam yang ada.” (hal. 23)
3. ..., manfaatkan semaksimal mungkin semua sumber daya yang ada untuk mendukung usahaku. (hal. 59)
4. “Begitu dong jadi anak muda. Produktif, nggak cuma galau melulu.” (hal. 74)

by.asysyifaahs(◕‿◕✿)

[Review] Kastil Es & Air Mancur yang Berdansa by Prisca Primasari

Saturday, July 5, 2014

“Apa itu penting? Bukankah definisi orang tentang cinta berbeda...? Aku merasa aku mencintaimu, dan itu menjelaskan mengapa aku tetap ingin berada di sini...” (hal. 161)

Judul: Kastil Es & Air Mancur yang Berdansa
Penulis: Prisca Primasari
Penerbit: GagasMedia
Tebal: 292 halaman
ISBN: 978-979-780-589-0
Rating: ★★★★★

---

Florence L’etoile Leroy melarikan diri dari rumahnya, ia menolak mentah-mentah niat kedua orangtuanya yang ingin menjodohkannya dengan seorang pria untuk melakukan kencan buta yang direncanakan Maman dan Papa-nya itu. Dalam perjalanan kaburnya menuju Honfleur, Florence mengalami masalah lagi, tas yang dibawanya tidak cukup baik untuk menampung barang-barangnya—dompet, agenda, pulpen, buku-buku, piringan hitam, ponsel, peralatan melukis. Ia pasrah, menerima kenyataan bahwa tasnya harus dibuang begitu saja, dan membawa barang-barang itu di dalam pangkuannya.

Hal yang tidak nyata tetap akan lebih menyedihkan daripada hal yang nyata, seindah apa pun itu. Karena ketidaknyataan itu hanya hidup di angan-angan, dalam dimensi dan ruang yang sama sekali berbeda. (hal. 175)
Namun, secara tak sengaja ia bertemu dengan seorang lelaki di dalam kereta yang ia tumpangi itu. Tampaknya, lelaki tersebut baru saja membeli sebuah tas baru—which is itu adalah tas merk Chanel keluaran terbaru saat itu. Yang paling mengejutkan adalah ketika lelaki itu dengan mudahnya memberikan tas mahal tersebut kepada Florence. Sejak saat itulah, Florence mengenal lelaki yang bernama Vinter Vernalae tersebut.

“Kereta seindah apapun tidaklah berguna bila tidak mempunyai kuda yang menariknya. Lama-lama akan terbengkalai dan terpendam salju. Sama halnya dengan manusia, yang tidak akan bertahan lama bila tidak ada yang mendukung atau mendampinginya; betapapun hebatnya, mereka pasti akan terlupakan.”
Saat itu juga, Vinter sedang bermasalah. Ia diminta oleh Monsieur Zima—temannya di Honfleur—untuk mendatangkan sekelompok seniman yang dapat menggelar berbagai penampilan dalam sebuah pertunjukan; mulai dari membaca puisi, menampilkan drama, melukis, bermain musik, dan semacamnya. Sayangnya, ketika Vinter sudah menyewa grup seni dari Montmartre, mereka membatalkan undangan tersebut. Hal yang mengejutkan adalah ketika tiba-tiba saja Florence menawarkan diri untuk menyanggupinya, ia memang memiliki kemampuan seni yang begitu baik sehingga dapat melakukan hal yang diminta Monsieur Zima tersebut hanya seorang diri. Terlebih, ia melakukan itu sebagai balasan untuk tas yang diberikan cuma-cuma oleh Vinter.

“Masa lalu memang mengubah kita dengan cara yang aneh, bukan?” (hal. 126)
Selama melakukan pertunjukan di rumah Monsieur Zima, sedikit banyak Florence mulai mengenal lelaki yang sudah berumur tersebut. Dulu, ia adalah seorang konduktor hebat, namun Zima adalah orang yang mempunyai kisah hidup yang kelam, sepi, dan menyedihkan. Dari Monsieur Zima, Florence pun semakin mengenal sosok Vinter yang mempunyai dunia yang penuh air mata karena kenangan-kenangan di masa lalunya. Perlahan, Florence dan Vinter saling mengetahui keadaan masing-masing yang ternyata mempunyai masa lalu penuh luka. Akan tetapi, kenyataan bahwa keduanya sama-sama memiliki ‘orang baru’ jauh lebih menyakitkan ketika pada akhirnya mereka tahu isi hati masing-masing. Lalu, siapakah lelaki yang dijodohkan dengan Florence dan perempuan pemilik tas hadiah dari Vinter itu? Apakah mereka orang yang dikenal keduanya? Baca selengkapnya di Kastil Es & Air Mancur yang Berdansa.


“Masa lalu tidaklah penting. Orang yang punya masa lalu buruk belum tentu akan menjadi pribadi yang buruk juga. Semua tergantung pilihan hidup. ...” (hal. 226)
***

Buku ketiga dari Kak Prisca Primasari yang aku baca. Baiklah, ini dia penulis kebanggaan GagasMedia yang kini juga menjadi penulis favorit aku. Hmm, Kak Prisca kapan menulis buku baru lagi ya? :D

Bukankah ketika kau ingin sekali bahagia, kau tidak akan pernah menyia-nyiakan setiap uluran yang datang...? (hal. 227)
“Kau takkan pernah bisa bahagia sebelum memaafkan, memberi kesempatan, dan menyayangi dirimu sendiri,” (hal. 277)
Nggak bisa berkata banyak untuk buku ini, karena KABAR GEMBIRA UNTUK KITA SEMUA. Oke, sudahlah, aku nggak akan bahas bagaimana cara mengesktrak kulit manggis. Yang pasti, aku suka buku ini dari berbagai segi, selain gaya penulisan Kak Prisca, juga setting-nya yang selalu mengambil latar di Eropa–khususnya Prancis dan Rusia, informasi baru disini juga bermanfaat, cerita Les Quatre Saisons tentang seri gubahan Antonio Vivaldi mengenai empat musim (Spring, Summer, Autumn, Winter) yang berhubungan juga sama nama lain dari Monsieur Zima. Terus, cerita tentang Snegurochka juga. Wah, aku belum tahu banyak sih, sedang dalam masa peng-googling-an nih!

“... Snegurochka, yang selalu merasa yakin tidak akan pernah merasa lemah, akhirnya meleleh dan menghilang karena kehangatan cinta yang dia rasakan.” (hal. 174)
Cover, entah untuk yang keberapa kalinya, sudah masuk kategori Gagas sekali. Unik dan manis, menyiratkan tentang kenangan masa lalu di Eropa djaman doeloe. Pantas sih, karena latar waktu ceritanya mengambil tahun 80-90-an.

“Lari tidak akan menyelesaikan masalah. Kau harus berani menghadapi segalanya.” (hal. 88)
Benar-benar buku yang aku rekomendasikan untuk para kamu semua yang (mungkin) baru mengenal GagasMedia atau sudah jadi #GagasAddict. Beberapa di antara koleksi GagasMedia lainnya yang juga aku ceritakan, bisa kamu baca di #11TanpaBatas: 11 Buku GagasMedia yang Wajib Baca ala ASYSYIFAAHSBOOK.

“Aku selalu berpendapat bahwa orang yang benar-benar baik adalah orang yang mengakui bahwa dia tidak sebaik itu. (hal. 282)

[Review] Heart Out by Fei

Friday, June 27, 2014

But I think... you just refused to grow up and take every-chance to avoid responsibility and complexity.” (hal. 21)

Judul: Heart Out
Penulis: Fei
Penerbit: GagasMedia
Tebal: 264 halaman
Rating: ★★★★
Harga: Rp. 45.000,-

---

Siapa sangka kalau ternyata Heartbreakers mengalami masa liburan selama satu bulan? Bagi Leon, hal tersebut cukup aneh, mengingat jika libur dalam waktu yang cukup lama, itu artinya mereka sedang bermasalah. Namun, ia tidak terlalu memikirkannya. Selama masa liburan, Leon banyak menghabiskan waktunya di rumah, ngobrol bareng Lana ataupun kembali kepada dirinya yang dulu, nge-game nggak tau waktu.

Yeah, sometimes I got in trouble for being too blunt.” (hal. 82)
Satu hari, datanglah Darwin ke rumah Leon bermaksud meminta tolong. Darwin ini adalah teman sesama gamer Leon yang sudah kenal Leon cukup lama. Makanya, kedatangan Darwin kali ini untuk meminta tolong kepada Leon dalam membantu proyek game yang sedang digagas Darwin, LunaSol. Darwin bermaksud meminta tambahan modal untuk perbaikan game LunaSol.

Mindset lo tuh mesti positif dari awal, karena dengan begitu, lo udah lima puluh persen menuju keberhasilan. Jangan mikiran gagal, deh, pokoknya kerja keras aja biar semua berhasil. Percaya, deh, lo pasti bisa.” (hal. 95)
Sayangnya, masalah datang ketika ternyata papa Leon mengetahui hal itu. Alhasil, terjadi pertengkaran yang lama antara ayah dan anak tersebut. Belum lagi, waktu liburan Leon hanya beberapa minggu lagi. Jadi, bagaimana ya? Apa Leon bisa membantu Darwin dalam proyek LunaSol-nya? Bagaimana dengan papa Leon yang marah? Baca selengkapnya di Heart Out.

***

Sempat menunda bikin review buku ini karena terlalu malas, hehe maaf ya. Ternyata bikin review-nya singkat aja, karena apa? Karena Heart Out (menurutku) lebih baik daripada Heart Attack, serial Heartbreakers yang pertama.

Kalau Heart Attack menceritakan perjuangan Axel dalam membangun karier di dunia keartisan, lain halnya dengan Heart Out.  Kali ini, Heart Out menceritakan tentang perjuangan Leon—si maniac gamer yang usil—dalam berbisnis di dunia game. Cerita tentang boyband Heartbreakers-nya sih, nggak terlalu banyak, karena cerita lebih fokus bagaimana jatuh-bangunnya Leon dalam usaha game bareng Darwin ini.

“Informasi adalah raja–jangan pergi berperang sebelum tahu benar apa yang kamu hadapi.” (hal. 104)
Cukup bisa membayangkan bagaimana keadaannya. Aku heran, jangan-jangan Kak Fei ini gamer juga, jadi cukup tahu betul gimana-gimananya soal game (emang gimana ?). Ah iya, aku lupa review tentang adiknya Leon ya? Yap, Lana itu adiknya Leon yang menurutku lebih dewasa dari Leon, walau doi sebenarnya lebih hiperaktif. Nah, Lana ini juga bangun bisnis kecil-kecilan bareng teman kuliahnya, Jocelyn. Dan si Jocelyn ini punya impact yang besar banget dalam pengaruhnya ke Leon, ya mungkin tau lah gimana kelanjutannya tanpa dikasih spoiler, walau lagi-lagi cerita romance-nya agak menggantung. Kita tungguin aja yuk serial Heartbreakers yang ketiga dari Kak Lia, pasti digali dari sudut Sandro. Heheh...
“Yang penting jangan kelamaan bilang sukanya, Le. Dan jangan pernah lepasin cewek yang lo suka, sebelum akhirnya lo nyesel karena nggak punya kesempatan lagi.” (hal. 237)
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
 
a book blog by @asysyifaahs