Showing posts with label Winna Efendi's Book Reading Challenge. Show all posts
Showing posts with label Winna Efendi's Book Reading Challenge. Show all posts

[Book Review] Unbelievable

Monday, May 5, 2014

"Just because everybody talks about something doesn't mean it's true. Rumors always sound so good to hear, until they're about you." (hal. 124)

Judul: Unbelievable
Skandal adalah kebenaran yang disembunyikan
Penulis: Winna Efendi
Penerbit: GagasMedia
Tebal: 262 halaman
ISBN: 978-979-780-379-7
Harga: Rp. 37.000,-
In the world of popularity, being perfect is everything. Kamu adalah pusat perhatian, jadi pastikan kamu memang layak mendapatkannya.

Kamu juga harus mengerti, tujuan tampil sempurna adalah demi dibenci. Di dunia kami, dibenci dan dicemburui adalah sebuah pujian. So true, Dahling! Orang-orang seperti tak bosan bergosip tentang Paris Hilton, tetapi apa yang dia dapat di kemudian hari? Kontrak reality show sendiri dan signature perfume yang dijual di seluruh dunia.

Cantik itu wajib hukumnya dan kesempurnaan adalah segalanya. Pastikan kau selalu tampil memesona dan bungkam mereka dengan senyuman terbaikmu. Satu kesalahan kecil sajavoila! bibir-bibir ber-lipgloss itu pasti ramai menghabisimu...

Bagaimana jadinya kalau ternyata sahabatmu ternyata musuh terdekatmu? Shinna Maessa Wijaya alias Maybella Wijaya, bisa dibilang punya kehidupan yang serba sempurna. Wajah indo yang cantik, postur tubuh yang ideal, anak orang kaya, fashionista sejati, dan punya 'akses' tersendiri untuk kenal dengan orang-orang dari 'kalangan atas'walau nggak bisa dipungkiri, dia sedikit kurang dalam hal akademis, dan party girl yang cenderung (nyaris, hampir, mendekati) bad girl *oops*.

May adalah one of the most popular girls in schoolVoltaire International School. Bersama dengan clique-nya, ada Rashida Agashi Pradakso, si leader yang juga anak konglomerat, dan punya fashione line sendiri--IshshI, punya 'kekuasaan' di sekolah, dan nggak ada satu orang pun yang bakal berani menantangnya, kecuali kalau orang itu mau cari mati. Ada juga Ad--Adrianna Fernandhita Fauzi, si tomboy yang ikut ekskul sepakbola, kurang berbakat dalam hal fashion, tapi masih dibilang pintar diantara dua temannya. Dan jangan lupa, Marion Theroux, anggota clique yang pernah didepak gegara punya masalah sama Rashi, dan kemudian diterima lagi dengan alasan yang aku lupa lagi gimana ceritanya.

May pernah berniat untuk menyingkirkan Rashi menjadi queen bee di sekolah, dia iri dengan Rashi yang selalu menjadi pusat perhatian di VIS. Akhirnya, dengan rencana bareng Marion, dia mulai menjalankan 'aksinya' untuk menghancurkan reputasi Rashi, mulai dari merencanakan anonymous hate mails yang dimasukkan ke loker Rashi, gosip-gosip yang dituliskan di dinding toilet cewek dan cowok, membuat petisi konyol, bahkan sampai menyebarkan tragedi yang terjadi dalam keluarga internalnya Rashi. How desperate it!

Semua berjalan baik-baik saja, nggak ada yang tahu-menahu tentang dark secret-nya May, sampai akhirnya Marion mulai mengancam May kalau sampai dia nggak nurutin kemauan Marion, semua rahasia itu bakal terkuak, dan kehidupan May yang sempurna, reputasinya, clique-nya, dan segalanya... akan hancur. Dan mau nggak mau, suka nggak suka, May nurutin apapun yang diinginkan Marion.

Tapi, yang namanya cerita nggak berakhir sampai situ aja. Ada cerita May dengan Mario (I won't tell you about it), Zico, dan beberapa cowok yang menjadikan May menyandang gelar 'playgirl'. Hmm... just read it, yeah!!

***

Ini seri The Glam Girls pertama yang aku baca, entahlah, padahal pertama kali terbit saat aku masih duduk di kelas 6 SD, 5 years ago. Ekspetasi awal sih, ceritanya bakal sama dengan cerita kebanyakan, err... maksudku kehidupan remaja masa kini dengan segala dunia dan tetek-bengeknya, datar-datar aja kalaupun ada konflik paling nggak seberapa.

Cuma, entah aku yang teramat polos dan plebeian-nya, atau ceritanya yang 'anak kota' banget, rasanya kurang pas. Aku sih berharap, jangan sampai cerita ini dengan segala-galanya benar-benar ada di Indonesia, cukuplah jadi imajinasi penulisnya aja. Tentang May yang (menurutku) super-duper playgirl-nya, bukan iri lagi saat dia bisa deket sama banyak cowok dalam waktu sekaligus, tapi lebih kepada "Aww, man, it's so... awkward for me! Yeah, just for me!" Anak SMA tapi rasanya udah 'liar' banget, kayaknya yang di pikirannya cuma fashion, party, and boys! No more about study. Hiii...

Terlebih, tentang sekolah Voltaire International School, atau mungkin semua bagiannya lebih mengedepankan aspek popularitas, kemewahan, dan materi. Huft... kalau dibandingkan dengan aku, jaraknya akan sangat-teramat-jauh. Ditambah dengan prokem Amerika dan kalimat berbahasa Inggris dalam ceritanya, kadang bikin puyeng sendiri, kan nggak semua orang bisa ngerti bahasa Inggris [atau setidaknya Indoglish]?

Terlepas dari itu semuayang bisa dibilang ketidaksukaan, eh ralat, kekurangsukaan aku sama ceritanya yang membatasi antara si 'atas' dan si 'bawah'aku masih suka dengan jalan cerita dari tulisan Kak Winna ini. Di luar keikutsertaan aku dalam Winna Efendi's Book Reading Challenge ini, masih bisa dikatakan aku suka-suka aja ya sama ceritanya. Jarang lho ambil POV dari tokoh yang jadi sidekick-nya si leader, yang biasanya cuma dijadikan 'pemanis cerita' dan 'pelengkap tokoh' aja.

Pada akhirnya, dengan ending yang cukup, aku rasa Unbelievable masih dikategorikan buku yang aku minati, di luar kalimat-kalimat pendeskripsian tentang fashion yang dipakai May, Rashi, Ad, Marion, dan tokoh-tokoh lainnya, yang nggak bisa aku bayangkan sama sekali, aku buta fashion, please!! Yang aku tahu cukup baju, celana, rok, kerudung (khimar, jilbab, pashmina), dan sederet kata yang umum banget dipakai orang.

Hmmm... tidak mengecewakan, ★★★ untuk buku ini, dan... you shouldn't give a shit about what people are saying. I don't.


[Book Review] Ai by Winna Efendi

Tuesday, April 15, 2014

Jatuh cinta untuk pertama kalinya sangat aneh, perasaan yang kuat, semacam energi yang mampu memberikan kita keberanian untuk berbuat apa saja. (hal. 216)

Judul: Ai
Penulis: Winna Efendi
Penerbit: GagasMedia, 2013 (Cetakan ke-9)
Tebal: 288 hlm ISBN:979-780-307-4
Harga: Rp41.500,-

Blurb...
Cinta seperti sesuatu yang mengendap-endap di belakangmu. Suatu saat, tiba-tiba kau baru sadar, cinta menyergapmu tanpa peringatan.
SEI
Aku mencintai Ai. Tidak tahu sejak kapan mungkin sejak pertama kali dia menggenggam tanganku aku tidak tahu mengapa, dan aku tidak tahu bagaimana. Aku hanya mencintainya, dengan caraku sendiri.
AI
Aku bersahabat dengan Sei sejak kami masih sangat kecil. Saat mulai tumbuh remaja, gadis-gadis mulai mengejarnya. Entah bagaimana aku pun jatuh cinta padanya, tetapi aku memilih untuk menyimpannya. Lalu, datang Shin ke dalam lingkaran persahabatan kami. Dia membuatku jatuh cinta dan merasa dicintai.
 
Thoughts...
Baca Ai ini sebenarnya sudah sejak lama, sekitar satu bulan yang lalu kalau nggak salah. Maafkan, soalnya pas selesai baca nggak langsung bikin resensi, bukunya malah disembunyikan Mamah xD Ini kedua kalinya baca buku Winna Efendi, yang Refrain udah aku buat resensinya belum ya? :/ Aku dapat bukunya dari Gita, sebagai ganti hadiah presentasi itu, covernya lebih unyu dari cetakan sebelumnya, warna pink menggelora.

Ada dua sudut pandang yang ditulis dalam buku ini, Sei dan Ai. Awalnya, ragu untuk bisa memposisikan diri membaca dari sudut pandang Sei di awal cerita, karena terlalu biasa membaca dari segi seorang perempuan. Tapi... ternyata asyik juga, setidaknya begitu, bisa memahami perasaan seorang laki-laki ketika menghadapi perempuan. Akhirnya aku tau!

“Menangislah sampai puas. Aku akan meminjamkan bahuku hingga kau merasa lega.” (hal. 180)

Diawali dari cerita Sei dan Ai yang mengenal satu sama lain sejak kecil, sepasang sahabat yang dipertemukan karena nasib. Apalagi, saat membaca bagian ketika hamster Sei mati, lucu sekali ketika membayangkan dua orang anak kecil memperhatikan binatang sebesar tikus itu, lalu menguburkannya. Hohoh... Kebahagiaan itu tidak berlangsung lama. Selalu ada sesuatu yang hilang dari kehidupan kami... (hal. 202)
Banyak orang menganggap mereka seperti kakak-adik. Namun, di balik perbedaan umur mereka yang hanya terpaut satu tahun, lucu sekaligus absurd juga kalau menjadikan Ai sebagai kakak perempuan dan Sei sebagai adik laki-laki. Tidak semudah itu merumuskan hubungan mereka. Walaupun Ai terkadang berlagak dewasa dan bertindak seperti kakak yang menyuruh-nyuruh adiknya, banyak kejadian saat Sei yang berlaku sebagai kakak, menyayangi dan melindunginya. Mungkin itu karena Sei laki-laki dan Ai perempuan. Ai yang ceroboh, Ai yang kadang menangis jika terjatuh, Ai yang selalu lupa mengerjakan pekerjaan rumahnya. Ai yang memberontak dan dimarahi ayahnya, Ai yang jatuh cinta pada pemuda sekelasnya, lalu patah hati. Di saat-saat seperti itulah, Ai membutuhkan Sei, dan Sei perlu menjaganya layaknya seorang kakak, sekaligus seorang teman. Orangtua mereka menganggap mereka berdua memiliki hubungan kompleks yang unik. Bahkan, Sei tidak sedekat itu pada kakak perempuannya, Risa, yang tiga tahun lebih tua darinya. Sei sendiri tidak tahu bagaimana menjelaskan hubungan mereka. Sei membutuhkan Ai, sama seperti Ai membutuhkannya. Mereka tidak terpisahkan dan Sei kira mereka akan selamanya begini.
Setiap orang yang pernah hadir dalam hidup kita akan selalu meninggalkan jejak. (hal. 202) “Suatu saat nanti, kau pasti akan jatuh cinta pada seseorang. Dan, ketika saat itu tiba, jika laki-laki itu melukaimu, aku akan menghajarnya.” (hal. 220)

Ai dan Sei bersahabat, dan selalu melakukan banyak hal secara bersama-sama, dan... datanglah Shin dari Tokyo yang menambah serunya jalan cerita. Ada banyak hal tentang Shin yang selalu membuat Ai dan Sei tertarik, cerita Shin mengenai kebiasaan orang-orang di Tokyo, gedung-gedung pencakar langit, shinkansen yang selalu padat, hingga hal-hal yang dapat membuat keduanya terkejut, robot Aibo, laptop Shin, dan cerita mengenai Ouija Board. Pernah mendengarnya? Aku juga pertama kali tahu dari buku ini :D

http://www.gadis.co.id/gaul/ngobrol/jangan.mainmain.dengan.ouija.board/001/007/285

Nuansa Jepang-nya kerasa banget, ada pengetahuan juga yang bisa kita ambil, tentang teru-terubozu si boneka kain untuk menangkal hujan, Hanami, Yozakura, dan lainnya. Nggak heran juga sih kalau cetakannya udah sampai yang kesembilan (versi yang aku baca). #HACEP Lebih dari itu, silahkan baca sendiri, nggak nyesel juga sih, karena ★★★★ untuk buku ini.  

Well, ada banyak kutipan menarik yang bisa diabadikan, beberapa diantaranya:
1. Masing-masing orang memiliki cara yang berbeda dalam menyiasati kehilangan. Kehilangan karena patah hati masih lebih baik daripada kehilangan orang yang disayangi akibat kematian, menurutku, karena pada kasus yang kedua kita tidak mampu melihat orang itu lagi. Seberapa ingin pun kita ingin menggapai dan mendengar suara mereka lagi, hal itu tidak akan pernah terjadi. Orang-orang yang ditinggalkan juga lebih menyedihkan, karena mereka tidak bisa berbuat apa-apa. (hal. 157)
2. Aku menyesal menjadi seorang pengecut yang melarikan diri, yang tidak bisa mengakui perasaannya sendiri, lalu melukai orang lain yang mencintainya dengan tulus. (hal. 163)
3. “Menurutku pemandangan langit dan laut di pagi hari adalah yang paling indah. Para nelayan berangkat untuk melaut, embun pagi menetes melalui sudut-sudut daun, dan langit perlahan-lahan berubah cerah, seakan menyimbolkan harapan baru.” (hal. 184)
4. Tapi, kami sama-sama tahu, manusia yang telah ditinggalkan dan kehilangan tidak akan pernah merasa sama lagi. (hal. 208)
5. “Kehilangan memiliki cara tersendiri untuk mengubah orang-orang yang mengalaminya, tapi melarikan diri tidak pernah menyelesaikan apa-apa.” (hal. 252)
6. “... Tapi, sesulit apa pun, hidup harus terus berjalan. Hidup tidak punya waktu untuk menunggu orang-orang yang tidak siap melanjutkan sisa kehidupannya.” (hal. 253)
7. “Cinta seperti sesuatu yang mengendap-endap di belakangmu. Suatu saat, tiba-tiba, kau baru sadar cinta menyergapmu tanpa peringatan.” (hal. 104)
8. “Masa-masa sulit selalu membuat kita ingin menyerah. Tapi, kau hanya perlu percaya bahwa segalanya akan baik-baik saja.” (hal. 144)
9. “... Aku harus melindungi apa yang kupunya sekarang. Apa yang tersisa, apa yang berharga –aku tidak bisa mengabaikannya, dan aku harus bangkit menjaganya.” (hal. 153)

Dan terakhir, mengingat salah satu kalimat di halaman 117 ini, “Aku hanya mencintainya, dengan caraku sendiri.” rasanya kembali terkenang dengan puisi yang pernah dibuatkan seseorang;
Aku mencintaimu tak peduli betapa cepat waktu mengejarku
Aku mencintaimu seperti edelweis yang rela jiwa-jiwanya pergi hanya karena tidak ada cara lain untuk mencintaimu
Aku mencintaimu… bahkan hingga kelopak mataku tertutup selamanya, rasa ini akan tetap bersinar di ujung jagat raya
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
 
a book blog by @asysyifaahs