Showing posts with label Short Stories Reading Challenge 2014. Show all posts
Showing posts with label Short Stories Reading Challenge 2014. Show all posts

[Review] Filosofi Kopi by Dee Lestari

Tuesday, June 24, 2014

Cinta tidak hanya pikiran dan kenangan. Lebih besar, cinta adalah dia dan kamu. (hal. 44)

Judul: Filosofi Kopi
Penulis: Dee Lestari
Penerbit: Bentang Pustaka
Tebal: 140 halaman
Rating: ★★★★
Harga: Rp. 47.000,-

---
Filosofi Kopi berisi 18 karangan yang ditulis oleh Dee Lestari. Seperti halnya Madre, judul dari buku ini juga dijadikan sebagai judul pertama karangan cerita.

Sejarah memiliki tampuk istimewa dalam hidup manusia, tetapi tidak lagi melekat utuh pada realitas. (hal. 42)
Filosofi Kopi
Bercerita tentang Ben dan Jody yang membuka sebuah kedai kopi yang sudah cukup terkenal bagi kalangan pecinta kopi. Mereka menamainya Filosofi Kopi: Temukan Diri Anda di Sini. Banyak yang menyukai kopi buatan Ben, tentu saja karena itu hasil dari usaha Ben menemukan ramuan kopi yang enak yang ia pelajari dari banyak tempat di berbagai negara. Namun, Ben merasa semua itu belum cukup karena ia ditantang oleh seorang pengusaha untuk membuatkannya sebuah ramuan kopi yang menandakan kesuksesan yang sempurna.

“... Sesempurna apa pun kopi yang kamu buat, kopi tetap kopi, punya sisi pahit yang tak mungkin kamu sembunyikan...” (hal. 28)
Mencari Herman
Hera menginginkan seorang lelaki yang bernama Herman, Herman saja, tidak berakhiran –to, –syah, –di. Dia menginginkan Herman saja. Perjalanan hidupnya untuk mencari Herman tentu saja sulit, ia perlu merasakan kesulitan-kesulitan hidup yang membuatnya hampir menyerah. Hingga, ditemukanlah Herman yang sesungguhnya, Herman yang ia cari selama ini.

“Bila engkau ingin satu, maka jangan ambil dua. Karena satu menggenapkan, tapi dua melenyapkan.” (hal. 31)
Sikat Gigi
Tio selalu senang jika Egi sedang menyikat gigi. Baginya, selama Egi menyikat gigi—walau hanya dalam tiga menit—itu sudah membuatnya dapat menahan Egi, walau sementara. Baginya, dengan kebiasaan Egi untuk menyikat gigi, Egi bisa sejenak melupakan sesuatu yang seringkali membuat Tio merasa iri.

Angka miliaran tadi adalah fakta matematis. Empiris. Siapa bilang cinta tidak bisa logis. Cinta mampu merambah dimensi angka dan rasa sekaligus. (hal. 53)
***

Ini buku kedua Dee yang aku baca setelah sebelumnya Madre. Kalau diperhatikan, sebenarnya bukunya nggak jauh beda dengan Madre, sama-sama tentang cerita, prosa, dan puisi bertema cinta. Bedanya, kalau di Madre bercerita tentang ragi roti, rahim ibu, mercusuar, Filosofi Kopi lebih mengarah pada kopi, kecoak, dan sikat gigi.

Bertambahnya usia bukan berarti kita paham segalanya. (hal. 68)
Nggak banyak yang bisa aku ceritakan untuk Filosofi Kopi, seolah-olah memang tidak perlu di-review karena semua orang tahu, karya-karya Dee memang selalu baik dan apik. Walau mungkin, ada yang menyukainya, ada juga yang tidak. Aku bisa jadi di antara keduanya, karena sedang membaca buku-buku Dee lainnya.

Banyak hal yang tak bisa dipaksakan, tapi layak diberi kesempatan. (hal. 66)

Orang-Orang Tanah by Poppy D. Chusfani

Sunday, June 15, 2014

Aku di sini. Berceritalah tentangku. Aku di sini. (hal. 56) 

Judul: Orang-Orang Tanah
Penulis: Poppy D. Chusfani
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tebal: 200 halaman
Rating: ★
Harga: Rp. 42.000,-

---

Orang-Orang Tanah terdiri dari sembilan cerita pendek yang masing-masing bercerita tentang kefanaan, perjuangan, dan pembalasan dendam. Ada Jendela, Pelarian, Pondok Paling Ujung, Bulan Merah, Dewa Kematian, Pintu Kembali, Lelaki Tua dan Tikus, Sang Penyihir, dan Orang-Orang Tanah.

Masing-masing ceritanya mempunyai masalah berbeda, dengan karakter tokohnya adalah seorang anak, atau bahkan ‘aku’ dari Mbak Poppy itu sendiri—sebagai seorang penulis. Dalam Jendela, tidak hanya menceritakan tentang perjuangan seorang ibu, tapi juga dengan bagaimana pengorbanan seorang anak untuk menyelamatkan ibunya. Harapan seorang anak tidak terlalu besar, hanya ingin menikmati makanan yang menyenangkan.


“Aku dipenjara, Lara! Aku diawasi terus-menerus. Aku diancam jika berusaha melarikan diri, aku akan dipenggal. Kemudian kau ternyata menjadi seperti ayahmu. Ancaman datang lagi...” (hal. 41)
Dalam Pelarian, bercerita tentang seorang Lara yang harus dihadapkan pada pilihan yang sulit, ketika harus memilih orang yang akan dibelanya—seorang Ratu yang memberinya kehidupan ataukah ibunya yang mengungkapkan sebuah rahasia yang membuat pilihan itu makin sulit. Pondok Paling Ujung seolah bercerita bagaimana kehidupan penulis itu sendiri—dengan sedikit tambahan fantasi, tentu saja—hingga akhirnya ia tidak menyadari bahwa pondok itu banyak memberinya inspirasi yang tak terduga.

Aku adalah malam. Aku adalah kegelapan. Aku menyatu dengan bayangan. (hal. 69)
Bulan Merah menyuguhkan sesuatu yang bisa kita kaitkan dengan cerita The Twilight. Seorang anak bercerita bahwa kehidupan tidak lama lagi akan hancur, ia merasakannya karena hanya hewan dan makhluk setengah hewan lah yang dapat merasakan hal itu, tapi kali ini semua kehidupan akan benar-benar hancur, tak bersisa.


Aku tahu ke mana harus melangkah. Mata tunggal malam hari menarikku, bayang-bayang menuntunku, seakan mengulurkan tali yang membelit tubuhku, menarik dan menarik dan membuatku tidak mampu berpaling darinya. (hal. 70)
Di cerita terakhir, Orang-Orang Tanah memberikan kita cerita tentang sekejam-kejamnya seorang ibu tiri. Sang anak tidak meminta lebih, ia hanya ingin mendapatkan perhatian dari ayahnya melebihi perhatian Ayah kepada sang ibu tiri. Hingga, suatu kekuatan di dekat akar pohon itu dapat mewujudkan keinginannya selama ini.
***

Huft, untuk kali ini aku kurang punya antusias untuk buku ini—atau malah buku ini yang membuat aku kurang antusias? Nggak tau kenapa, rasanya kurang mood.


“Jika manusia menjauhkan diri dari godaan, manusia akan terbebas dari dosa,” (hal. 80)
Cover-nya mengilustrasikan tentang seorang anak bergaun merah yang membawa keranjang dengan dua buah apel di tanah. Satu yang menarik adalah, mata di dalam pohon itu yang akan membuat kita salah berpikir bahwa ini buku anak. Iya, aku salah satu diantaranya, aku pikir buku ini akan menceritakan tentang seorang anak—atau paling tidak dengan kesedihan yang dirasakannya, lebih dari itu ternyata aku salah lagi.

“Maksudku, jika dilihat dari puncak segalanya, seluruh dunia bagaikan terbentang hanya untuk dirimu sendiri. Segalanya berada di kakimu. Kau hanya perlu melangkah untuk menghancurkan sesuatu, atau meraih untuk menyelamatkannya.” (hal. 93)
Ada empat cerita yang membuat aku kurang sanggup menamatkan buku ini. Cerita Dewa Kematian sepertinya membuat mood jadi kurang baik, makanya langsung baca bagian Orang-Orang Tanah—mengingat judul ini diambil menjadi judul buku. Tapi, aku pikir ini hanya pandangan aku, mungkin setelah kamu membacanya akan merasakan situasi yang lainnya. Baca selengkapnya di Orang-Orang Tanah, dan berhati-hatilah orang-orang tanah ada di sekelilingmu.

“Hampir semua orang menginginkanmu, atau kaulah yang menginginkan semua orang?” (hal. 96)
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
 
a book blog by @asysyifaahs